Seputar Kudus : Jalan Jendral Sudirman Kini Dua Arah

Dear all,

 

Seputar Kudus ala aku kali ini ingin memperkenalkan jalur baru ๐Ÿ˜Š Iya, mulai kemarin, Senin, 26 September 2016, Jalan Jendral Sudirman dari arah Penthol hingga Alun-alun Kota dan sebaliknya diujicobakan untuk jalur dua arah. Sebelumnya, jalur tersebut hanya digunakan satu arah, yaitu dari Alun-alun Kota ke arah Pati saja.

 

Sejak kemarin pula, sepanjang jalur tersebut dipasang pembatas untuk pemisah jalur. Jajaran Polres Kudus bersama Dishubkominfo Kudus juga mulai memperkenalkan pemberlakuan jalur dua arah tersebut kepada pengguna jalan. Jalan Jendral Sudirman akan dapat dilalui dua arah sepanjang hari, kecuali pukul 06.00-08.00. Catat ya, kecuali pukul 06.00-08.00 karena merupakan jam berangkat sekolah dan masuk kerja. Selebihnya, baik kendaraan roda dua maupun roda empat dapat melalui jalur tersebut dengan leluasa.

 

Menurutku, thats good idea ya๐Ÿ˜‰ memberlakukan dua arah untuk jalur tersebut. Mengingat, Jalan HOS Cokroaminoto akhir-akhir ini memang sering padat merayap. Karena menjadi jalur utama di dalam kota menuju arah Alun-alun maupun Semarang. Pemberlakuan jalur dua arah tersebut diharapkan mampu mengurangi kepadatan yang sering terjadi di Jalan HOS Cokroaminoto. Selain itu, juga dapat memotong jarak dan waktu tempuh kendaraan dari arah Timur yang hendak ke Alun-alun.

 

Namun, membelah Jalan Jendral Sudirman menjadi dua arah tentu punya konsekuensi dan kendala. Konsekuensinya, jalur akan lebih sempit untuk kedua arah. Sedangkan kendalanya adalah kebiasaan parkir, mobil, terutama, di kanan dan kiri sepanjang jalan Jendral Sudirman tentu akan membuat jalur menjadi semakin sempit. Terutama di sepanjang jalan dari arah Alun-alun sampai Polres Kudus, dan di sekitar Pasar Kliwon.

 

Untuk daerah sekitar Pasar Kliwon, biasanya memang sepanjang jalannya dipenuhi oleh parkir kendaraan roda empat. Mungkin ini hanya akan terjadi sampai gedung parkirnya jadi saja, ya๐Ÿ˜‰ Semoga๐Ÿ˜Š Sekarang, gedung parkirnya sedang dalam tahap pembangunan. Kemudian, sepanjang jalan di sekitar Polres Kudus yang biasanya dipenuhi parkir kendaraan roda dua maupun empat, tadi pagi ketika aku lewat sudah bebas parkir ๐Ÿ˜Š

 

Hanya saja, di jalan sekitar Sekolah Cahaya Nur dan ruko sekaligus perkantoran di sebelah Barat Kodim, memang sepertinya masih butuh waktu untuk dibebasparkirkan. Karena memang tidak ada kantong parkir yang luas di daerah tersebut. Terutama ketika jam pulang sekolah, karena sebagian besar penjemput siswa dari Sekolah Cahaya Nur biasanya menggunakan kendaraan roda empat. Tapi, setelahnya akan lancar kembali. Karena memang tidak terlalu banyak aktivitas parkir di sepanjang jalan tersebut.

 

Nah, semoga kedepannya, ada solusi dari pihak-pihak terkait untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga, pemberlakuan jalur dua arah di Jalan Jendral Sudirman Kudus ini tidak menimbulkan permasalahan baru. Dan semoga pengguna jalan juga semakin taat dan sadar berlalu lintas๐Ÿ˜‰

 

Semoga bermanfaat.

