Memori “Belik”

sampai kosong pandangku, terbawa kembali ke masa kanak-kanakku yang ceria, yang sangat sederhana, dan bersahaja.

image

perjalanan waktu menyusuri kembali lipatan demi lipatan memori di kepalaku dan sampailah aku pada anak tangga setapak dan hanya tersusun dari karung-karung berisi tanah yang ditata mengikuti kontur tanah yang menurun dan berliku. Pegangan di sisi kanannya hanya terbuat dari bambu-bambu yang dirangkai menyerupai pagar dan diikat dengan tali-tali rafia, tali sepatu, atau tali simpul pramuka lusuh dan telah berubah warna karena cuaca. Di sisi kirinya adalah tebing tanah dihiasi anyaman alam akar-akar bambu dan lumut yang seolah mencengkeram bumi dengan kuat.

Sambil membawa sebuah wadah plastik bekas tempat sabun colek yang disulap menjadi gayung, diisi kotak sabun mandi, sikat gigi dan “odol” (istilah jawa untuk pasta gigi), juga sebuah batu apung yang sangat berguna untuk menggosok daki di punggung dan kaki. Tak ketinggalan, handuk di kalungkan di leher agar tidak jatuh.

Bertelanjang kaki aku mulai menuruni anak tangga itu satu persatu, “alon-alon waton kelakon” (pelan-pelan yang penting sampai), begitulah kalimat yang selalu diucapkan embahku, mengingatkanku setiap kali akan menuruni anak tangga setapak, karena sedikit saja salah langkah, terpelesetlah hingga ke bawah. Sambil tetap berkonsentrasi, tawa dan canda sepupu-sepupuku yang lebih lihai menapakkan langkahnya, menyelinap diantara ruas-ruas bambu yang berjajar begitu lebat. Setengah jalan, sayup terdengar suara gemericik air mengalir di tengah suasana teduh berselimut rimbun daun-daun bambu.

Tak lama kemudian, tak ada lagi anak tangga yang harus aku turuni. Kakiku mulai menapak pada bebatuan basah dan sedikit berlumut. Dingin dan jernih air rembesan mengalir dari sela bebatuan. Diikuti gerak gesit ikan-ikan “cethul” (ikan-ikan kecil, biasanya hidup di sela-sela batu kali) dan satu atau dua ekor “yuyu” (masih family dengan kepiting, hanya saja sedikit lebih kecil dan hidup di sungai) mengayuhkan capitnya dari satu batu ke batu yang lain.

Menoleh sebentar, tampaklah olehku sebuah sumber mata air yang mengalir dari tebing tanah yang aku turuni tadi. Melalui sebuah bilah bambu, air mengalir cukup deras, aroma tanah yang khas samar tercium bersama jernihnya. Itulah yang disebut “belik”, tempat dimana sumber mata air alam dialirkan dengan sebilah bambu, ditampung pada sebuah lubang yang telah diisi kuali besar dari tanah kemudian digunakan untuk mandi atau mencuci dan langsung mengalir ke sungai. Disekelilingnya, batu-batu ukuran sedang hingga besar tertanam kuat oleh proses alam dan biasanya digunakan sebagai tempat duduk atau alas mencuci baju.

Otakku mulai bekerja lebih keras, matakupun memicing mengingat kembali jejak-jejak yang tersisa diantara anak tangga setapak itu, 20 tahun lalu.

Sapuan air kali nan sejuk dari sepupuku mendarat tepat dimukaku. Seketika mengembalikan aku ke tepi sungai yang sekaligus menjadi batas desaku itu. Aku melihat emakku dengan santai mencuci satu persatu baju yang dibawanya dalam sebuah ember besar tadi. Embahku masih tetap berada di atas mengawasi sekitar kalau-kalau ada orang yang iseng mengintip dari balik rimbunnya bambu. Biasanya, setelah kami selesai, barulah embahku turun untuk mandi. Sementara itu, dua sepupuku masih asyik membenamkan dirinya dalam “belik”. Tak lama, akupun ikut tergoda membasahi tubuhku dengan air segar itu. Dan benar saja, tubuh dan otakku kembali terasa begitu segar.

Akupun tersadar, 20 tahun berlalu begitu cepat, beberapa hal mungkin sudah terlupakan dan beberapa hal lainnya bahkan sudah menghilang dari kenangan itu. Segarnya air dari mata air tanah, suasana belik itu, anak-anak tangga itu, dan embahku. Embahku yang baik dan aku yakin sudah tenang bersama penciptanya sekarang.

Belik itu mengingatkan aku kembali pada kesederhanaan, kesahajaan,,kearifan,,juga harmoni,,sama seperti alaminya belik itu, kesederhanaan anak tangga dan bambu pegangan yang apa adanya, kearifan kalimat-kalimat embahku, dan harmoni gemericik air belik berpadu dengan canda tawa ceria. Sesederhana itulah hidupku dulu. Dan seperti apa aku sekarang?

Sungguh, waktu berlalu begitu cepat dan dunia bak roda yang berputar demikian keras. Ada yang menghilang dan ada juga yang datang.  Semua ini membuat aku menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang selamanya. Bahkan air belik yang dilahirkan sendiri oleh alam tak dapat bertahan selamanya. Dan anak tangga yang kembali menyembul di permukaan memori otakku setelah terpendam di kedalaman 20 tahun itu mengantar kembali pelajaran yang begitu berharga buatku.

Hidup itu harusnya “sederhana” saja, menyadari siapa diri kita, berusaha meraih tujuan hidup dengan cara yang benar, dan mensyukuri apa yang ada, karena semua pasti ada masanya.

Dan sekarang, masaku, dalam pencarian jati diriku. Menjadi apa kita sekarang adalah takdir Ilahi, tetapi ingin menjadi siapa kita sekarang adalah pilihan.
Dan kini lah masaku, bersama suami dan anakku, yang seharusnya juga menjalani hidup ini “sederhana” saja.

image

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

2 pemikiran pada “Memori “Belik”

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s