“Megengan” di Ujung Ramadhan

Berjalan-jalan ke rumah teman di ujung Tenggara kotaku yang berbatasan langsung dengan kabupaten Pati dengan jarak 18km dari pusat kotaku. Perjalanan ditempuh dalam waktu 30 menit, agak lama memang, karena jalan yang dilalui kondisinya rusak dan berbatu.

Ada satu tradisi yang rutin dilaksanakan warga setempat ketika Ramadhan di ujung penghabisan. Tradisi ini adalah tradisi turun-temurun yang masih dipelihara dengan baik oleh warga desa Larik Rejo dan Karangrowo, kecamatan Undaan, juga desa Wotan, kecamatan Sukolilo, Pati, yang berbatasan langsung dengan kecamatan Undaan, Kudus. Aku yang kebetulan tinggal di daerah Kudus Kota samasekali tidak mengenal tradisi ini. Akupun kemudian berburu informasi dari masyarakat sekitar dan beberapa teman.

Tradisi ini dinamakan “Megengan”. Megengan dikenal masyarakat sebagai istilah Hindu yang artinya selamatan. Maklum saja, kota Kudus sedari awal memang kental dengan nuansa Hindu. Sebelum menjadi kota Kudus seperti sekarang, penduduk yang berdiam di daerah ini sebagian besar beragama Hindu. Kemudian, 2 wali Allah, Sunan Kudus dan Sunan Muria juga ulama-ulama lainnya pada waktu itu berjuang mengajarkan agama Islam di sini.

image

Salah satunya dengan cara tetap menghormati tradisi Hindu selama tidak mengganggu aqidah-aqidah agama Islam agar agama Islam lebih cepat diterima oleh masyarakat setempat. Buktinya, menara Kudus yang masih tegak berdiri hingga sekarang bentuknya merupakan perpaduan dengan bentuk Pura dan warga Kudus juga dilarang menyembelih sapi untuk acara-acara hajatan maupun hari raya Qurban yang masih tetap terjaga hingga hari ini. Sapi merupakan hewan yang dihormati oleh pemeluk Hindu.

Seiring bertambah dan beragamnya warga Kudus, termasuk di dalamnya para pendatang, di beberapa daerah di Kudus sudah ada yang menyembelih sapi pada saat hajatan maupun hari Raya Qurban. Meskipun demikian, sebagian besar masyarakat Kudus masih menghormati tradisi tersebut dan tetap memilih menyembelih kerbau. Kudus juga terkenal dengan sate dan soto kerbaunya lho.. Berminat? Call me ya :-p

image

image

Hu hu hu malah ngelantur kemana-mana ya.. just for your information aja siih..kembali ke topik,, 🙂

“Megengan” dalam pelaksanaannya adalah hajatan kirim doa untuk arwah leluhur yang telah meninggal dunia. Sepertinya biasa saja bukan? Semacam hajatan, isinya kirim doa, pulang membawa nasi berkat. Dimana keunikannya?

Nah, ini dia keunikan “Megengan” ala warga desa Larik Rejo, Karangrowo, dan Wotan.

Acara Megengan ini dilaksanakan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan (ada juga yang melaksanakan “Megengan” pada akhir bulan Sya’ban menyambut Ramadhan). Tidak hanya itu, masyarakat seolah saling berebut waktu untuk melaksanakan acara ini, karena biasanya hanya dilaksanakan pada tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Saking banyaknya warga yang ingin mengadakan acara ini di rumahnya, dalam satu hari (biasanya sore hari setelah Ashar sampai menjelang Maghrib) masing-masing warga bisa menghadiri 2-3 acara “Megengan” secara berturut-turut. Wah, satu orang bisa membawa pulang 2-3 nasi berkat untuk berbuka 🙂

Nasi berkat yang dibawa pulang ke rumah biasanya berisi nasi, ayam goreng, sambal goreng, tahu tempe goreng, acar, ikan asin, dan telur ayam rebus yang ditata dalam wadah bernama “senik” yaitu wadah berbentuk panci atau baskom tanpa tutup berdinding seperti jaring-jaring terbuka terbuat dari plastik atom ringan atau “besek” yaitu wadah berbentuk seperti kardus nasi terbuat dari anyaman bambu.

image

Wah, bisa-bisa pada setiap tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, warga tidak perlu memasak untuk buka puasa karena sudah dapat nasi berkat. Lumayan bisa berhemat untuk lebaran 🙂

Nah, itulah sedikit cerita tentang tradisi “Megengan”. Sejauh tidak merusak aqidah kita, tradisi sah-sah saja dijalankan dan dihormati. Seperti tradisi “Megengan” ini. Dengan niat awal mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal dengan cara mengundang sejumlah tetangga sekaligus bershodaqoh dengan memberikan nasi berkat sebagai ucapan terimakasih karena sudah berkenan hadir. Tradisi “Megengan” ini juga dapat mempererat tali silaturahmi dengan tetangga sekitar.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 pemikiran pada ““Megengan” di Ujung Ramadhan

    1. Kalo masalah itu belum ada jawaban pastinya miss 🙂 pas ditanya jawabnya udah turun-temurun dilaksanakan 10 hari terakhir ramadhan, pas tanggal ganjil terutama, di daerah lain ada juga yang diadain pas Sya’ban,,mungkin biar barokahnya lebih gede ya miss, kalo pas ramadhan 🙂

  1. hikmahua

    Aku suka banyak dapat cerita tentang Pati. Tapi, belum sempat ke sana. Padahal senang sekali jalan ke tempat-tempat baru dengan tradisi berbeda.

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s