TRIP TO WONDERFUL DIENG PART 1

Berawal dari rasa ingin tahu, seperti apa sih dataran tinggi Dieng itu? Beberapa hari yang lalu, setelah menghadiri acara nikahan sodara di Purwokerto, dalam perjalanan pulang ke Kudus, kita pengen mampir ke Dieng.

Perjalanan dimulai dari kota Banjarnegara. Dari kota ini, ada jalan alternatif ke arah Dieng, selain masuk dari Wonosobo. Memasuki area pegunungan, melalui jalan dari kota Banjarnegara kita disambut udara sejuk sayup-sayup, hamparan sungai yang masih jernih, dan kebun salak di sepanjang jalan yang mulai menanjak dan meliuk-liuk.

Setelah disambut kebun salak di sepanjang jalan, pemandangan mulai berganti dengan pohon pinus dan tebing-tebing yang tinggi. Saat membuka sedikit kaca mobil, udara ternyata mulai menusuk, malah lebih dingin dari AC dalam mobil dan jelas lebih alami. Jalan semakin menanjak dan meliuk-liuk. Tapi memang harus ekstra hati-hati melalui jalur ini, karena di beberapa sudut ada titik rawan longsor dan jalannya juga tidak terlalu lebar, jadi harus bergantian lewatnya. Harus siap-siap obat anti mabuk juga he he bukannya apa-apa, tapi jalur yang dilalui memang terbilang ekstrim. Sebentar ada di kaki gunung, sebentar kemudian ada di puncak gunung. Sebentar menukik, sebentar kemudian menanjak meliuk tajam.

Satu jam menyusuri lereng, lembah, dan bukit dari arah Banjarnegara, kita disuguhi pemandangan yang sungguh menakjubkan..hamparan sawah di lereng gunung, yang lebih dikenal dengan istilah terasering, ditanami sayur-sayuran, cabai, daun bawang, dan bunga-bunga. Waah subhanallah, menakjubkan sekali pokoknya. Di kejauhan tampak puncak-puncak gunung yang hijau menjulang. Beberapa kelompok pemukiman penduduk dengan kubah-kubah masjidnya yang menyembul juga terlihat jelas ketika mobil berada di salah satu puncak gunung. Pemandangan yang sungguh indah..samar-samar ditutup kabut tipis yang mulai turun di terik siang membuat pemandangan tampak lebih dramatis he he. Pokoknya tidak kalah dengan pemandangan di sepanjang jalan di Puncak, Bogor atau di Lembang, Bandung.

Selain kebun sayur, hamparan kebun teh dan kebun tembakau yang ijo royo-royo menambah sejuk pemandangan. Serasa pengen buka jendela mobil terus, karena tidak puas hanya melihat dari dalam kaca mobil. Bunga-bunga liar yang tumbuh di sepanjang jalan berwarna putih, ungu, dan kemerahan membuat mata enggan terpejam. Wah, pokoknya pemandangan di sepanjang jalan ke Dieng melalui jalur Banjarnegara ini menakjubkan sekali, sebanding dengan rasa mual yang harus ditanggung he he..

Kira-kira dua jam perjalanan dari Banjarnegara, mulai tercium aroma yang agak menyengat, aroma khas dataran tinggi Dieng. Pipa-pipa panjang dan berukuran besar untuk penyulingan gas alam terbentang melintasi area persawahan. Pohon khas Wonosobo yang masih saudara sepupu pohon pepaya dan memiliki buah bernama carica berjajar rapi di tepi jalan. Beberapa nama kawah juga sudah mejeng di papan petunjuk jalan, seperti kawah candradimuka, yang dalam mitologinya terkenal karena digunakan untuk menempa Gathotkaca. Tapi tidak ada petunjuk berapa jarak yang harus ditempuh untuk bisa sampai ke kawah dan sepertinya jalan masuk ke kawah masih jauh banget jadi kita lewati saja dan lurus menyusuri jalan utama mencari komplek candi.

image

Memasuki area wisata Dieng, kita lewat pasar yang ramee banget..ampe meluber ke jalan raya juga..saking rame dan padetnya ampe gak sempat nyatet nama pasarnya apa. Nah, di sinilah, ketemu dengan hewan gendut yang mirip banget dengan “shaun the sheep”. Semacam domba atau biri-biri, berkaki pendek, bulunya tebal, ikal, putih ampe kaki, guenduutt banget he he. Kata orang di sekitar situ sih, itu memang jenis domba, tapi kataku itu domba “ebol-ebol” he he udah gendut, pendek lagi, lucu banget.

Kemudian bertemu dengan pom bensin kecil atau kita menyebutnya perta’mini’ he he pengen istirahat sebentar dan buang air tentunya..waah airnya dahsyaaattt, lebih dingin dari es hu hui duingin bangeeettt, suegerrr bangeeettt. Pas banget ada tukang bakso yang dipanggul lewat. Bakso Dieng..anget-anget..cocok banget buat ngisi perut sementara..harus nyoba..recomended banget ni bakso.

