Bunda Aisykha: Mengakhiri Kebiasaan Minum Susu Botol

Dear Bunda,

Apakah si kecil masih “ngedot”?
Sama, Aisyah juga, tetapi itu 3 minggu yang lalu.

Sebelumnya, aku sempat khawatir. Bulan Januari nanti Aisyah genap 3 tahun, tetapi masih minum “dot” dan seolah tak terpisahkan. Sekolah pun kadang-kadang masih minta dibawakan “dot”. Selain itu, saat minum susu dengan “dot”, Aisyah bisa menghabiskan 1000-1200ml susu atau setara 10 botol susu ukuran 120ml setiap hari. Padahal, kata dokter anak yang biasa menangani Aisyah, untuk usia 2,5 tahun ke atas normalnya minum susu 800ml per hari.

image

Menurutku, selama ini Aisyah sangat nyaman “ngedot” karena susu masuk ke dalam perutnya sedikit demi sedikit (lewat dot) sehingga tidak memberi efek kenyang di perut. Minum dari botol “dot” juga bisa dilakukan sambil tiduran. Dalam keadaan tidak sadar, susu yang masuk ke perut pun tidak terkontrol. Selain itu, alasan terkuatku untuk mengakhiri persahabatan Aisyah dengan “dot” adalah gigi depan Aisyah mulai mengalami caries gigi. Mungkin kandungan asam dalam susu pun berpotensi menyebabkan caries pada gigi kalau diminum pada waktu tidur. Belum lagi efek dari “dot” nya sendiri terhadap gigi Aisyah. Oleh sebab itu, akupun kemudian berusaha mencari cara agar Aisyah dapat minum susu dalam takaran normal sekaligus menghentikan kebiasaan “ngedot” nya, terutama pada saat tidur. Dan, beginilah caraku.

1. Prinsip Hypnoparenting

Sebelumnya, aku telah berhasil menghentikan kebiasaan Aisyah mengompol dengan prinsip ini. Akupun akan menggunakannya lagi untuk menghentikan kebiasaan “ngedot” Aisyah.

Inti dari prinsip ini adalah sugesti positif yang diulang-ulang. Sugesti paling tepat dimasukkan ketika buah hati sedang dalam kondisi rileks, nyaman, dan tenang. Seperti, sesaat sebelum dan setelah bangun tidur atau saat sedang nyaman bermain. Lengkapnya bisa dibaca di sini.

Sebelum aku mulai memisahkan Aisyah dari botol-botol kesayangannya, aku dan suami terlebih dahulu memasukkan sugesti-sugesti positif pada Aisyah. Misalnya:
Aisyah sudah besar, minum susunya di gelas, ya.”
Minum susu di gelas enak, lho”
“Kalau mau jadi juara, minum susunya di gelas dulu.”

Kalimat-kalimat seperti itu aku ungkapkan terus-menerus. Terkadang juga aku selipkan di sela-sela aktivitas Aisyah selama beberapa hari sampai Aisyah tertarik. Sugesti positif semacam itu aku berikan agar tidak muncul perasaan “dihukum” dalam diri Aisyah karena dikeluarkan dari zona nyamannya, yaitu zona “ngedot” πŸ™‚

2. Reward

Selama ini, Aisyah sudah mengenal minum di gelas, baik langsung maupun dengan sedotan. Tetapi, Aisyah belum pernah minum susunya dari gelas. Aku sangat memahami Aisyah. Mungkin akan terasa begitu berat bagi Aisyah untuk melepas botol-botolnya. Terlebih lagi untuk tidak minum susu selama tidur, baik itu tidur siang maupun malam.

Untuk menambah semangat dan ketertarikan Aisyah minum susu dengan gelas, akupun mencoba menawarkan reward untuk Aisyah.
Kalau Aisyah benar-benar mau minum susunya di gelas, insyaAllah Bunda belikan gelas lucu yang Aisyah suka. Gimana? Mau gelas baru..?”

Kalimat seperti itu aku tawarkan beberapa kali pada Aisyah agar semakin tertarik meninggalkan botol-botol susunya. Aku memang sengaja memberi “reward” pada Aisyah agar makin tertarik. Tak perlu yang muluk-muluk, cukup yang sederhana saja, agar tidak kesulitan menepatinya.

3. Kompak dan Konsisten

Aisyah sudah 2 tahun bersama botol-botolnya, tentu bukan hal yang mudah memisahkan Aisyah begitu saja dari botol-botolnya. Oleh sebab itu, aku mencoba membaginya menjadi 3 tahap, yaitu:

masa penjajakan~ aku membutuhkan waktu kurang lebih 4 hari untuk membujuk Aisyah, sekaligus mencoba memahami keinginannya. Selama 4 hari inilah aku gencar berhypnoparenting tentang minum susu di gelas dan juga menawarkan reward pada Aisyah.

masa percobaan~ setelah Aisyah setuju untuk minum susunya dengan gelas, aku tidak begitu saja menyingkirkan botol-botolnya. Botol masih berjajar rapi di meja, tetapi aku terus menyemangati Aisyah. Aku juga mengamati Aisyah ketika akan tidur. Maklum saja, biasanya Aisyah tidur nyaman sambil “ngedot”.

Aku juga masih memberi toleransi apabila tiba-tiba Aisyah muntah karena proses adaptasi dalam perutnya atau malahΒ  demam karena satu dan lain hal. Apalagi, pada saat awal minum susu di gelas, Aisyah memang beberapa kali hampir muntah karena minum susu dari botol “dot” tentu berbeda dengan minum susu langsung dari gelas.