 

With love,

Tita

2016-09-27-01-23-56.jpg

Menangis Sendiri

…………………

Aku terbangun di malam hari

Dan hanya mendapati

Bawasannya aku ini

hanyalah seonggok daging

Yang tiada punya arti

 

Meresapi sendiri

Lika-liku hari yang tiada aku pahami

Carut-marut hidup yang tiada terperi

Butir-butir perih mulai basah di pipi

 

Ternyata

Di malam yang lelap sunyi

Semua terasa lebih

Mencermati satu demi satu

Mencecapi bait demi bait

Malah jadi sakit di hati

Dan menetes lah lagi

 

Tetap kunikmati sepi

Kubayangkan untaian diri

Makin lama makin menusuk naluri

Tapi apa peduli

Lalu kubiarkan kembali

Meneteslah dan basahi sukma ini

 

Barangkali,

Luka menjadi terobati

Dan jiwa menjadi bersih

…………….

01.30

27.09.16

…………….

With love,

Tita

picsart_09-19-11.36.23.jpg

Belajar Mendidik Anak ala Game Edukatif di Android

โ€‹Dear all,

Apa kabar hari ini?

Kali ini sih, ceritanya aku iseng mau menulis parenting, belajar mendidik anak ala game edukatif di Android ๐Ÿ˜€ Ya, bisa dibilang gitu, lah ๐Ÿ˜€ Sudah lama juga ngga nulis tentang parenting, tentang anak-anak. Terakhir bicara parenting waktu anakku baru satu, sekarang sudah dua ๐Ÿ˜€ Lama juga, yak ๐Ÿ˜‰

Parenting kan memang tidak ada sekolahnya. Tapi, mau tidak mau kita harus paham hal ihwal pengasuhan anak atau parenting ini. Subyek sekaligus sumber belajarnya sebenarnya mudah dan dekat sekali dengan kita, yaitu anak kita sendiri๐Ÿ˜€ Tinggal kita yang menemukan sendiri “seni” dalam mengasuh anak-anak kita.

Sejatinya, ilmu-ilmu parenting yang ada, termasuk tulisan-tulisan parentingku sendiri juga belum tentu sesuai ketika diterapkan untuk anak-anak lain. Tidak bisa dipaksakan harus bisa! Dan tidak pula bicara tentang salah atau benar! Karena anak adalah individu yang unik, spesial, berbeda satu sama lain ๐Ÿ˜€  Hanya saja, pengetahuan tentang parenting bisa dijadikan acuan atau masukan untuk kita. Selanjutnya, mengasuh anak tetaplah “seni” dari kita masing-masing.

Seperti yang akan aku tulis ini. Aku terinspirasi dari sulungku Aisyah ketika sedang bermain game edukatif di tabletnya. O ya, Aisyah memang aku perbolehkan bermain game edukatif, ya ๐Ÿ˜€ Tidak ada yang salah dengan game edukatif.  Yang penting kita harus memberi “rule” yang jelas agar anak paham kapan boleh memainkannya dan game edukatif yang bagaimana yang boleh didownload anak di gadget nya.

Nah, di game edukatif yang dimainkan Aisyah, kebetulan aku punyanya gadget berbasis Android, makanya tulisanku ini jadi punya judul, parenting belajar mendidik anak ala game edukatif di Android ๐Ÿ˜Š Aku tertarik pada dua hal. Yang sebenarnya akan sangat bermanfaat apabila bisa terus diterapkan dalam keseharian kita ๐Ÿ˜€

  • Pertama,

Pernah lihat game edukatif di Android, kan ya? Atau setidaknya saat kita akan memberi lampu hijau pada anak untuk memainkannya kita tentu sudah memeriksanya terlebih dahulu, bukan? Iyah, anggap saja semua sudah tau ๐Ÿ˜€ *ujungnya maksa* ๐Ÿ˜

Di game edukatif tersebut, ketika anak menjawab dengan benar, pasti akan ada suara muncul seperti “bagus”, “kamu benar”, “pintar”, “wonderful”, “smart”, “good job”, “horrey”. Nah, kata-kata semacam itu adalah pujian atau penghargaan kepada anak ketika anak menjawab dengan benar. Setelah mendapat kata-kata tersebut anak pasti makin semangat melanjutkan permainan, bukan?

