Cerpen: Perempuan Masa Lalu

Aku melihat perempuan masa laluku duduk di kursi dekat meja sekretaris ketika aku memasuki lobi lembaga kursus itu. Memori masa laluku seolah dikoyak kembali, dan entah mengapa, tubuhku bergetar, keringat dingin mengalir di pelipis dan leherku. Keraguan menyelimuti sekujur tubuhku. Aku ingin menyapanya tapi bibirku kelu, tubuhku membatu dan tertanam menyatu dengan lantai yang kupijak sehingga menghalangi langkahku. Seperti inilah aku setiap kali melihatnya. Dan akupun tak mengerti kenapa aku bisa sampai begini.

Setelah kuparkir dengan baik sepeda motorku, kuseka keringat dingin yang mengaliri tubuhku sedari tadi. Sekuat tenaga kulangkahkan kembali kakiku perlahan sambil sesekali melirik perempuan berhijab hijau yang sedang duduk santai sambil menikmati susu coklat botol kemasan di sudut lobi itu. Sepertinya itu adalah favoritnya ketika sedang menunggu giliran mengajar, karena beberapa kali sebelumnya, aku juga melihat ia sedang asyik menikmati minuman yang seharusnya dikonsumsi murid-murid itu.

Langkahku terhenti di sebelah papan jadwal yang berada di dekat kulkas besar etalase ‘softdrink‘. Mendadak tenggorokanku kering, akupun terbatuk begitu saja tanpa sebab. Seketika itu, pikiran jahilku berharap perempuan berwajah arab itu melihat ke arahku ketika mendengar suara batukku. Jarak yang tidak begitu jauh dan suasana yang lumayan sepi membuatnya menjadi mungkin mendengar suara batukku. Hemmm, tapi aku salah, sampai batuk misteriusku lenyap melirik saja pun tidak.

Kasihan benar aku ini, berharap mendapatkan perhatiannya. Tapi ia malah masih asyik duduk dengan jari-jemarinya menari di atas ponsel “touchscreen” itu. Uuhh hu hu hu jelas belum kelasku. Melihat diriku lagi, aku menyadari perbedaan ia dan aku sejak dulu masih tampak jelas hingga hari ini.

Aku pun melangkah lurus saja menyusuri koridor panjang menuju mushola kecil di sudut bawah tangga, sambil membawa segelas air mineral untuk meredakan batuk misteriusku dan meninggalkan begitu saja perempuan manisku itu tenggelam dalam kesibukan kecilnya.

Sejenak aku ingin menenangkan diriku, menghadap Robbiku. Mengadukan nasibku bertemu lagi dengan perempuan dari masa laluku dalam keadaan yang tidak memungkinkan lagi untukku berharap banyak. Padahal sekarang aku sudah punya pekerjaan tetap, aku guru sekolah dan sorenya aku guru kursus. Penghasilanku cukup untuk kebutuhan sebulan.

Haruskah aku menyesali keterlambatan langkahku di masa lalu atau haruskah aku menyadari perempuan berhidung mancung itu memang bukan jodohku. Ya Robbi, tuntun saja aku menjauh dari kharisma perempuan manisku itu. Jangan biarkan pesonanya meracuni otak dan hatiku lagi. Aku tak mungkin memilikinya.

                           ***********

Selesai menghadap dengan penuh harap, bebanku pun sedikit berkurang, nafasku mulai teratur dan dadaku tidak lagi sesak seperti tadi.  Kemudian aku bergegas menuju ruang tunggu guru di area belakang untuk menunggu giliran mengajar, masih ada 5 menit sebelum waktu mengajarku tiba. Sebagai guru baru di lembaga itu, aku lebih suka menunggu giliran mengajar di ruang belakang daripada di meja sekretaris.

