Toilet Training Ala Bunda Aisykha

Alhamdulillah, kira-kira dua minggu terakhir ini, putri kecilku Aisyah, berhasil melalui step baru dalam kehidupannya. Yah, Aisyah sudah tidak mengompol lagi, he he.. Tidak begitu penting ya, tapi bagiku itu sangat penting.

Aisyah awalnya sangat nyaman sekali menggunakan pospak (popok sekali pakai). Saking nyamannya, sampai Aisyah berusia 2 tahun 4 bulan, aku belum mengenalkannya dengan toilet training. Ketika aku berkonsultasi dengan beberapa teman, teman-temanku mengatakan seharusnya Aisyah sudah toilet training. He he awalnya aku merasa malu, apakah seterlambat itu?

Dulu aku sudah pernah berusaha menerapkan cara tatur maupun lepas dari pospak pada Aisyah, tapi tidak berhasil. Setelah aku kaji kembali, ternyata ada beberapa penyebab ketidakberhasilan tersebut.

Pertama, karena tidak konsisten. Aku dan pengasuh Aisyah (ketika aku bekerja di pagi hari) belum satu visi tentang tatur maupun lepas dari pospak.

Kedua, karena Abinya Icha sangat “care” dengan najis dari pee, jadi Aisyah sangat tidak mungkin lepas dari pospak.

Ketiga, perasaan nyaman yang dirasakan Aisyah ketika menggunakan pospak, menjadikan Aisyah sering lupa dan masih mengompol begitu saja. Jadilah Aisyah masih sangat ketergantungan dengan pospak.

Sekarang, aku harus mencobanya lagi dan kali ini harus berhasil. Aku sadar, Aisyah memang sudah waktunya pee dengan teratur. Terlebih lagi, Aisyah sudah mulai sekolah, dan teman-temannya yang rata-rata berusia hampir tiga tahun, sudah mau bilang kalau pee.

Aku mulai berfikir keras mencari berbagai referensi dan menggali informasi tentang toilet training. Ada banyak cara aku temukan, ada yang mudah, ada juga yang sepertinya akan sulit diterapkan pada Aisyah. Tak kehilangan akal, akupun kemudian meramu sendiri cara yang sesuai untuk putri kecilku. Hasilnya,,”Aa Haa, alhamdulillah, ces pleng kata iklan obat he he.” Dan akupun ingin berbagi. Semoga bisa menjadi referensi untuk Bunda-Bunda yang juga mengalami kesulitan melatih buah hatinya pee sendiri.

Ini adalah my own version, melatih Aisyah pee sendiri. Asli pengalaman pribadi.

1. Satukan Visi dan Misi

Untuk mengawali toilet training atau belajar pee sendiri, menurutku bukan berawal dari sang anak, tetapi dari orang dewasa di sekitarnya. Bisa Ayah, Bunda, Oma, Opa, atau pengasuh yang biasanya bersama sang anak sehari-hari. Oleh sebab itu, sebelum mulai melatih anak, satukan visi dan misi terlebih dahulu.

Misalnya, mulai besok Aisyah akan berlatih pee sendiri. Aisyah tidak pakai pospak lagi. Aisyah akan pee di kamar mandi. Aisyah mulai pakai training pants dan lain sebagainya. Seisi rumah harus dikompakkan terlebih dahulu. Bahwa ada aturan-aturan baru yang harus dipahami dan dijalankan dengan konsisten. Agar nantinya tidak membingungkan sang anak, karena dapat berakibat program latihan kita akan gatot alias gagal total (percaya deh, udah aku buktiin)

2. Stop Pospak

Berdasarkan pengalaman pribadiku, anak terbiasa mengompol karena saking nyamannya memakai pospak (popok sekali pakai, atau Aisyah dan aku biasa menyebutnya pempiy). Terlebih lagi, pospak sekarang sudah didesain sedemikian rupa sehingga menjadi sangat nyaman.

Ada dampak positif nya tetapi tidak sedikit juga negatifnya. Positifnya, teknologi terkini dari pospak menjadikan anak tidak mudah iritasi kulit, ruam dan sebagainya. Pospak juga lebih praktis karena sekali buang. Tetapi, negatifnya anak menjadi sangat terbiasa mengompol karena saking nyamannya. Dan salah-salah, ada juga yang hanya bisa pee dan pup di pospak lho (ciuuuss Bunda, aku denger sendiri dari Mak nya). Alhamdulillah, Aisyah belum eh tidak separah itu.

