Elegi BBM: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Dear Bunda,

Bagaimana kabar Bunda dan buah hati hari ini?

Baik-baik saja, bukan? Alhamdulillah, aku dan Aisyah juga baik-baik saja.

Bunda, beberapa hari yang lalu, ketok palu ketua dewan yang terhormat memutuskan untuk menaikkan harga premium dan solar.

Yah, sangat disayangkan memang, opsi yang kurang bijak itu akhirnya yang dipilih. Tetapi, apa boleh buat, rakyat biasa seperti kita jelas tidak dapat berbuat apa-apa. Alih-alih untuk menyelamatkan keuangan negara, rakyat lah yang harus menanggung dampaknya.

image

BBM, kataku adalah dasar dari perputaran roda ekonomi masyarakat.  Bagaimana tidak? Kenaikan BBM yang *hanya* beberapa ribu, dampaknya bisa sangat berpengaruh pada banyak hal. Tidakkah pemerintah memiliki solusi lain yang lebih bijak?

Bayangkan saja, belum benar-benar harga BBM dinaikkan, baru sekadar wacana, tapi harga-harga sudah melangit. Bawang-bawangan, telur, gula mulai meroket harganya. Belum selesai di situ, sejak beberapa bulan lalu, listrik untuk daya di atas 900kwh juga telah dinaikkan. Ditambah harga gas yang juga terancam dinaikkan dengan dalih gas tabung 3kg tidak tepat sasaran dan harus dikaji ulang. Begitu ada kabar itu, gas 3kg pun mulai menghilang.

Dahulu, minyak tanah dikonversi ke gas. Semua masyarakat dituntut beralih ke gas. Sekarang, semua sudah menggunakan gas, malah dipersulit. Untuk yang mampu, bisa beli gas 12kg, tetapi bagaimana dengan masyarakat yang hari-harinya hanya berpenghasilan Rp10.000,-. Kembalilah mereka pakai tungku dan kayu bakar, karena gas 3kg menghilang di pasaran. Kalaupun ada, harganya lebih tinggi atau harus berebut dengan konsumen lain.

Sekarang, ketika palu kenaikan harga BBM sudah diketok, oke lah, pasrah saja mengikuti maunya pemerintah. Dan secepat kilat, dampak-dampak kenaikan harga BBM mulai menampakkan wujudnya. Belum saja sehari lewat, antrian sudah mengular hampir di semua SPBU. Dan beberapa jam kemudian, premium dan solar menghilang. Belum lagi, bayang-bayang kenaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok karena tentu saja biaya transportasinya akan ikut naik. Biaya pendidikan? Kalau ingin yang berkualitas tentu saja harus keluar biaya yang tidak sedikit. Sekolah Dasar yang bulanannya gratis saja, buku-bukunya masih ada yang harus bayar sendiri. Heemmm, sepertinya, jadi rakyat jelata yang hidup di negara ini kok susah betul, ya?

Ibaratnya, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Atau malah ada yang sampai terinjak-injak he he peribahasa saja. BBM naik, gas naik, listrik naik, biaya pendidikan tinggi (bergantung kualitas), harga kebutuhan pokok naik, transportasi jelas naik. Ditambah premium dan solar susah didapat, harus antri, kalaupun ada eceran di pinggir jalan harga sudah dinaikkan. Permasalahan gas tabung 3kg juga belum beres, masih sulit didapat, kalaupun ada harganya sudah naik. Dana BLSM atau BALSEM yang dijanjikan untuk sekian juta rakyat miskin belum juga dapat menghangatkan suasana karena belum berjalan realisasinya. Belum lagi, sebentar lagi waktunya bayar sekolah, puasa Ramadhan, dan hari raya Idul Fitri.

Bunda, ini adalah kenyataan yang harus kita jalani. Seberat apapun kita harus lebih ikhlas menjalani. Bijaklah dalam mengelola keuangan dengan cara menentukan prioritas utama. Support suami-suami kita dalam mencari nafkah. Jangan terlalu banyak menuntut, karena tuntutan kita bisa jadi membuat suami kita khilaf dan salah langkah dalam bekerja, korupsi dan sebagainya.

Semoga Bunda dan keluarga selalu diberkahi Allah. Amin.
Semoga bermanfaat.

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

6 pemikiran pada “Elegi BBM: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

  1. sebagai bagian dari masyarakat, setidaknya kita bersuara mengemukakan pendapat kita. bagi yang lain selalu beralasan kalau bbm memang pantas untuk dinaikkan. apalgi bagi yang selama ini kerepotan untuk membeli premium untuk mobilnya karena keseringan habis di spbunya, sehingga sangat mendukung kenaikan bbm ini. tapi bagi rakyat kecil, efek dominonya sungguh terasa dan semakin menjepit .

    hidup yang sehari-hari sudah sulit, semakin diperberat oleh keadaan ini. kalau mau jeli, dan mau melihat seluruh masalah ini secara keseluruhan, maka opsi bbm naik bisa tidak diberlakukan, karena banyak sumber daya alam dan sumber pendaopatan pemerintah yang bisa digunakan untuk subsidi silang. tapi selam aini, kita cuma disuguhi informasi sepihak saja soal pemerintah yang kesulitan dengan subsidi yg kian membengkak. lalu, dimana suara pemerintah soal freeport yang harusnya hasilany adinikmati oleh rakyat indonesia alih-alih asing yang menguras habis?
    maaf komenny akepanjangan. akibat efek domino bbm yangb elum naik saja, sudah membuat leher masyarakat ini terjepit. salam kenal

    1. Salam kenal juga mb,,gak mslh panjang jg gk pp mb,,emang sulit mb,,tapi kita sudah tidak dapat berbuat apa2,,sepertinya the show must go on,,dan pilihannya hanya take it or leave it,,keluar dari indonesia he he,,tengkyu udah mampir ya

  2. Selalu dan selalu rakyat jadi permainan para penguasa…
    T.T
    Dan kita hanya bisa berteriak teriak tanpa didengar oleh mereka. Tetapi kita tak pernah menyerah bukan? 😉
    Salam blogger ^^

  3. Ping-balik: INDONESIA DALAM 5 KALIMAT | Bunda Aisykha

  4. Ping-balik: Jangan Cari Bensin [Lagi] – Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s