Rindu Kotaku yang Dulu

Firstly, selamat buat Jokowi-Ahok, gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih versi quick count, meskipun secara resmi KPUD Jakarta belum mengeluarkan keputusan, tapi barangkali hasilnya tidak akan jauh berbeda.

Kemenangan Jokowi-Ahok yang mengusung perubahan, kesederhanaan, membumi, seolah menjadi magnet yang menarik animo masyarakat dari berbagai kalangan untuk memilih. Atau mungkin, masyarakat memang sudah bosan dengan pola kepemimpinan yang sebelumnya. Apapun alasannya, kemenangan Jokowi-Ahok adalah inspirasi bagi calon-calon kepala daerah yang sedang bersiap maju dalam pilkada di daerah masing-masing.

Selain itu, keberhasilan Jokowi-Ahok menundukkan masyarakat Jakarta juga menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat di daerah untuk cerdas dalam memilih. Sekaligus menjadi bukti, bahwa masyarakat butuh perubahan, butuh semangat baru, butuh pemimpin baru yang dinilai dapat memperbaiki yang selama ini dianggap belum mampu dikerjakan oleh pemimpin sebelumnya.

Aku memang tidak ikut memilih di Jakarta, karena memang bukan warga Jakarta :). Hanya saja, Aku seperti tertarik magnet perubahan yang diusung Jokowi-Ahok. Dan aku teringat kembali pada kotaku tercinta.

Kotaku memang tak sebesar dan semodern Jakarta. Tapi bukan juga kota kecil yang biasa-biasa saja. Kotaku berada di salah satu titik di jalur utara Jawa. Industri rokok berskala kecil hingga besar menjadi gantungan hidup bagi hampir 60% penduduknya. Daya beli atau tingkat konsumerisme yang tinggi dari penduduknya menjadi magnet bagi brand-brand besar untuk berinvestasi di kotaku. Mall-mall hingga bisnis waralaba produk busana hingga makanan, laris manis di kotaku.

Utamanya, dua diantara 9 makam Sunan besar “Wali Songo” berada di kotaku. Sungguh suatu anugrah yang besar bagi kotaku. Dalam setahun, ribuan orang yang berkunjung ke kotaku. Pondok-pondok pesantren hafalan Al-Qur’an yang diasuh oleh Kyai-Kyai besar dikotaku pun terkenal hingga kemana-mana dan menjadi salah satu pusat studi Islam tertua di negri ini. Dan sedari dulu juga, nilai-nilai religius memang sudah tertanam dan menjiwai sendi-sendi kehidupan masyarakat di kotaku.

image

Dai-dai besar ibu kota, seperti Ustadz Arifin Ilham dan Ustadz Jefri atau Uje, pernah diundang untuk mengisi pengajian besar di pusat kotaku. Habib-habib besar seperti Habib Syeh dari Surakarta dan Habib Lutfi dari Pekalongan juga sering mengisi pengajian besar di alun-alun. Bahkan, Dai besar dari Timur Tengah juga pernah menggelar pengajian besar di alun-alun kotaku. Meskipun aku tidak begitu paham, karena menggunakan bahasa arab, tetapi suasana khidmad yang tercipta menjadikan kotaku terasa lebih adhem. Kotaku juga serasa lebih bercahaya.

Sayangnya, suasana adhem pengajian besar di alun-alun kotaku, mulai tidak terasa lagi beberapa tahun terakhir ini dan cahaya yang menerangi kotaku kini telah meredup. Kotaku pun serasa “kehilangan” salah satu identitas utamanya yaitu religius.

Meskipun demikian, toleransi antarumat beragama di kotaku dapat dikatakan sangat tinggi. Kami tetap bisa hidup berdampingan satu sama lain. Rasa saling menghormati dan menghargai tetap terpelihara dengan baik selama ini dan sekaligus mampu menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakatnya.

Kehidupan ekonomi masyarakat kotaku yang boleh dibilang di atas rata-rata memang masih perlu ditingkatkan lagi ke arah sejahtera yang menyeluruh. UMKM dan sektor-sektor lain juga perlu terus dikembangkan. Akan tetapi, nilai-nilai religius yang memang telah menjadi dasar masyarakat kotaku dalam bekerja juga masih perlu dipelihara. Alangkah indahnya bila semua bisa berjalan selaras dan seimbang, bukan? Meskipun mengatasnamakan kemajuan, nilai-nilai religius yang memang sudah menjadi “nyawa” bagi kotaku sedari dulu tidak seharusnya ditinggalkan begitu saja.

Aku jadi rindu pada kotaku yang dulu. Sederhana, religius, dan bersahaja. Kotaku yang “adhem ayem tentrem”. Sekarang pun masih “ayem tentrem” tapi tidak se”adhem” seperti dulu.

Mensejahterakan masyarakat atau memakmurkan masyarakat, dengan mencitrakan diri terhadap masyarakat, tentu saja berbeda. Karena itulah, terinspirasi pilkada kota Jakarta, semoga masyarakat di kotaku juga bisa lebih cerdas dan bijak dalam memilih. Memilih kepala daerah tidak seperti memilih kucing dalam karung.

Calon yang bersahaja tapi berkualitas, bermartabat, sekaligus mengerti birokrasi itu penting. Setidaknya, seperti profil Jokowi-Ahok itulah. Yang terpenting cermatlah memilih pemimpin yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat, bukannya pemimpin yang justru mengambil manfaat dari masyarakat.

Sekali lagi, aku rindu kotaku yang dulu. Dimana nilai-nilai religius selalu menjadi dasar mengepakkan sayap menuju kotaku yang adil, makmur, dan sejahtera. Maju dan modern itu tujuan yang penting, tapi tanpa dilandasi nilai-nilai keagamaan, sama saja seperti rumah tanpa fondasi yang kuat.

Semoga bermanfaat.

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

2 pemikiran pada “Rindu Kotaku yang Dulu

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s