Selain itu, pemakaian pospak juga dapat berdampak sampah pospak yang menggunung di TPA. Hemm,, padahal kan sekarang sedang semangat-semangatnya go green. Dan yang tidak kalah adalah borosnya Bunda, setiap bulan paling tidak ratusan ribu harus kita keluarkan untuk beli pospak.

Oleh sebab itu, setelah aku berkonsultasi dengan banyak teman, aku putuskan stop pospak untuk Aisyah. Aku ganti Training Pants di siang hari dan Clodi untuk malam hari.

Training pants seperti celana dalam biasa, tetapi mampu menampung 1x pee. Kelebihannya, memakai training pants, pee tidak langsung mengucur ke bawah dan membasahi lantai atau bed seperti celana dalam pada umumnya. Training pants bisa menahan pee, tetapi kalau pee nya banyak ya bisa merembes ke samping, tetapi tidak sampai berceceran dimana-mana.

Ini cocok banget untuk Aisyah karena Abinya sangat “care” terhadap najis dari pee. Dengan memakai training pants, pee tidak menyebar kemana-mana jadi meminimalkan najis. Nah, ketika Aisyah tidur siang cukup aku tambahkan alas berupa perlak (alas ompol anti air) ukuran kecil kira-kira 1×1 m, sehingga rembesan pee (kalau ngompol) tidak langsung mengenai sprei. Alhasil, anak tetap bisa berlatih pee sendiri tetapi tidak merepotkan.

image

Clodi adalah cloth diaper atau popok kain. Clodi prinsipnya hampir sama dengan pospak. Bedanya, pospak sekali buang, tetapi clodi bisa dicuci ulang. Aku baru saja berkenalan dengan clodi, agak terlambat juga sih, tetapi justru aku langsung jatuh hati. Bagaimana tidak, aku tidak perlu belanja pospak ratusan ribu tiap bulan. Cukup dengan modal awal kurang lebih 800ribu, aku sudah punya 9 clodi dengan 11 insert. Cukup untuk berganti-ganti.

Selain itu, Clodi dari bahan kain Bunda, jadi rasanya hampir sama seperti celana dalam biasa. Aku pakai hanya malam hari dan pas bepergian saja, takutnya Aisyah kebablasan mengompol pas sedang tertidur atau saat jalan-jalan, maklum masih dalam masa belajar.

Kalau prinsipnya sama dengan pospak, kenapa harus pakai clodi?

Bagaimana caranya clodi bisa untuk berlatih pee sendiri?

Yuukk cek nomor selanjutnya.

3. Ubah Mindset, Masukkan Sugesti (Pinjam Prinsip Hipnosis)

Nah, kata aku, poin ini adalah kunci utamanya.

Pertama, Mindset

Melatih anak agar mau pee sangat berkaitan dengan “mindset” anak. Bagaimana bisa?

Selama ini, anak pee semaunya di pospak, tanpa aturan dan bahkan tanpa sadar, pee begitu saja di pospak. Dan sekarang, kita akan melatihnya agar pee dengan aturan dan tidak pee di pospak lagi. Untuk itu, mindset atau pola pikir anak harus diubah terlebih dahulu. Karena semua berawal dari otak, dari pikiran sang anak sebagai pengendali perilaku.

Kedua, Sugesti

su·ges·ti /sugésti/ n 1 pendapat yg dikemukakan (untuk dipertimbangkan); anjuran; saran; 2 pengaruh dsb yg dapat menggerakkan hati orang dsb; dorongan

Sugesti merupakan bagian dari kegiatan yang bernama hipnosis. Hipnosis adalah mengenai pengulangan (repetition). Dalam hal pengasuhan anak dikenal istilah hypnoparenting. Hypnoparenting (HP) juga sama dengan hipnosis. Akan tetapi, HP mengkhususkan diri pada cara-cara mudah untuk membentuk anak-anak seperti yang kita inginkan. (Dr. Dewi Yogo Prastomo, MHt, Nova 1273, Juli 2012)

