BALADA SI MINAH

Balada hidup manusia tak tahu akan berirama seperti apa. Bisa meraung-raung menyayat hati atau bersorak-sorak kegirangan. Tergantung bagaimana angin nasib bertiup nantinya. Seperti kisah bocah kecil bernama Minah, Asmina Purwati nama panjangnya. Belum lebih dari 3 tahun umurnya, tapi takdir memaksanya berhadapan langsung dengan kerasnya kehidupan. Minah hanya mampu melihat dan mendengar, lalu merekamnya dalam gulungan-gulungan memori otaknya. Minah tak tau harus berkata apa, ia hanya bisa diam, tertawa, atau menangis. Tapi ia tahu betul apa yang dialaminya.

Kisah Minah adalah goresan hidup nyata yang aku kumpulkan dari lembaran-lembaran peristiwa yang terpotret ketika mengunjungi sebuah desa di perbatasan kota untuk urusan pekerjaan. Kisah Minah adalah bonus pengalaman hidup yang sangat berharga untukku disamping pekerjaan yang harus aku kerjakan di desa itu.

Minah adalah bocah kecil yang tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota dengan segala pesonanya. Desa yang dikelilingi sawah-sawah yang terbentang, ladang-ladang jagung dan tebu yang menghampar, dan kebun-kebun tembakau yang menyembul diantaranya. Desa yang jalan masuknya masih berupa tanah merah kecoklatan dihiasi kerikil dan bebatuan. Desa yang dibentengi pohon-pohon jati muda yang sedang meranggas. Desa yang masih sangat-sangat sederhana, kehidupan maupun pola pikir masyarakatnya.

image

Minah terlahir dalam keluarga yang sangat sederhana pula. Bapak dan Emaknya adalah pasangan muda yang belum memilki pekerjaan tetap. Minah tinggal di sebuah rumah sederhana bersama emak dan embah wedhok (sebutan dalam bahasa Jawa untuk mbah putri atau nenek). Bapak dan embah lanang (sebutan dalam bahasa Jawa untuk mbah kakung atau kakek) mengadu nasib ke Kalimantan, seperti kebanyakan kaum lelaki di desa ini. Kalimantan, Ambon, hingga Malaysia, Hongkong, dan Arab Saudi adalah favorit tujuan wisata kerja sebagian masyarakat di tempat Minah tinggal.

Keseharian Minah juga sangat sederhana. Untuk ukuran batita, asupan gizi untuk Minah masih jauh dari cukup. Minah terbiasa makan nasi putih dengan tahu atau tempe saja, dan pernah juga Minah hanya makan nasi putih dengan garam atau kecap. Untungnya, Minah masih mendapat ASI eksklusif dari emaknya. Minah juga sama sekali tidak pernah merasakan makanan pendamping atau bahkan susu formula. Ya Allah,,ingin mengalir air mata ini mendengar penuturan Sri Sumarti, tapi aku memilih untuk menahan diri. Aku teringat putri kecilku, yang ketika bosan dengan makanan rumah, Aisyah merajuk dan tahu kemana harus pergi membeli makanan kesukaannya, padahal belum genap 2 tahun usianya.

Sambil terus berucap syukur, aku masih merekam cerita hidup Minah kecil. Bocah kecil bertubuh mungil, kulitnya kecoklatan, agak kurus dan sedikit buncit perutnya. Rambutnya merah saking seringnya tersengat matahari kata Emaknya. Padahal, setahuku rambut Minah yang memerah itu lebih karena asupan gizi yang kurang dalam tubuhnya.

Sri Sumarti sehari-hari bekerja di ladang milik mereka, begitu juga dengan Embah wedhok. Sri Sumarti tidak sengaja aku temui di ladangnya. Ia sedang “ngadhem” di bawah pohon mangga. Dan ternyata ia membawa serta Minah, anak semata wayangnya. Bocah kecil itu berangkat dari rumah pagi sekali, di gendong di belakang tanpa topi. Ketika sampai di ladang, Minah pun diturunkan. Tanpa alas kaki, Minah luwes melangkah di ladang bertanah kering dan pecah-pecah itu. Tak ada tanaman apa-apa di ladang itu, hanya rumput-rumput kecil lah yang menyembul diantara retakan-retakan tanah.