Ruang tunggu belakang adalah tempat yang tenang dan nyaman. Dengan taman rumput hijau di sisi kirinya yang dibuat sedikit berbukit dihiasi tumbuh-tumbuhan hias warna-warni. Ada satu pohon cemara rimbun di tengah dan pohon palm botol besar di kiri kanannya, membuatnya tampak begitu asri dan terawat.

Suasana taman yang teduh seperti itu sedikit membantu aku merefresh kembali pikiran dan menyiapkan materi mengajarku. Di meja sekretaris depan sana, mana mungkin aku bisa konsentrasi, karena perempuan masa laluku itu lebih suka menghabiskan waktu menunggunya di sana, seperti kebanyakan guru-guru perempuan lain yang sudah lama mengajar di lembaga ini.

Lagipula aku masih bisa menunggunya lewat kalau dia mengajar di area belakang. Semua guru yang mengajar di area belakang harus melewati ruang tunggu belakang dulu. Sekilas tadi, aku lihat di papan jadwal, ia mengajar di kelas D, itu berarti di area belakang juga.

Ya Robbi, ada apa denganku ini? Masih saja berharap sesuatu yang jelas sudah tidak mungkin. Tapi siapa yang bisa mencegah perasaanku berkecamuk setiap kali aku bertemu dengannya. Lama-lama aku bisa gila kalau harus bertemu dengannya setiap hari begini.

Suara langkah sepatu “highheels” membuyarkan terawangan kosongku. Aku terkejut ketika tiba-tiba perempuan manisku melintas di samping tempatku duduk. Sekilas ia menoleh ke arahku dan menatapku, aku pun lekat-lekat menatapnya, kesempatan yang sangat jarang terjadi dan tak boleh aku lewatkan, tapi lagi-lagi aku kecewa. Tatapan itu tanpa sedikitpun ekspresi, tak ada seberkas senyum pun yang mengembang di bibir manisnya. Tatapan itu…sangat biasa.. dan hanya sekilas saja aku menamatkan wajah teduhnya.

Benarkah ia lupa padaku? Tak mengingatku samasekali, seperti balasan pesan singkat yang tempo hari dikirimkan padaku ketika aku mencoba menghubunginya kembali begitu aku melihatnya lagi untuk pertama kalinya di lembaga kursus ini setelah sembilan tahun berlalu.
Talitha ya?” Begitu aku mengawali pesanku.
Siapa nie?” katanya membalas pesanku.

Lagi-lagi aku tak mampu membalasnya kembali. Aku tak kuasa menyebutkan siapa aku. Entah apa sebenarnya mauku. Mendadak nyaliku menciut lagi dan akupun makin ragu. Dari balasan pesan singkat itu aku tahu, ia tak ingat lagi nomor ponselku, padahal aku masih menyimpan dengan baik nomor ponselnya.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah ia benar-benar lupa padaku? Apa sebenarnya ia memang pernah jatuh hati padaku dulu? Apa ia sangat mengharapkan kedatanganku tapi kemudian kecewa dan sakit hati karena aku hanya lelaki pengecut yang tak punya nyali menghadapi abahnya dulu? Atau ia memang membenciku karena aku membiarkannya menunggu tanpa kepastian apa-apa dulu? Atau apa?

Banyak kata berenang-renang dalam kubangan otakku, tapi tak tau kemana akan bermuara. Dilema begini kapan berakhir, sedangkan hampir setiap sore bisa dipastikan aku bertemu dengannya, dan aku leluasa menatapnya meskipun hanya dari bilik kelas seberang. Di sisi lain..yang seperti ini adalah salah..salah besar.

“Pak Garin, ayo?” suara Selvi, salah satu murid kelasku membuyarkan lamunanku
“ooohh, aku harus mengajar.” kata hatiku tersentak.
“O ya, ayo,,” Aku bangkit dan bergegas mengikuti Selvi menuju kelasku.

