TIPS: Menangkal Perasaan Menjadi Second Person

Assalamu’alaikum,

Dear Bunda,

Pernahkah merasa menjadi Second Person? Atau bingung, apa yang aku maksud Second Person?

Second Person artinya orang kedua. Maksudnya orang yang merasa dipandang sebelah mata, disepelekan, dan yang jelas dinomorduakan.

image

Perasaan semacam ini bisa kita rasakan di mana saja dan kapan saja. Di lingkungan kerja bahkan di dalam keluarga. Meskipun tidak diungkapkan dengan jelas, tetapi perasaan menjadi Second Person dapat muncul karena sikap, tindakan, atau penilaian orang disekeliling kita terhadap kita.

Ada orang yang dianggap lebih baik dari kita, lebih pintar, lebih berjasa, lebih kaya, dan sebagainya. Apapun yang kita lakukan, yang kita kerjakan, yang kita berikan selalu dianggap tidak lebih baik dari orang tersebut (orang yang dinomorsatukan). Padahal, kita sudah berusaha memberi yang terbaik, dengan penuh keikhlasan, dengan segala daya upaya, tetapi tetap saja dianggap tidak lebih baik atau ada yang lebih baik.

Kebaikan kita tidak dianggap atau dilupakan seketika, tetapi orang pertama selalu dielu-elukan. Kesalahan kita, meskipun kecil, akan dianggap serius apalagi ketika kebetulan kita berkonflik dengan orang pertama. Kita lah yang akan dianggap bersalah, sedangkan orang pertama, apapun yang ia lakukan, seburuk apapun, ia akan selalu benar.

Itulah sedikit gambaran tentang Second Person. Secara psikologi, mungkin ada yang lebih paham istilahnya. Yang jelas hal tersebut muncul karena perasaan cinta, kagum, ataupun bangga yang berlebihan ketika memandang atau menilai seseorang. Akibatnya, hasil penilaiannya pun tidak objektif. Jadilah, si Second Person ini hanya bisa makan hati.

Ketika pas kita yang menjadi Second Person, apa yang harus kita lakukan? Jengkel? Menangis? Patah hati? Atau bunuh diri? Eittss,,jangan lebay,, 🙂 Ini dia jurus jitu menangkal munculnya perasaan menjadi Second Person.

1. Sabar
sa·bar a 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng –; hidup ini dihadapinya dng —; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dng –;
ber·sa·bar v bersikap tenang (tt pikiran, perasaan): hendaknya kita – dl menghadapi cobaan hidup;
ke·sa·bar·an n ketenangan hati dl menghadapi cobaan; sifat tenang (sabar): ia pun akan kehilangan -nya apabila diperlakukan tidak adil dan melampaui batas

Sumber: KBBI

Sabar adalah salah satu sifat terpuji. Mengucapkannya mudah, tetapi kenyataannya bisa jadi sangat berat. Ya, pada awalnya memang demikian, tetapi apabila kita sudah terbiasa, kita tidak akan bisa menyadari kita ini sedang bersabar atau tidak. Dan kalau ada yang mengatakan “Sabar itu ada batasnya”, nah, itu berarti kita belum sepenuhnya sabar. 🙂

Menurutku, sabar itu ya tenang, santai, dapat mengendalikan diri dan tidak meledak-ledak. Ketika kita merasa menjadi Second Person, ya sudah, biarkan itu menggelayut dalam pikiran saja. Yang penting hati kita harus tetap tenang. Berserah diri pada Allah. Manusia bisa salah menilai, tapi Allah, Maha Benar, bukan?

Janji Allah:
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar lah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas“.
(QS. Az Zumar: 10)

2. Ikhlas
ikh·las a bersih hati; tulus hati: memberi pertolongan dng –; mereka benar-benar –;
meng·ikh·las·kan v memberikan atau menyerahkan dng tulus hati; merelakan: kami telah ~ kepergiannya; dia ~ tanahnya untuk tempat pembangunan rumah sakit;
ke·ikh·las·an n ketulusan hati; kejujuran; kerelaan: kita menghargai ~ nya menyerahkan sumbangan kpd yayasan yatim piatu

Sumber: KBBI

Jurus kedua menangkal perasaan menjadi orang kedua adalah ikhlas. Tingkatan ikhlas rasa-rasanya lebih tinggi dari sabar, memang, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan.

Ikhlas itu tulus, tanpa pamrih, tanpa imbalan. Harapan satu-satunya hanyalah ridho dari Allah semata. Ketika perasaan dinomorduakan muncul, bisa jadi kita belum bisa ikhlas. Mengapa? Karena kita masih mengharap pujian, mengharap pengakuan, atau masih pamrih. Di sisi lain, kita hanya manusia biasa yang masih jauh dari kata sempurna. Akan tetapi, sedikit-sedikit kita harus mulai belajar ilmu ikhlas ini.