Panas begitu terik, tetapi bocah 3 tahun itu diam tanpa keluhan. Ia hanya menurut saja kemana Emaknya melangkah. Minah kecil malah lincah mencabuti rumput-rumput liar di ladang. Seolah telah terbiasa, tanpa topi, tanpa alas kaki, hanya kaos dan celana pendek yang dikenakan Minah. Sambil berlari-lari kecil, berpanasan dan berkejaran dengan capung, Minah menikmati seakan-akan itulah waktu dan tempatnya untuk bermain. Aku terus merekam tingkah polah bocah kecil yang usianya tidak jauh berbeda dengan putri kecilku Aisyah.

Tahun ini, ladang keluarga Minah tidak menghasilkan apa-apa. Apa yang ditanam selalu gagal, semangka, jagung, bahkan padi juga tidak menghasilkan apa-apa. Seperti kebanyakan warga desa lainnya. Musim kering yang panjang membuat sawah-sawah mengering dan hama-hama bertebaran. Padahal, untuk memulai menanam, keluarga mereka harus mengambil pinjaman di bank. Sekarang, mereka tidak tahu harus dengan apa mereka melunasi hutangnya di bank. Begitulah penuturan polos Sri Sumarti ketika aku terus mengajaknya bercakap. Semakin lama aku semakin tertarik.

Untuk makan sehari-hari saja mereka harus berusaha memeras otak dan tenaga untuk menghasilkan uang. Seperti waktu Minah mengikuti ibunya ke kebun pisang yang tidak terlalu luas di dekat rumah. Embah wedhok ada di sana, sedang memotong dahan-dahan pisang dengan pisau yang diselipkan di ujung galah bambu. Minah pun cekatan membantu menarik pelepah-pelepah pisang yang sudah jatuh ke tanah untuk kemudian diambil daunnya oleh Emaknya dan dijual ke pasar. Apapun yang menghasilkan uang pasti mereka kerjakan.

Ya Allah,, berapa ribu kalimat syukur yang harus aku ucapkan padaMu atas segala yang telah Engkau beri padaku, pada anakku tersayang, dan pada suamiku tercinta. Hatiku begitu teriris melihat beratnya hidup yang harus dijalani Minah kecil. Dan hatiku makin teriris ketika aku berkesempatan mengunjungi desa Minah lagi dan menyaksikan kepahitan cerita hidup lainnya dari Minah kecil.

Ketika itu, Minah menangis meraung-raung memanggil Emaknya. Aku tak paham apa yang sebenarnya terjadi setelah sesaat kemudian aku masuk ke rumah Minah dan melihatnya terduduk di lantai memeluk kopor besar. Embah Wedhok sedang berusaha mencegah Sri Sumarti, emak Minah yang sudah berdandan rapi seperti akan pergi.

Dan beberapa saat kemudian pahamlah aku, setelah merangkai-rangkai sendiri pembicaraan Embah dan Sri Sumarti yang terputus-putus karena mondar-mandir keluar masuk kamar bahwa Sri Sumarti akan berangkat ke luar negeri. Meninggalkan Minah kecil sendiri bersama Embahnya. Sebelumnya, ia tidak membicarakan rencana kepergiannya pada Embah. Embah dan Minah pun seolah mendapat pukulan berat karena tiba-tiba, tanpa pemberitahuan apa-apa, Sri Sumarti akan pergi ke luar negeri.

Akupun tak habis pikir pada Sri Sumarti. Kenapa ia begitu tega meninggalkan anak sekecil Minah sendirian dengan Embah. Air mataku mulai mengalir dengan deras, terbawa suasana. Tanpa berusaha mencampuri urusan keluarga mereka, aku raih Minah yang menangis di lantai sambil memeluk kopor ibunya. Minah memang tak begitu mengenalku, tapi aku tak tega membiarkan Minah mengalami peristiwa ini.