Rupanya aku belum sepenuhnya terbebas dari bayangan perempuan masa laluku itu. Sekarang ia malah mengajar di kelas yang berseberangan dengan kelasku. Dalam hati aku berbunga-bunga dan entah untuk alasan apa. Dari sudut-sudut jendela berkaca terang itu aku bisa menatapnya sesekali, mengikuti geraknya meski hanya ujung hijabnya yang terlihat. Kucari posisi mengajar yang tepat agar aku bisa mengikuti setiap kelebatan hijabnya dan tentu saja agar murid-murid yang aku ajar tidak curiga terhadap kegilaanku pada sosok Talitha, guru Bahasa Indonesia yang manis dan favorit anak-anak.

Aku berikan saja catatan untuk murid-muridku. Ketika mereka mencatat, kusandarkan tubuhku di sudut dekat jendela kaca agar aku bisa mengamati dan mendengar suaranya meski tidak begitu jelas.

Perempuanku, masih pribadi yang menarik, kelasnya selalu hidup. Anak-anak semangat belajar bila ia yang mengajar. Tidak salah kalau banyak kelas yang lengket dengannya dan begitulah yang selalu aku dengar. Kalau murid yang masih anak-anak saja banyak yang “kepincut” dengan sosok bu Talitha, bagaimana denganku yang laki-laki dewasa?

Ia memang salah satu guru favorit anak-anak, selain cantik, mungkin karena cara mengajarnya yang menarik. Masih semenarik dulu ketika masih sama-sama kuliah dan praktek mengajar di sekolah yang sama denganku. Bedanya, ketika itu aku masih bisa leluasa menatapnya, ngobrol ini itu bahkan mengatakan perasaan sukaku padanya.

Kuberanikan diri untuk mengatakan padanya meskipun hanya melalui pesan singkat ketika itu. Meskipun tak pandai berpuisi, kubisa-bisakan menulis puisi karena aku tahu, perempuan manisku adalah penyuka puisi. Beginilah puisi amatiranku, setelah berkali-kali aku ralat.

aku kagum pada senyum manis di sudut bibirmu,
pada hidung indah yang tergaris diantara tulang pipimu,
dan pada semburat teduh paras elokmu,
membuat aku lemah tanpa mampu menahan
benih-benih cinta bersemi di sudut hatiku
menanti siraman cinta dari taman hatimu
agar tidak layu dan mati tanpa arti
berkenankah engkau membaginya denganku?

Aku ingin tertawa sendiri bila mengingat waktu itu. Berhari-hari aku tidak tidur untuk merangkainya. Aku sebenarnya yakin ia menerima pesanku dan setelah membacanya ia pasti paham maksudku meski mungkin dengan sedikit rasa muak. Mungkin itu juga yang membuat ia tak membalasnya sepatah kata pun.

Dan ketika rasa penasaranku memuncak, aku ingin berkunjung saja ke rumahnya. Tapi, meskipun berada di kota yang sama, aku tidak tahu pastinya dimana ia tinggal. Akupun mengutarakan lagi niatku melalui pesan singkat padanya. Kali ini dibalas, tetapi balasan pesan singkatnya justru membuat nyaliku menciut

Datang aja ke rumah, bicara pada abah dulu agar diperbolehkan menemuiku

Setelah membaca pesannya, aku tak punya keberanian untuk membalasnya lagi. Tubuhku lunglai, tulang-tulangku melemah. Aku tak bisa tidur bermalam-malam sejak membaca pesan darinya itu. Aku pikir siapa aku ini, aku cuma calon guru yang belum tentu masa depannya. Bukan berarti aku tidak serius menyukainya dulu. Aku benar-benar jatuh cinta padanya dulu.

Tapi aku masih muda, maksudku tidak bisakah hanya ngobrol saja seperti waktu masih sama-sama praktik mengajar dulu. Atau hanya memboncengnya sebentar untuk ngobrol di luar sambil makan bakso. Tidak langsung menghadap dan bicara pada abahnya. Atau memang begitulah tradisi keluarganya. Tidak mengenal kata “pacaran”.