Sudahlah, lupakan saja setiap atau bahkan semua pemberian kita atau semua kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain. He he,, 🙂 sepertinya teoretis sekali ya? Iya, tapi harus dibiasakan untuk dijalankan.

Lupakan saja, tidak usah diingat-ingat, karena Allah tidak tidur. Tidak satupun perbuatan baik kita yang telewat oleh Allah. Bahkan yang baru berupa niat saja sudah ada pahalanya, apalagi yang benar-benar dilakukan. Oleh sebab itu, berhentilah berharap penilaian dari manusia, atau berhentilah memikirkan penilaian orang terhadap kita karena itu hanya akan membuat kita terjebak dalam perasaan iri, dengki, atau riya yang merupakan sifat-sifat yang melatarbelakangi munculnya perasaan dinomorduakan, dipandang sebelah mata, dan sebagainya.

3. Berbaik Sangka (Khusnudzon)
Khusnudzon, berbaik sangka, memandang sesuatu hal dengan kacamata positif (bukan kacamata + dalam arti sebenarnya lho) 🙂 bahasa kerennya adalah positif thinking. Berbaik sangka kepada Allah itu harus, juga berbaik sangka kepada sesama manusia.

Apabila hasil pekerjaan atau perbuatan baik yang kita lakukan belum cukup membuat orang lain puas dan bahagia, kita hanya dipandang sebelah mata, atau karena ada yang dianggap lebih pintar, lebih berjasa, lebih baik, lebih kaya, lebih terpandang, sehingga kita diabaikan, cobalah untuk berbaik sangka. Jangan lantas berhenti berusaha melakukan kebaikan karena kecewa atau sakit hati. Kenyataannya belum tentu seburuk yang kita fikirkan. Barangkali hasil pekerjaan kita memang belum cukup bagus atau mereka bingung bagaimana harus berterimakasih pada kita atau barangkali mereka malu karena kita terlalu baik sehingga mereka bingung bagaimana nanti membalasnya. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Selain kepada sesama manusia, berbaik sangka kepada Allah, itu juga harus. Apabila kita merasa menjadi second person, cobalah untuk introspeksi diri. Barangkali di balik perbuatan baik kita masih sedikit terselip riya. Atau bersyukurlah karena Allah masih mengingatkan kita untuk meluruskan niat di setiap perbuatan kita.

Semua hal yang berkecamuk dalam fikiran kita belum tentu kebenarannya. Oleh sebab itu, daripada kita makan hati terus tiada habis-habisnya, karena memikirkan penilaian orang terhadap kita, berfikirlah hanya tentang hal-hal yang positif. Yang negatif, buang saja jauh-jauh.

Oh ya,,berbaik sangka juga resep jitu agar awet muda lho,,. Dengan berbaik sangka kita bisa terhindar dari segala macam penyakit hati. Jika hati terjaga,,wajah cerah ceria,, insyaAllah awet muda :). Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampui, kan?

Nah, bagaimana, mudah bukan? (teorinya 🙂 ) Praktiknya, mari kita belajar bersama-sama.

Demikian, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

16 pemikiran pada “TIPS: Menangkal Perasaan Menjadi Second Person

  1. second person bukan yang sudah dibeli dipake trus dijual lagi Bun..? hehehe…sudah biasa kali Bun, dipandang sebelah mata mah, habis mata yang sebelahnya lagi kelilipan…wkwkwk, asal jangan jadi third person aja dah ya, Bun…!!! salam kenal

  2. kalo dianggap second person itu, berarti adalah kesempatan yang tepat untuk membuktikan bahwa kita berkualitas. kita bisa. dan kita tidak seperti yang mereka kira.

    Makasih saran-sarannya Bunda. Keren. Karena saya pernah merasa berada di posisi itu 🙂

  3. Sebenarnya first ataupun second person itu tergantung kita sendiri saat menilai diri pribadi. Saat kita menganggap ‘I am the second’ ya jadilah kita si ‘Second’ tadi. Memang perlakuan tidak adil bisa saja timbul meskipun kita sudah ‘do the best’. But so far I believe that good person is good for everyone, ndak ada ruginya jadi orang baik mba meskipun tetap ada yg tidak menghargai kebaikan itu. jaminannya kan udah jelas di ‘sana’ nanti 😉

  4. Aku baru tau tentang second person, ternyata semacam perasaan ngenes karena tak dianggap gitu ya. kalo belum baca pasti ngartiinnya ‘orang kedua’ alian simpenan 😀

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s