Minah meronta-ronta dalam dekapanku, mulut kecilnya terus berteriak memanggil emaknya. Aku dan beberapa tetangga yang berdatangan berusaha menenangkan Minah yang terus meronta berusaha meraih emaknya. Tapi seolah tak mau mendengar anaknya, Sri Sumarti tetap enggan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia masih sibuk merapikan kopor besarnya. Pikiranku sontak melayang pada anak semata wayangku, Aisyah, yang tidak jauh usianya dengan Minah. Aku peluk Minah seolah dia adalah Aisyah. Air mataku makin tak terbendung lagi. Embah wedhok lemas dan mulai lunglai ke lantai.

Rekan kerjaku berusaha menenangkan Embah. Saudara Embah dan beberapa tetangga berusaha menahan Sri Sumarti yang hampir berlalu pergi. Aku melihat Sri Sumarti tak dapat menahan tangisnya ketika melihat Minah yang meronta-ronta ingin digendongnya. Sebelum ia berlalu, ia mengambil Minah dari dekapanku, dipeluklah Minah dan diciumi anaknya itu sejadi-jadinya seolah ia enggan meninggalkan Minah. Setelah berbicara dengan Minah yang entah apa, karena aku tak mendengarnya, dan menenangkan tangisnya sambil mengusap air mata Minah, Sri Sumarti menyerahkan Minah pada Embah.

Dengan tangisan tersedu-sedu, Sri Sumarti mencium tangan Embah dan memohon diri. Diciumnya kening Minah dan berlalulah Sri Sumarti. Tak ada lagi yang dapat menghalanginya. Tinggallah Embah yang lemas kakinya dan Minah yang belum berhenti menangis. Minah tak paham apa-apa, tapi ia tahu tangisan emaknya, ia tahu arti pelukan erat dan ciuman emaknya. Ia tahu kepergian emaknya.

Setelah agak tenang, berceritalah Embah, padaku dan beberapa orang lainnya yang masih berada di rumah itu. Sri Sumarti akan pergi ke Hongkong. Ia merasa hidupnya harus berubah. Lilitan hutang yang tidak sedikit dan hampir jatuh tempo juga yang menjadi motivasi Sri Sumarti terbujuk rayuan calo-calo TKI dan iming-iming gaji besar dengan bekerja di luar negeri. Penghasilan embah lanang dan suami Sri Sumarti di Kalimantan sebagai buruh penambang emas tidak akan cukup, karena di negeri sendiri juga nyatanya tenaga tidak dihargai sebagaimana mestinya. Sri Sumarti yang hanya tamatan SMP pun ikut saja buaian cerita sukses menjadi TKW.

Apa yang dialami Minah bukanlah kejadian pertama kalinya di desa ini. Gambaran kehidupan Minah hanyalah satu diantara ribuan cerita pilu bocah-bocah kecil di negeri ini. Sebelumnya, sudah banyak bocah kecil di desa Minah yang ditinggal kedua orang tuanya merantau ke luar negeri. Mereka harus hidup terpisah dari orang tuanya. Mereka menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan tinggal dan dibesarkan oleh kakek nenek mereka.

Orang tua mereka memilih dan memutuskan untuk bekerja ke luar negeri karena tidak mendapat kesempatan bekerja yang layak di negeri sendiri. Di negeri tetangga, meskipun hanya jadi pembantu, pengasuh anak, pengasuh hewan peliharaan, atau buruh bangunan, tetapi keringat mereka dihargai layaknya upah pegawai negeri sipil golongan 3A di negeri ini. Itulah yang menjadi motivasi mereka rela meninggalkan buah hati mereka dan mengadu nasib ke luar negeri tanpa mempedulikan cerita-cerita miris dan tragis yang dialami tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Itu adalah jalan hidup yang dipilih Sri Sumarti. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga semua berjalan seperti harapannya dan ia bisa segera memeluk putri kecilnya lagi. Aku hanya bisa membelai lembut rambut Minah yang tertidur di pangkuan Embahnya. Minah lelah menangisi kepergian ibunya hingga tertidur pulas. Dunia nyata begitu keras untuknya, dunia mimpilah tempat Minah memperoleh kebahagian dan melampiaskan segala kekecewaan hidup. Kebahagian semu yang pasti akan berakhir ketika membuka mata kembali dan menemukan ibunya tak disampingnya lagi.

