STOP! BANDING-BANDINGAN!!

image

Bunda, bagaimana perasaan Bunda ketika seseorang bertanya ini pada Bunda,
“Anakku sekarang udah pinter lho, anak kamu udah bisa apa aja?”

Apa yang ada di benak Bunda ketika itu?

Pertanyaan semacam itu bisa mampir ke telinga kita kapan saja. Terkadang memang bikin kesel, tapi jangan, karena hanya akan membuat kita makan hati sendiri.

Nah Bunda, inilah pengalaman pribadiku menyikapi pertanyaan itu,,

Bunda, buah hati kita lahir ke dunia dengan segala takdirnya. Setiap buah hati memiliki karakter, intelegensi, bakat, dan keahlian masing-masing yang tidak bisa disamakan satu sama lain. Apalagi dibandingkan satu sama lain.

Bunda, jika Bunda adalah orang yang selama ini sering melontarkan pertanyaan di atas, “Please please,, berubahlah!!” Sadarkanlah diri Bunda, bahwa buah hati kita adalah anugerah Tuhan yang unik dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Bunda yang masih sering melontarkan pertanyaan di atas hanyalah Bunda-bunda yang masih menganut ideologi “kuno” dalam mendidik buah hatinya. Membandingkan buah hati kita dengan yang lain. Lantas, apa yang akan kita lakukan bila perkembangan buah hati kita justru tertinggal dengan yang lain? Apa kita akan menuntut agar buah hati kita bisa seperti yang lain?

Please Bunda, mulai hari ini “refresh u’r mind set”. Meskipun kita adalah orang yang melahirkan buah hati kita, tapi kita samasekali tidak berhak membandingkannya dengan siapapun dan membandingkan siapapun dengan buah hati kita.

Tidak ada larangan bangga terhadap perkembangan buah hati kita. Dan kita memang patut bangga bila buah hati kita berkembang dengan sangat baik. Tetapi tidak harus membandingkannya dengan yang lain.

Tunjukkanlah dengan prestasi-prestasi yang dapat membuktikan kepintaran buah hati kita. Jika Bunda ingin orang lain melihat kepintaran buah hati kita atau Bunda ingin kepintaran buah hati Bunda diakui oleh orang lain, tunjukkanlah dengan prestasi, bukan dengan membandingkannya dengan yang lain, apalagi bila tujuannya hanya untuk “mengecilkan” yang lain.

Bunda, belajarlah untuk menghargai perasaan Bunda-bunda yang lain. Terlebih lagi dengan Bunda-bunda yang perkembangan buah hatinya tidak sebagus buah hati kita. Bukannya malah dijadikan kesempatan untuk “memamerkan” kelebihan buah hati kita, karena yang ada justru kita menjadi “riya” (melakukan sesuatu dengan tujuan pamer semata). Percayalah Bunda, kita samasekali tidak akan mendapat keuntungan dari itu selain kepuasan semata.

Untuk hal-hal semacam ini, kita tidak perlu ambil pusing, Bunda. Buah hati kita adalah segalanya bagi kita. Segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya adalah anugerah dari Tuhan. Sekecil apapun itu, harus kita syukuri.

Buah hati kita adalah pribadi unik yang berhak menikmati ke-unik-annya. Jangan libatkan buah hati dalam gelombang rivalitas antarorang tua. Jangan pula menanamkan jiwa rivalitas pada buah hati kita sedari kecil. Karena sadar atau tidak, membandingkan buah hati kita dengan yang lain, dihadapannya, sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus, hanya akan membenamkan jiwa rivalitas negatif pada buah hati kita yang akan tertanam hingga ia dewasa kelak.

Jiwa rivalitas sebenarnya baik untuk meningkatkan daya juang dan kompetisi untuk meraih prestasi yang maksimal. Tetapi bukan jiwa rivalitas negatif dengan tujuan menjatuhkan. Biarkanlah buah hati kita mempelajari teori rivalitas ini sepanjang perjalanan hidupnya, secara normal dan alamiah, bukan karena kita yang menanamkan di benaknya. Jangan sampai ya, Bunda.

Bila dikemudian hari pertanyaan di atas menghampiri Bunda, sikapilah dengan santai. Jadikanlah itu sebagai masukan positif bagi Bunda. Tetap jalankan “planning” Bunda terhadap buah hati. Jangan gampang terpengaruh dan melibatkan buah hati kita dalam gelombang rivalitas antarorang tua. Tetap pantau perkembangan buah hati kita dan terus berikan semangat agar mau belajar. Dan yang terpenting, biarkan buah hati kita menjadi dirinya sendiri, jangan paksa untuk menjadi seperti yang lain.

Satu lagi ya Bunda, apa sih definisi pinter untuk buah hati itu?

Pinter atau pintar itu relatif, tidak ada kalimat yang pasti untuk mendefinisikan pinter ini. Setiap orang tua yang bangga pada buah hatinya, sekecil apapun kemajuan yang ditunjukkan oleh buah hatinya, pasti akan menganggap itu sebagai suatu kepintaran.

Menurutku pribadi, buah hati yang pinter adalah buah hati yang bertumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya. Memiliki kemampuan berfikir dan memahami perintah maupun nasehat, bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, dan mampu melahirkan ide-ide cemerlang untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya sesuai dengan perkembangan usianya. Tidak pemalu, tidak sok tahu, apalagi sok tua. Eemm,,no no no no,,

Nah Bunda, sebelum Bunda membandingkan buah hatinya dengan yang lain, cek dulu ya, buah hati kita itu “memang” pinter atau malah dewasa sebelum waktunya?? Tapi, akan lebih bijak lagi jika Bunda bersedia menghargai keunikan pribadi buah hati kita masing-masing dengan tidak membandingkannya dengan siapapun. Stop!! Banding-bandingan!!

Demikian ya Bunda, semoga bermanfaat.

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

3 pemikiran pada “STOP! BANDING-BANDINGAN!!

  1. Ping-balik: Tips Agar Kakak Tidak Cemburu pada Adik | Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s