Andai Aku Bisa

Dear all,

Kapan terakhir kali kita berkhayal?
Tentang apa?

Yah, khayalan itu membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Tetapi, khayalan itu bisa jadi awal dari sebuah mimpi, lho. Mimpi yang belum atau bahkan tidak akan mungkin terpenuhi. Tergantung kita.

Kita sah-sah saja berkhayal, setinggi langit kalau perlu. Asal, jangan terlalu larut dalam khayalan kita. Karena dampaknya, kita bisa menjadi orang yang kufur nikmat, atau lupa bersyukur. Berkhayal boleh, tapi sewajarnya lah, sebagai bumbu dalam kehidupan kita. Bolehlah sesekali kita duduk-duduk atau tiduran sambil ketawa-ketiwi cekikikan sendiri. Sesekali saja ya, jangan terus-terusan, lho πŸ˜‰

Ngomong-ngomong tentang khayalan, aku pernah beberapa kali berkhayal. Tapi, khayalanku mungkin tak sampai setinggi langit.

Suatu sore, ketika aku sedang duduk di teras rumah menemani putri kecilku yang sedang asyik bermain, aku melihat tetangga depan rumah sedang repot sekali dengan 3 anaknya. Yang sulung usianya baru akan 4 tahun, yang bungsu, kembar, hampir 2 tahun umurnya. Sang ibu nampak sedang kesal dan repot sekali. Nah, keluarlah celotehan yang aneh-aneh dari mulut sang ibu.

Tidak lama berselang, tetangga sudut rumahku. Ibu dengan satu anak. Terlilit masalah keuangan yang cukup parah dan tinggal di tempat yang mungkin bisa aku sebut petak. Hanya gara-gara anaknya salah menempatkan tas sepulang mengaji. Wah, marah-marahlah si ibu tadi pada anaknya. Kata-kata bernada tinggi pun meluncur dengan derasnya. Dengan mengendap-endap, mendekatlah anak laki-lakinya itu. Belum sampai mendekat, ditariklah telinga anak semata wayangnya itu.

Hadeuh, dadaku terasa sesak, telingaku panas. Pemandangan seperti itu hampir menjadi hal yang biasa di lingkunganku. Sesaat aku memandangi anakku yang sedang asyik bermain. Aku teringat pula pada ajakan teman beberapa waktu yang lalu. Kusandarkan kepalaku di pintu dan menerawanglah aku ke langit yang biru.
image

Andai aku bisa.

Aku ingin menebarkan virus-virus pentingnya parenting skill bagi ibu-ibu, ke seluruh pelosok negeri. Slogan yang akan aku usungΒ  adalah “Parenting Skill for Better Generation“. Ce ce ce ce,,keren kan?

Bersama beberapa teman, dengan latar belakang pendidikan masing-masing (psikolog, pendidikan, ekonomi, bahkan dokter), aku ingin mendirikan yang namanya Rumah Parenting (namanya boleh nyomot ide teman, tuh). Yah, Rumah Parenting dalam khayalanku adalah wadah untuk konsultasi, sharing, ataupun diskusi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan cara mengasuh dan mendidik anak, khususnya anak di bawah 5 tahun.

Masih dalam khayalanku, sasaran Rumah Parenting ku nantinya adalah:
1.Β  Ibu-ibu, khususnya ibu muda atau ibu-ibu yang menjadi nenek bagi cucunya
2. Tingkat ekonomi menengah ke bawah
3. Belum tersentuh internet

Mengapa?

Ibu-ibu (muda maupun nenek) di kampung seperti aku atau dua tetanggaku tadi, masih minim informasi tentang parenting. Jika ditanya parenting itu apa, mungkin mereka masih bingung menjawabnya, ada yang tidak mengenal, atau bahkan tidak peduli samasekali. Bagi ibu-ibu di kampung, dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, urusan perut jauh lebih penting daripada hal-hal yang kurang penting macam parenting ini.

Padahal, bagiku secara pribadi, sebagai ibu muda, parenting skill itu penting. Anak itu ibarat kertas putih, kita lah yang akan menggambarinya, mewarnai, atau melipat-lipatnya menjadi bentuk yang kita inginkan.

Anak kita juga merupakan cikal bakal generasi penerus bangsa, yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini. Dan orang tua, terutama ibu adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya.

Cara mengasuh dan mendidik anak pada usia emasnya, 0-5 tahun, akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Apa yang kita tanamkan pada anak di usia emasnya juga akan menjadi kenangan tersendiri bagi sang anak ketika dewasa nanti. Anak pada usia emas juga merupakan peniru dan penghafal yang ulung. Bahkan tanpa kita sadari, kemampuan mereka jauh di atas kita.