Apalagi kalau ditambah gambar visual seperti kembang api bertebaran atau balon warna-warni bermunculan, anak pasti akan makin semangat. Kalau Aisyah, dia pasti akan berteriak “horeee” atau “yes” dengan wajah yang berseri-seri ๐Ÿ˜€

Bagaimana kalo dalam kehidupan sehari-hari kita juga mengikuti cara game edukatif tersebut dalam memberikan penghargaan pada anak? Jadi, ketika anak melakukan satu hal yang baik, yang benar, yang positif, kita berikan penghargaan.

Ini tuh seperti reward lah. Ingat kan, reward and punishment untuk anak? Aku pernah tulis di sini ๐Ÿ˜€ Kata-kata seperti “pintar”, “bagus”, “great”, atau “good job” kita ungkapkan pada anak ketika mereka melakukan hal baik. Tak usah pelit, lah. Cuma kata aja, kok. Sesering mungkin pun tak masalah ๐Ÿ˜€

Asal, kita mengungkapkan dengan segenap hati. Dengan  tersenyum sambil menatap matanya, memegang pipi atau pundaknya. Kita beri penghargaan sekaligus kita sentuh hatinya. Anak pasti akan termotivasi untuk melakukan hal baik dan benar lagi dikemudian hari. Karena anak tahu, ketika ia melakukan hal baik, ia akan dapat perhatian dari Bundanya, akan dapat kehangatan dari Bundanya.

Jangan sampai, ya๐Ÿ˜€ kita memberi penghargaan pada anak, bilang “bagus”, “pintar”, dan lainnya tapi sekilas saja. Sambil kita pegang gadget, melihat sekilas, manggut-manggut, bilang “pintar”, tapi langsung liat gadget lagi atau sambil menyentuh layar gadget ๐Ÿ˜ Ha ha jangan, ya Bun! Don’t try that at home ๐Ÿ˜€ Anak-anak itu peka. Mereka bisa tau kapan kita sungguh-sungguh dan kapan kita mengabaikannya.

  • Kedua,

Ketika bermain game edukatif dan anak melakukan kesalahan, game nya pasti akan bilang “kamu salah” atau “wrong answer”. Lalu, apa selanjutnya? Game nya akan bilang lagi, “silakan coba lagi” atau “please try again”. Apa yang bisa kita terapkan dari sini?

Ketika anak melakukan kesalahan, kita harus mengatakan kesalahannya. Atau ketika anak melakukan sesuatu kemudian gagal, kita harus beritahu, iya ini gagal. Tapi, kemudian kita ikuti dengan memberikan motivasi agar anak mau melakukan hal yang benar atau mau berusaha lagi ketika sebelumnya pernah gagal.

Agar apa? Agar anak tahu kesalahannya dan belajar dari situ untuk selanjutnya bisa melakukan hal yang lebih baik. Ketika anak gagal, ia jadi tahu, iya bisa gagal, gagal itu ada, agar anak juga siap menerima kegagalan. Karena anak yang tidak pernah merasakan kegagalan, tidak pernah diberitahu tentang kegagalan, dikemudian hari anak tidak terbiasa dan akan sulit mengelola “perasaan” apabila ia mengalami kegagalan.

Jadi, sekali dua kali, biarlah anak merasakan kegagalan atau menikmati kesalahannya sendiri. Tapi, selanjutnya kita motivasi, “its okey, lets try again”, “lets do better”, “ayo coba lagi”, “ayo jadi lebih baik”, “ayo lakukan yang benar”. Motivasi terus agar anak tetap percaya diri. Agar anak merasa tidak sendiri. Ada kita, orang tua, yang siap menerima bagaimanapun hasil dari mereka. Dan siap bekerja keras untuk memotivasi agar menjadi lebih baik ๐Ÿ˜Š

“Tarik nafas dulu” Menggebu-gebu, ya? ๐Ÿ˜€ Untuk anak, semangat kita memang harus menggebu-gebu. Agar anak juga ikut semangat, ya kan? ๐Ÿ˜€ Cuma dua hal, tapi panjang banget, ya Bun? ๐Ÿ˜€ He he iya, lumayan, ya? ๐Ÿ˜Š “lap kringat pake daster ” ๐Ÿ˜€

Tak apalah, semoga dibaca sampai habis, ceritaku tentang parenting, belajar mendidik anak ala game edukatif di Android ini ๐Ÿ˜€ Tulisan ini juga sekaligus jadi “reminder” bagiku agar aku bisa terus istiqamah pada kedua buah hatiku๐Ÿ˜€

Semoga bermanfaat.