Pada tiga malam pertama, Aisyah juga sempat merintih minta susu, tetapi aku terus memasukkan sugesti positif pada Aisyah. Akupun berusaha menenangkannya agar tidur nyenyak kembali. Misalnya:
Kalau minum susunya sambil tidur nanti tumpah, kan susunya di gelas”
“Gelas lucunya nanti batal, lho, kalau tidur sambil minum susu, sayang kan?”
“Sebentar lagi pagi, sabar, ya Nak.”

Aisyah tidak menyerah begitu saja. Pernah juga Aisyah tidak berhenti merintih. Seperti yang aku bilang tadi, aku masih memberi toleransi pada masa percobaan ini. Jadi, aku buatkan Aisyah susu di gelas, bukan di botol, kemudian aku beri sedotan. Awalnya Aisyah minum sambil tidur, mungkin karena tidak nyaman, Aisyah pun menyudahinya. Padahal,Β  baru 2-3 kali sedot. Alhamdulillah, esok harinya Aisyah mulai mengerti. Pada hari keempat hingga seminggu, Aisyah sudah mulai bisa tidur nyenyak tanpa minum susu.

action~ setelah hari ke-8, akupun mulai mengemasi botol-botol Aisyah dan aku tepati janjiku untuk membelikan Aisyah gelas lucu keinginannya. Dan sejak hari ke-8 itulah aku pastikan Aisyah sudah resmi minum susu di gelas. Alhamdulillah, sebelum dan sesudah bangun tidur menjadi jadwal wajib Aisyah minum susu. Selain waktu-waktu itu, Aisyah boleh minum susu, tetapi tetap, minum di gelas.

image

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur. Mungkin bagi sebagian orang ini hal biasa. Tetapi, bagiku, pengalamanku mengarahkan Aisyah ini menjadi hal yang sangat berarti. Menurutku, yang terpenting adalah kompak dan konsisten.

Kompak dengan seluruh anggota keluarga. Kompak demi kebaikan Aisyah. Kompak untuk memberi Aisyah minum susu di gelas. Aku dan suami memang agak tegas untuk hal ini. Aku tidak memberi toleransi hanya atas dasar “kasihan” selama Aisyah baik-baik saja. Satu saja ada yang kasihan, tahapan yang dijalani Aisyah bisa-bisa gagal.

Selanjutnya, konsisten pada rencana atau tahapan yang sudah kita buat. Sekali tidak lagi minum dengan botol, begitulah seterusnya. Aku memang sengaja tidak mengombinasikan antara botol dan gelas. Menurutku, itu tidak akan efektif untuk Aisyah, karena Aisyah begitu nyaman dan mencintai botol-botolnya. Mungkin, Bunda- bunda yang lain bisa mengombinasikan, tetapi tidak untukku dan Aisyah. Ibarat pepatah lama, sekali maju berjuang, pantang pulang sebelum menang. He he terdengar sadis sekali, ya? Tetapi, memang begitulah. Alhamdulillah, Aisyah sudah berhasil meninggalkan botol-botolnya dan mendapat “reward” yang aku janjikan.

image

Demikian, semoga bermanfaat.

With love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

21 pemikiran pada “Bunda Aisykha: Mengakhiri Kebiasaan Minum Susu Botol

  1. wiih.. tanpa sadar ternyata aku jg mempraktekan hypnoparenting ya, untuk memisahkan anak2ku dg dot, untuk untuk menyapih asi, untuk rajin sikat gigi, dll πŸ˜‰

  2. kalau syaikhan nggak pake ngedot waktu minum susu. biasanya saya gunakan sendok untuk meminumkan susu…. ya harus rajin… sesendok demi sesendok. setalah bisa megang…. dibelikan gelas seperti Aisyah juga.

  3. Patut di coba ini :D, anakku masih nggak bisa lepas dari dot mbak, kecuali tidur udah bisa tanpa ngedot, cuma pagi-pagi pas bangun tidur pasti selalu nyariin..

    Btw, Nama anakku juga Aisyah Mbak, tapi panggilannya Aiz πŸ˜€

  4. Aisyah pinter banget udah bisa minum pake gelas.. toss dulu dong πŸ˜‰ btw katanya emang nyapih botol itu lebih susah daripada nyapih ASI ya bun? benarkah? alhamdhulilah Nadia ga biasa ngedot..dari bayi kalo ngedot langsung keselek..bahkan pas aku tinggal pergi ASI tetep di sendokin.. rempong banget sih tapi alhamdhulilah Nadia blas ga kenal dot πŸ™‚

    1. He he,,toss,,Aku jg ngga bgitu paham mak,,tp kalo Aisyah emang agak sulit lepas dr botolnya,,Aisyah ngga sabar disendokin he he maunya ngedot trs ampe gi2nya mulai caries,,jadilah aku pakai cara ini,,

  5. Anakku dua2nya juga susah lepas dari dot. Si kakak baru mau lepas dot gara2 punya adek, malu katanya, dedek ngedot koq kakak juga ngedot πŸ˜€
    nah sekarang si adek yg 4 tahun nih klo bobok masih suka nyariin dot meskipun sudah bisa minum susu dari gelas πŸ˜‰

  6. Bunda arjun

    Q udh cb praktekin ke ank q bun,br 1 hr ini sih tp kdg msh suka ngambeg kl dksh gelas,mnt ganti dot trs,,tp kita ttp semangat,,dl aisyah pas awal2 pas mau tdr jg msh dkasih dot apa lgsg full gelas bun?

    1. Dibujukin dulu bun, sambil disugesti gt,,dia trlalu asyik ngedot soalnya,,jd dirayu2 dl biar mau lepas dot, nanti dibelikan hadiah apaa gt,,stlh dia mau, baru mulai pake gelas, stlh pakai gelas ya konsisten smbl trus disugesti dan ditmbh dg hadiah yg sdrhna2 aja,,

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s