Jadi prinsipnya adalah kata-kata atau kalimat-kalimat yang diulang terus-menerus dan diterapkan pada sang anak dengan tujuan mempengaruhi sang anak agar mau melakukan sesuatu yang lebih positif. Tidak ada unsur magis maupun mistis, semua ilmiah dan telah dikaji pada banyak forum. Intinya adalah mengulang-ulang kata atau kalimat positif, ingat, positif. Sebisa mungkin hindari kata-kata “jangan” atau “tidak”, sebab kata-kata tersebut tidak dapat dipahami oleh buah hati kita melalui alam bawah sadarnya.

Ubah Mindset, Masukkan Sugesti

Aku memutuskan meninggalkan pospak untuk mengubah “mindset” Aisyah. Bahwa dia sudah tidak memakai pospak lagi, tidak bisa asal pee tanpa sadar lagi seperti ketika menggunakan pospak. Tidak hanya meninggalkan begitu saja, tetapi aku berusaha mencari pengganti yang sesuai.

Maklum saja, selama masih dalam masa latihan, masih ada kemungkinan Aisyah mengompol. Untuk itu, harus ada antisipasi agar ketika anak tiba-tiba mengompol, pee nya tidak berceceran dimana-mana. Setelah aku siap dengan pengganti pospak, yaitu training pants dan clodi, aku mulai memasukkan sugesti pada Aisyah.

Saat aku akan memakaikan training pants, aku katakan, “Dhek, ini namanya training pants, beda ya sama pempiy, jadi kalau mau pipis bilang ya”. Kalimat seperti itu aku ulang terus-menerus. Kebetulan, Aisyah sudah 2 tahun 4 bulan, dia sudah mulai bisa memahami maksud perkataanku.

Begitu juga ketika aku hendak memakaikan clodi. Aku memang sedikit “berbohong” di sini. Aku pikir demi kebaikan, tak apalah. Ketika Aisyah bertanya,
“Ini apa Bun?”, akupun menjawab “Ini celana, sayang.” Aisyah pun berkata lagi,
“Ini nana?” (bahasa Aisyah untuk celana)
“Iya dhek, jadi kalau mau pipis bilang ya, biar celananya tetep kering gini, biar enak dipakai” jawabku.
Aisyah pun menjawab dengan jawaban khas nya,
“He em,,bial ndak bacah nananya ya Bun,”

Seumur-umur, Aisyah memang belum pernah mengenal clodi, jadi aku menyebut clodi sebagai celana. Kebetulan juga, aku membeli clodi yang jenisnya pants, jadi sama seperti memakai celana biasa. Aku memilih clodi, karena bahannya dari kain, sama seperti celana biasa. Clodi aku pakaikan untuk jaga-jaga seandainya Aisyah lupa dan kebablasan mengompol ketika sedang tidur atau jalan-jalan.

Cara kerja clodi hampir sama seperti pospak. Akan tetapi, aku memiliki pertimbangan tersendiri mengapa menggantinya dengan clodi. Kalau tetap pakai pospak, aku khawatir Aisyah tidak dapat berlatih dengan baik, karena sudah terbentuk “mindset” bahwa boleh pee di pospak seperti selama ini. Pee di pospak nyaman, tidak gatal, dan sebagainya.

Jadi, aku berusaha mengubah “mindset” yang terlanjur terbentuk. Setelah itu, barulah aku mulai memasukkan sugesti-sugesti positif agar Aisyah dapat belajar untuk tidak mengompol lagi.

Dalam hal ini, aku punya cerita lucu.

Awalnya, aku selalu mengatakan pada Aisyah, “Dhek, kalau pipis bilang ya”. Begitu terus-menerus aku ulang pada Aisyah, sebelum tidur, begitu bangun tidur, atau saat sedang nyaman dengan mainannya. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Aisyah memang bilang, tapi bilangnya begitu pee nya sudah keluar. Kejadian seperti itu berlangsung sampai 2 hari. Sampai akhirnya aku sadar, kalimat yang aku sugestikan pada Aisyah adalah “Kalau pipis, bilang ya,” jadi pantas saja Aisyah baru bilang ketika pee nya sudah keluar he he,,