With love,

Tita

2016-09-17-05-39-24.jpg

Kuliner Kudus : Seblak Bandung Pedas Hot

โ€‹Dear all,

Happy weekend ๐Ÿ˜€

Mau cerita kuliner Kudus lagi nih sekarang. Mumpung weekend๐Ÿ˜‰ Yang mau hang out kuliner, aku punya makanan yang cocok buat dicobain this week, yaitu Seblak Bandung Pedas Hot ๐Ÿ˜‰

Yah, seblak. Masih lumayang jarang ditemui di kotaku. Awalnya nemu tempat makan ini karena dicritain ama adikku yang bontot. Aku penasaran juga, seblak tuh makanan apa sih? Pernah lihat sebelumnya, ada warung seblak yang pakai mobil ngetem di salah satu sudut kotaku. Ada juga warung seblak di dekat sekolah Aisyah. Tapi karena ngga tau itu makanan jenis apa, jadi belum tertarik๐Ÿ˜

Yang ini karena tempatnya kebetulan tidak jauh dari rumah. Dan baru buka pula. Tapi, kayaknya kok yang beli udah ngantri banget๐Ÿ˜ Penasaran juga jadinya ๐Ÿ˜€Aku pun langsung cuus ke tekape bareng adik bontotku๐Ÿ˜ Mumpung ada kesempatan, sekalian aja aku interview mas-mas nya yang bikin. Cieee interview๐Ÿ˜œ Seblak tuh makanan apa, sih?

Jadi, gini๐Ÿ˜€Ceritanya, namanya Seblak Bandung, tapi sebenarnya ini adalah salah satu cabang waralaba yang pusatnya di kota hujan sana๐Ÿ˜Š Seblak ini kategorinya seblak basah๐Ÿ˜€ Berarti ada yang kering, ya ๐Ÿ˜“ He he ada [mungkin] tapi aku ngga tau๐Ÿ˜Seblak yang ini intinya kerupuk mentah direndam air๐Ÿ˜€ Hah, just that? Ya ngga dwong ๐Ÿ˜‰ 

Seblak Telur Bakso

Seblak versi yang ini tuh isinya kerupuk mentah yang direndam pakai air. Kalau di tempat aslinya sana, dipusatnya sana, di Bogor, pakainya kerupuk tengiri, tapi di sini pakainya kerupuk udang. Biar ngga terlalu ikan rasanya. Trus dimasak bersama makaroni, kwetiaw, telur, kol, dibumbuin, dan ada bahan tambahan pilihan seperti sosis, jamur, bakso, atau ceker. Tidak lupa, cabe yang diblender biar sesuai ama namanya, Pedas Hot ๐Ÿ˜จ

Cocok banget buat yang lagi galau tuh pedesnya๐Ÿ˜€ Kalau aku yang pesen sih mintanya pedas hot yang level paling bawah atau level bawah tanah sekalian๐Ÿ˜ Bukan penggemar pedas soalnya. Cuma penasaran aja sama yang namanya seblak๐Ÿ˜ Soalnya, dari sananya, seblak ya memang identik dengan rasanya yang pedas๐Ÿ˜€ Kata mas-mas nya yang jual sih gitu ๐Ÿ˜

Aku udah dua kali beli seblak ini. Pertama, telur sosis. Kedua, telur bakso. Kalau disuruh milih, aku lebih milih telur sosis, rasanya lebih enak. Lebih nyummyy, so delicious ๐Ÿ˜‹ Kalau telur bakso, aku agak kurang suka baksonya๐Ÿ˜” Rasanya ikan banget ๐Ÿ˜ Potongan baksonya besar-besar lagi, jadi dominan banget rasanya.