Aku cuma pemuda biasa dari desa dengan modal nekat dan wajah lumayan tampan tapi tak punya apa-apa. Orang tuaku di desa memang cukup berada, tapi seberadanya orang tuaku di desa tetap belum sebanding dengan keluarganya. Untuk menghadap orang tuanya kala itu, aku merasa belum cukup dalam segala hal.

Bagaimana nanti kalau abahnya tanya macam-macam padaku. “Siapa aku, apa kerjaku, apa kerja bapakku? Bagaimana keturunanku? Aaaah, aku belum cukup nyali untuk itu.” Pertanyaan demi pertanyaan menari-nari di dalam kepalaku. Tapi tak juga dapat kutemukan jawabannya.

Sejak itu lah aku menyerah dan tidak lagi menghubunginya. Tidak membalas lagi pesan singkatnya. Selangkah demi selangkah tapi pasti aku keluar dari jalur pengejaranku. Mengubur dalam-dalam benih cintaku agar tak sanggup tumbuh lagi meski hanya umbinya sekalipun. Sekarang, beginilah resikoku.

Dan kini perempuan dari masa laluku itu ada lagi dihadapanku, tapi bukan lagi perempuanku yang dulu. Sembilan tahun berlalu, membuat ia tampak lebih dewasa dan lebih menarik dari yang aku lihat terakhir kali dulu. Aku yang terlambat atau memang takdir yang membawaku pada keadaan seperti ini.

Bodohnya aku ketika itu adalah memutuskan untuk tak mengejarnya lagi. Entah egoku atau memang nyali ciutku ketika itu, membuat aku benar-benar menghentikan langkahku untuk mengejarnya. Menyesal? Iyaaa, sepertinya begitu, sayangnya menyesal itu selalu saja datang di akhir cerita. Rasanya ingin membuat mesin waktu agar aku bisa memperbaiki semuanya dari awal.

Yaah memang..aku tidak akan belajar menghargai dan brsyukur memiliki sesuatu kalau tidak ada sesuatu yang hilang dari hidupku.

                              ********

Talitha keluar dari kelasnya 5 menit lebih cepat dari yang seharusnya. Akupun segera bergegas menyelesaikan kelasku untuk mengikutinya. Entah apa yang aku ajarkan pada anak-anak tadi, aku samasekali tidak sanggup berkonsentrasi. Dalam otakku hanya ada Talitha, Talitha, dan Talitha.

Aku masih setia di belakangnya. Ia berjalan pelan sambil terus memainkan ponselnya menyusuri koridor menuju ke arah luar. Aku mengikutinya dari belakang layaknya seorang detektif saja. Ada kesempatan untuk menyapanya tetapi aku juga tidak tahu kenapa aku tidak memanfaatkannya.

Hingga akhirnya, langkahku benar-benar terpaku kembali tepat di dekat sepeda motorku ketika aku melihat perempuan masa laluku menyeberang jalan yang tidak terlalu lebar tetapi cukup padat di depan lembaga kursus.

Ia menghampiri seorang lelaki bertubuh tinggi dan berambut cepak yang berdiri di depan kendaraan roda empat berwarna merah, sambil menggendong seorang bocah perempuan dengan rambut diikat dua yang kemudian samar kudengar berteriak “Bunda…” Perempuan manisku dengan segera meraihnya dan menciumi bocah kecil itu. Mereka pun segera masuk ke dalam kendaraan dan berlalu dari hadapanku begitu saja.

Tinggallah aku dengan sepeda motorku, dengan pikiran-pikirian indahku, dan dengan harapan-harapan kosongku. Dan perempuan masa laluku, biarlah semua berjalan seperti ini saja. Aku berdiri dengan segala penyesalanku, dan kau, berjalan dengan kehidupanmu yang baru.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

4 pemikiran pada “Cerpen: Perempuan Masa Lalu

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s