Bayangkan kalau celoteh tetanggaku tadi ditiru dan dihafal oleh anak-anaknya, kemudian dikatakan pada anak yang lain ketika sedang bermain. Wow,,apa efeknya kalau teman bermainnya adalah anak kita? 😦

Oleh sebab itu, masih dalam khayalanku, melalui Rumah Parenting ini, aku dan beberapa teman, akan menggali ilmu parenting sebanyak-banyaknya, dari internet, dari teman-teman blogger, dari buku maupun majalah-majalah parenting, dan dari pengalaman kami masing-masing. Kemudian akan kami olah kembali dengan bahasa yang lebih sederhana yang sekiranya dapat diterima oleh ibu-ibu sasaran kami.

Kami akan bergerak melalui arisan-arisan RT atau arisan desa di kampung-kampung, sama seperti sales kompor gas, panci, gerabah, dan lain-lain yang sering promosi di sela-sela arisan. Kami akan menyampaikan secara lisan pada ibu-ibu ketika arisan. Selain itu, kami juga akan membuat brosur sederhana agar ibu-ibu tidak lupa. Kalau memungkinkan, kami akan meminta teman kami yang kebetulan berprofesi sebagai dokter untuk memberi penyuluhan.

Kami tidak ingin menjejali ibu-ibu itu dengan teori-teori parenting saja. Parenting akan kami kombinasikan dengan ekonomi, agama, maupun kesehatan. Kami juga akan berusaha berbagi pengalaman pribadi kami. Apa yang sudah kami alami berikut tips-tips nya akan kami bagikan pada ibu-ibu, dan semuanya gratis, tidak dipungut biaya sepeserpun. Agar mereka memahami, betapa pentingnya parenting skill bagi mereka. Selanjutnya, mereka pun akan mulai mengoreksi diri dan memperbaiki hubungan mereka dengan anak-anak. Sehingga mereka dapat mendidik anak-anak dengan cara yang lebih baik.

Tidak perlu setiap bulan. Dua bulan sekali sudah cukup, agar ibu-ibu tidak bosan. Maklum lah.. ibu-ibu kalau sudah arisan seringnya tidak konsen pada yang lain. Yang penting, di sela-sela repotnya mereka mengumpulkan rupiah, bahkan belum melek internet sekalipun, mereka tetap bisa mendapatkan edukasi yang benar tentang mengasuh dan mendidik anak. Sebab, anak di seluruh pelosok negeri ini juga berhak mendapatkan pola asuh dan pola didik yang baik. Agar kelak, mereka menjadi generasi yang jauh lebih baik.

Wow, semangat ’45 dan sepertinya cap cus sekali ya, πŸ˜‰ selancar air terjun πŸ˜‰ namanya juga khayalan, kan memang sekehendak kita maunya bagaimana πŸ˜‰

Jlebh,,tiba-tiba sesuatu menyentuh pipiku. He he tangan mungil anakku menyadarkanku dari khayalan panjangku. Akupun mendekapnya, menggendongnya masuk karena senja mulai merajuk ke peraduannya.

Semangat ’45 ku pun kemudian temaram. Sekilas aku tengok ke arah dua tetanggaku tadi. Dalam hati, aku pun hanya dapat berkata “Andai aku bisa“.

Demikian, semoga bermanfaat.

Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea. Tulisan ini berhasil menjadi pemenang ke-8 dan mendapat tanda mata persembahan Khadija Butik.

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

35 pemikiran pada “Andai Aku Bisa

  1. amiiiin…..perlu memang menyebarkan virus-virus parenting skills yang sangat penting…kita yang aware saja harus selalu membaca, melihat dan diingatkan lagi tentang seni menajdi orang tua yang baik..semoga terwujud dan happy blogging

  2. Mulia sekali khayalannya Bunda …. semoga diijabah Allah ya. Btw, ttg parenting memang ya yang banyak menggali ilmu itu golongan menengah ke atas. Ada kursus2 tapi biayanya mahal mana bisa yang menengah ke bawah mengikutinya ..

    Oya maaf baru main ke mari. Waktu Bunda komen di tulisan saya sebelum yang ttg Kaca Pecah itu, saya mau ke sini tapi saya klik gak ngelink, ada pesan kesalahan apa gitu. Sy bingung jg, mau nyari di FB, kayaknya di FB pake nama lain ya mbak?

  3. Itu kuncinya mak… “semua yang bisa kau bayangkan dan impikan, pasti bisa jadi kenyataan” Mulisa sekali cita2mu mak… semoga khayalan yg akan jadi kenyataan.. aamiin

  4. Fenny Ferawati

    Bundaaaa…pas banget dengan materi yang ingin Fenny share di Khadija Butik sebagai Inspirasi Muslimah, dimulai dari kita ya Bun untuk jadi contoh Rumah Parenting bagi yang lainnya πŸ˜‰

    Selamat menanti tanda mata dari Khadija Butik dan mbak Norma …

  5. Ping-balik: Bunda Aisykha: Kopdar Pertamaku | Bunda Aisykha

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s