But, aku recomended buat dicobain, nih. Selain rasanya yang enak, harganya juga masuk akal banget. Yang paling komplit aja cuman 12.000 rupiah, lho ๐Ÿ˜ Masih pas dikantong siapa aja, kan?

Nah, buat yang penasaran dengan kuliner kudus yang satu ini, coba deh, sore atau malam datang aja ke warung Seblak Bandung Pedas Hot di Jalan Jendral Sudirman, Ruko Ngasirah, Penthol, Kudus๐Ÿ˜€ Dijamin bakalan nagih, deh๐Ÿ˜‰

Semoga bermanfaat.

With love,

Tita

photostudio_1473478247567.jpg

Tips Agar Kakak Tidak Cemburu pada Adik

โ€‹Dear all,

How’s today?

Sudah lama sepertinya, aku ngga cerita tentang dua krucilku yang alhamdulillah cantik dan ganteng๐Ÿ˜Š Aisyah, yang pertama, sudah mau 6 tahun dan Luthfi, yang kedua, sudah mau 8 bulan. Duo kiddos ini makin menggemaskan, makin bikin geregetan๐Ÿ˜€ Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.

Sejak Luthfi lahir, aku pun harus pandai-pandai membagi waktu, membagi rasa, dan membagi perhatian untuk Aisyah dan Luthfi. Bukan apa-apa, sih, tapi sejak punya adik, Aisyah mulai agak jeles. Mulai sensitif dan lebih manja. Maklum, 5 tahun sendiri saja tanpa saudara, apa-apa sendiri, semua perhatianku dan Abi juga hanya untuk Aisyah sendiri. Tapi, sekarang Aisyah harus mulai berbagi dengan saudara. Berbagi dalam segala hal. Harus mulai belajar mengalah juga untuk adiknya.

Namun, hal itu tidak semudah membalik telapak tangan๐Ÿ˜€ Aisyah anak yang imajinatif, kritis, dan peka perasaannya. Banyak hal yang belum terlalu dimengerti oleh anak seusia Aisyah. Kita sebagai orang tua juga harus berusaha membantu agar Aisyah tidak merasa “tersaingi” dengan kelahiran adiknya.

Untuk itu, berdasarkan apa yang aku alami, aku pun mulai belajar mengenali kedua anakku. Diantara waktuku yang memang tidak bisa full day di rumah membuat aku agak kesulitan. Diantara emosi dan kelelahanku terkadang aku juga pernah khilaf. Tapi aku terus belajar. Mencoba menyelami keduanya dan mulai menemukan solusi-solusi untuk permasalahan yang aku hadapi. Aku pun kemudian punya tips untuk Bunda-bunda yang kebetulan punya masalah yang sama denganku. Nah, berikut tips agar kakak tidak cemburu pada adik ๐Ÿ˜Š

Pertama, kenalkan Sang kakak sejak adiknya masih dalam kandungan. Beritahu Sang kakak tentang keberadaan Sang calon adik. Beri pengertian positif pada Sang kakak agar mulai mengenal apa itu adik, apa itu saudara๐Ÿ˜Š

Setelah Sang adik lahir, beri Sang kakak waktu kebersamaan bersama adiknya. Biarkan Sang kakak bercengkrama dengan adiknya, membelai, memeluk, atau mencium adiknya. Saling mengenal, bercanda bersama agar terjalin ikatan batin yang kuat diantara keduanya.

Kedua, berusahalah untuk memberi perlakuan yang adil pada keduanya, Sang kakak maupun adik. Memang agak susah, ya. Apalagi saat Sang adik masih bayi dan benar-benar membutuhkan Bundanya. Tetapi, Sang kakak juga tetap butuh perhatian kita juga, bukan? Untuk itu, bekerjasamalah dengan Ayah. Kalau kita sedang sangat sibuk dengan adik, biar Ayah yang menangani Sang kakak. Bergantianlah, jangan sampai Sang kakak hanya merasa jadi anak Ayah ๐Ÿ˜€

Ketiga, sesibuk apapun kita dengan Sang adik, tetap berusahalah untuk memiliki “quality time” dengan Sang kakak. Sediakanlah waktu untuk sekedar mendengar ceritanya, melihat hasil gambarnya, atau menepuk-tepuk punggungnya. Percayalah, ini akan sangat berarti untuk Sang kakak. Karena Sang kakak sudah mulai bisa berfikir dan sudah mulai peka perasaannya.