Dalam hati aku menangis sejadi-jadinya. Bagaimana kalau Minah rindu air susu ibunya? Bagaimana kalau Minah sakit? Embah memang masih cukup muda dan kuat untuk merawat Minah, tapi bagaimana Minah menjalani kehidupan selanjutnya. Masa pertumbuhannya juga perkembangan psikologisnya.

Di lain sisi, aku juga paham, Sri Sumarti juga sebenarnya tidak tega meninggalkan Minah. Sebagai sesama perempuan, sesama ibu, aku bisa merasakan luka hati Sri Sumarti ketika harus meninggalkan Minah. Aku ingat betul bagaimana Sri Sumarti memeluk dan menciumi Minah sesaat sebelum meninggalkannya. Tapi kebutuhan hidup lebih kuat sehingga mampu menggerus kuatnya cinta kasihnya pada Minah, anak semata wayangnya. Sri Sumarti tidak punya pilihan lain.

Ya Allah, Ya Robbi, peristiwa ini Engkau tunjukkan di depan mataku hingga perasaanku pun Engkau tuntut untuk berkemelut ketika menyaksikannya, menyaksikan Minah kecil. Ya Allah, ini pelajaran hidup yang amat berharga. Hal-hal semacam ini juga yang membuat aku bersyukur atas banyak hal, juga atas pekerjaan yang Engkau berikan padaku, karena dari pekerjaan inilah, aku sekaligus mendapat bonus pengalaman dan cerita hidup yang amat berarti.

Cerita Minah ini untuk putri kecilku Aisyah. Ketika aku merangkai kembali kisah Minah menjadi tulisan ini, ia sedang tertidur pulas di singgasananya yang dipenuhi boneka beraneka rupa, Momo, Cici, Benni, dan lainnya. Bersyukurlah atas segala yang telah engkau dapat anakku sayang, atas segala kelebihan dan kekurangan, atas segala anugerah dari Allah yang engkau miliki. Hargai dan syukuri, apapun itu. Bunda bahkan belum sempat menghitung berapa banyak boneka yang dimiliki Minah atau malah Minah belum punya.

Cerita Minah ini juga aku bagikan agar dapat bermanfaat bagi siapa saja. Bahwa setiap jengkal langkah kita, setiap hela nafas kita, setiap hal dalam hidup kita, sekecil apapun, adalah nikmat yang harus kita syukuri. Hidup kita adalah anugerah, kebersamaan dalam keluarga adalah anugerah. Kita punya banyak kesempatan yang harus kita manfaatkan semaksimal mungkin. Kita harus bersyukur karena kita memiliki banyak pilihan dalam menjalani hidup ini, karena Sri Sumarti dan Minah anaknya, tidak memiliki banyak pilihan dalam hidupnya.

Peluk dan cium untuk semuanya. Semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

12 pemikiran pada “BALADA SI MINAH

  1. tarik nafas…susah sekali menerima cerita ini. dilema sebagai perempuan, anak dan ibu. jadi mikir *kemana adam? yeah, semoga senantiasa berbahagia apapun jalannya. sedih banget mba
    Salam kenal mba…

  2. Salam kenal, Mbak…
    Persoalan ekonomi sepertinya menjadi hal utama penyebab terabaikannya anak. Banyak yang beralasan apa yang mereka lakukan adalah demi anak, padahal malah berdampak kurang baik bagi anak…

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s