Isi komplit baksonya adalah irisan ketupat, mie kuning, 1 bakso buesar banget di dalamnya berisi telur 1/4, dan 1 bakso ukuran normal, cuma 6rb rupiah. Dan anehnya makan bakso di Dieng, kuah bakso panas banget, tapi baru sebentar di mangkok, langsung dingin he he..soalnya udaranya dingin banget ditambah aroma menyengat agak-agak busuk yang khas di Dieng ini. Harus nyoba deh pokoknya..

Nah, kemudian sampailah kita di area wisata Dieng. Ada banyak kawah, macem-macem, ada tulisan di papan petunjuk jalan tapi tidak ada penjelasannya berapa jarak dari jalur utama menuju kawah. Dari arah Banjarnegara, tidak ada peta wisata besar yang diletakkan di pinggir jalan untuk memudahkan wisatawan yang ingin berkunjung.

Mungkin ini masukan juga ya buat pemkab setempat agar menambah petunjuk di sepanjang jalan untuk memudahkan wisatawan yang emang belum pernah ke Dieng samasekali. Maklum, objek wisata di Dieng ini tidak berpusat di satu tempat saja, tidak semuanya berada di tepi jalan utama, melainkan terpisah-pisah dengan jarak yang bervariasi dan memiliki jalan masuk yang berbeda-beda.

Peta wisata justru baru kita temukan setelah kita ‘nyasar’ ampe Dieng Plateu Theater. Peta komplek wisata Dieng dan foto-foto masing-masing candi dan kawah ditempel di dinding bangunan serupa observatorium yang di dalamnya seperti bioskop dan memutar video tentang sejarah candi-candi Dieng dengan durasi kira-kira 23 menit. Cocok banget buat mahasiswa atau ilmuwan-ilmuwan sejarah. Tulisan petunjuk Dieng Plateu Theater di jalan masuk juga cuma ditulis di kayu kecil seadanya dan ditancapkan di sudut jalan masuknya. Ada satu tulisan besar tapi isinya “Dilarang Merumput Di sini Selain Pribumi” yang justru terlihat dengan jelas he he 😉 peace pak..

Yang jelas banget adalah objek wisata Telaga Warna..karena persis di tepi jalan utama. Dari pintu gerbang menuju kawah kira-kira hanya 100m. Masuknya cuma bayar tiket 6rb, tapi bisa juga masuk dari Dieng Plateu Theater, agak capek menuruni seribu anak tangga dan pepohonan yang rimbun tapi tidak perlu bayar alias gratis.

Di dalam komplek Telaga Warna ini, begitu kita masuk langsung disambut pengamen ‘broadway’, lagunya bagus-bagus, suaranya juga lumayan asik..asik he he cocok buat yang lagi pacar-pacaran. Sambil makan kentang goreng atau kentang rebus, waaah serasa di kayangan he he. Di tambah lagi hamparan telaga yang.. waaah subhanallah..bagus banget disertai dengan aroma khas gas alam Dieng di sepanjang telaga. Sebenernya aroma gas alam yang khas Dieng ini bikin gak nyaman juga sih, tapi karena udah terbius keindahan telaga warna, aroma gasnya jadi terabaikan. Disebut telaga warna karena telaganya memang berwarna-warni, ada hijau, biru, coklat. Menurut petugas di situ, perbedaan warna tersebut karena pengaruh organisme semacam lumut yang memenuhi dasar telaga. Subhanallah, takjub dengan kuasa Allah.

image

Berjalan agak masuk, ada beberapa gua dan telaga pengilon. Saat menyusuri jalannya kita serasa berada di lembah dikelilingi rawa yang terhubung dengan telaga pengilon tetapi tampak seperti daratan karena tertutup alang-alang dengan pemandangan lereng bukit yang lagi-lagi subhanallah..bagus banget. Telaga pengilon ini menurut cerita masyarakat, telaganya jernih banget, saking jernihnya ampe bisa dipake buat ngaca he he makanya namanya pengilon, dalam bahasa Indonesia artinya kaca atau ngaca. Tapi lagi-lagi, akses ke telaga pengilon belum ada, jadi cuma bisa melihat dari jauh samar-samar tertutup pepohonan.Sayang ya, jadi gak bisa ngaca deh he he..

Dari arah Banjarnegara tadi, sebelum sampai ke Telaga Warna ada juga tulisan di gerbang besar “Museum..” dikirain isinya memang hanya museum, kita tidak masuk, cuma melihat sepintas aja, tetapi setelah kita muter-muter secara tidak sengaja ‘nyasar’, masuk ke arah kiri dari jalan keluar Dieng Plateu Theater, ternyata di area yang gapuranya bertuliskan “Museum…” itu tadi, ada beberapa…….

Tunggu di “TRIP TO WONDERFUL DIENG PART 2”

With Love
Bunda Aisykha

Iklan

2 pemikiran pada “TRIP TO WONDERFUL DIENG PART 1

  1. Aleeya

    Lengkap bgt buug…:)
    yg mjd pertanyaan saya adalah beli memory’nya d mna bu?
    kok sampe detiL2nya terkelupas abizz,he
    Seru bu bacanya,serius,enjoy+ngakak:-D
    I’ll wait it season 2;-)

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s