Keempat, pujilah anak-anak dengan cara yang sama. Ini sepele, ya. Tapi, ini juga penting. Jadi begini, satu kali aku pernah memanggil anak lelakiku, “Anak Bunda ganteng pinter”. Ketika itu Aisyah berada di dekatku, spontan Aisyah pun tiba-tiba berujar, “Mbak Icha nggak?” ๐Ÿ˜€ “Oh,,!” Akupun agak tersentak. Dan sejak saat itu, aku mulai memuji kedua anakku dengan cara yang sama. Ketika aku panggil anak lelakiku ganteng, akupun juga memanggil anak perempuanku cantik. Begitu seterusnya.

Kelima, berusahalah mengontrol lingkungan yang terkesan membandingkan anak kita. Sudah pernah aku tulis di sini, ya๐Ÿ˜‰ Dan benar-benar aku alami sendiri. Cobalah dengan mengalihkan perhatian anak dari orang-orang yang hobinya membadingkan, pindah tempat, atau tertawa saja๐Ÿ˜€

Hal seperti ini sering terjadi. Terlebih pada kedua anakku, yang kebetulan berbeda postur. Aisyah ramping dan Luthfi agak berisi. Aisyah juga kritis, suka berbicara dan bercerita panjang lebar. Lingkungan seperti saudara, tetangga, teman, atau kenalan seringkali membandingkan Aisyah dan Luthfi.

Kalau sudah dibandingkan, Aisyah pasti akan berubah raut wajahnya. Untuk itu, kita jangan diam saja. Kalau kita tidak bisa mengontrol lingkungan yang seperti itu, berilah penjelasan pada Sang kakak, kalau di mata Ayah Bundanya, kakak dan adik sama. Tidak berbeda. Jangan malah memperkeruh suasana dengan membenarkan pendapat orang lain, ya๐Ÿ˜ž

Misalnya begini, “Eh si kakak kurus, buat adiknya semua ini badannya.” Lalu kita malah bilang, “Eh iya nih, ngga mau makan sih kakaknya.” Ha ha ha please, jangan ya, Bunda๐Ÿ˜‰ Hal itu akan berubah menjadi bumerang untuk anak kita. Karena kita sendiri yang mengatakan, justru akan memperberat beban Sang kakak. Jadi, berusahalah mengendalikan lingkungan. Jika tidak bisa, please jangan menambah beban Sang anak dengan mengamini saja pendapat orang lain di depan Sang anak ๐Ÿ˜‰

Keenam, ini tambahan, ya. Sometimes,๐Ÿ˜Š “sometime” ya, berikan pengakuan terhadap keberadaan Sang kakak yang terlahir lebih dahulu. Misalnya, ketika mandi, Sang kakak mandi terlebih dahulu baru adiknya. Bentuk pengakuan semacam ini bisa menumbuhkan rasa percaya diri dari Sang kakak. Bahwa dia diakui sebagai anak yang lebih tua. Meskipun dikemudian hari tak jarang kita akan memintanya untuk lebih mengalah dari adiknya. Anggap saja pengakuan tersebut sebagai kompensasi karena kita juga tak jarang memintanya untuk mengalah pada adiknya. Terasa lebih adil, bukan? ๐Ÿ˜€

๐Ÿ˜€ Itulah, beberapa tips agar kakak tidak cemburu pada adik yang aku selami sendiri dari kedua buah hatiku. Tulisan ini juga menjadi “reminder” bagiku agar aku bisa terus istiqamah pada kedua buah hatiku๐Ÿ˜€

Semoga bermanfaat.

With Love,

Tita