Kemudian segera aku ganti kalimatku, “Dhek, kalau pengin pipis, bilang ya,” atau “Dhek, kalau mau pipis, bilang sebelum pipisnya keluar ya,” Sekarang ada tambahan kata “pengin” atau “mau”. Dan hasilnya, Aisyah mulai memahami, alhamdulillah Aisyah mulai beradaptasi, sebelum dia pee, dia bilang. Meskipun, ada beberapa kejadian ketika di sekolah, sebelum sampai di kamar mandi, pee nya sudah keluar duluan he he tak apalah, namanya juga belajar. Yang penting, sudah mau bilang, cuma jeda waktunya saja yang belum pas.

4. Tawarkan untuk Pee

Bunda, saat awal-awal belajar pee sendiri, kitalah yang harus aktif mengingatkan untuk pee. Anak masih butuh waktu untuk beradaptasi dan menyesuaikan waktu pee nya. Masalahnya, selama ini anak telah sangat terbiasa pee di pospak, saking nyamannya sampai tidak sadar ketika sedang pee, tahu-tahu pospaknya sudah penuh sehingga belum terbiasa untuk pee sendiri.

Begitu juga dengan putri kecilku, Aisyah. Pada awal-awal belajar, aku sudah kompakan dengan seisi rumah (orang-orang di rumah maksudnya) untuk aktif menawari Aisyah pee. Setidaknya, setiap 2-3 jam. Maklum saja, Aisyah masih minum sufor (susu formula) sehingga pee nya cukup banyak, berbeda dengan balita yang mengkonsumsi ASI.

Selain mengingatkan Aisyah untuk pee tiap 2-3 jam sekali, aku juga menawari Aisyah untuk pee sebelum tidur, begitu bangun tidur, sebelum berangkat sekolah, sehabis meminum susu formulanya, atau ketika aku merasa Aisyah beberapa waktu belum pee samasekali.

Aku berfikir, Aisyah masih sangat kecil, mungkin masih bingung dengan apa yang dia jalani. Bisa jadi, Aisyah belum pee karena memang belum ingin pee atau bisa juga karena takut. Perlu diketahui bahwa lepas dari pospak tidak serta-merta membuat anak jadi pee dengan teratur. Bisa jadi, anak malah takut pee karena tidak pakai pospak. Nah, inilah yang harus kita perhatikan agar anak tidak terlalu lama menahan pee nya, karena dapat menimbulkan penyakit.

Itulah mengapa, ada baiknya kita menawarkan pada anak untuk pee tiap 2-3 jam sekali. Mengenalkannya dengan toilet training, pee dan pup di kamar mandi, membersihkan pee dengan air, karena kebiasaan pee di pospak selama ini, selesai pee sekali tidak langsung dibersihkan dengan air. Bahkan kita tidak tahu dengan pasti kapan anak pee di pospak, tahu-tahu pospak sudah penuh dan harus diganti.

Sekarang, Aisyah seringnya tidak mengompol pada saat tidur. Aku juga tidak membangunkannya untuk pee pada waktu tengah malam (seperti yang dianjurkan salah satu artikel yang aku temukan), karena Aisyah punya kebiasaan, kalau sudah nyenyak tidur tiba-tiba digendong dan terbangun, dia akan muntah.

Oleh sebab itu, begitu bangun tidur, aku langsung mengajak Aisyah untuk pee di kamar mandi. Hasilnya, pee Aisyah di pagi hari cukup banyak, bisa 2-3x pee biasa. Jadi, menawari anak untuk pee pada waktu-waktu tertentu hukumnya wajib di awal masa latihan. Agar dikemudian hari, anak menjadi terbiasa dan tidak takut untuk pee sendiri di kamar mandi.

Nah Bunda, ini adalah pengalamanku, semoga bermanfaat untuk Bunda-bunda yang juga mengalami masalah ketika melatih buah hatinya pee sendiri.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android

Iklan

4 pemikiran pada “Toilet Training Ala Bunda Aisykha

  1. Ping-balik: Mendidik Pemimpin Kecil | Bunda Aisykha

  2. Ping-balik: Bunda Aisykha: Mengakhiri Kebiasaan Minum Susu Botol | Bunda Aisykha

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s