Bunda Aisykha: Sambatan

Dear all,

Kemarin sore, tetangga depan rumahku terkena musibah. Ketika hujan deras melanda, atap rumahnya roboh. Alhamdulillah, tidak ada orang di dalam rumah karena sedang bekerja. Mengetahui itu, beberapa tetangga sekitar dan juga suamiku yang kebetulan baru pulang, tanpa dikomando segera merespon. Ada yang berangkat memberi tahu pemilik rumah yang sedang bekerja, ada yang melihat kondisi kerusakan rumah. Segera setelah pemilik rumah datang, beberapa tetangga yang sudah berkumpul kemudian bahu-membahu membantu pemilik rumah untuk memperbaiki rumahnya.
image

Itulah yang namanya “sambatan”. Sambatan berasal dari bahasa Jawa, “sambat” yang berarti meminta tolong. Sambatan merupakan salah satu bentuk gotong royong atau kerja bakti. Pada dasarnya, sambatan adalah bekerja bersama-sama, secara sukarela, berdasar kesadaran sendiri, dan tidak berpikir untuk mendapatkan upah atau bayaran. Sambatan merupakan bentuk solidaritas sesama tetangga untuk membantu tetangga lain yang sedang punya hajat atau terkena musibah tanpa melihat derajat, pangkat, maupun status sosial di masyarakat.

Sambatan adalah warisan luhur yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa dan “pernah” juga menjadi ciri khas bangsa kita. Sambatan menjadi tradisi turun-temurun yang masih terpelihara hingga sekarang. Rasa kebersamaan, solidaritas, dan tolong-menolong lah yang menjadi dasar tetap hidupnya sambatan hingga saat ini.

Akan tetapi, seiring dengan berubahnya gaya hidup serta pengaruh lingkungan, sifat individualisme pun mulai tumbuh subur dan mulai mengancam keberadaan sambatan dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, kegiatan sambatan ini pun berangsur luntur. Terutama di wilayah perkotaan, meskipun tidak menutup mata bahwa di wilayah pedesaan ataupun perkampungan pun mulai terjadi hal yang sama.

Meningkatnya kebutuhan hidup serta kesibukan menjalani pekerjaan menjadikan peribahasa “time is money” menjadi nyata adanya. Bahwa segala sesuatu akhirnya harus dinilai dengan uang. Sekecil apapun, harus ada imbalannya. Baik itu urusan pribadi, maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sehingga mampu mengikis semangat kebersamaan, empati, maupun rasa senasib sepenanggungan, yang pada akhirnya juga dapat melunturkan tradisi warisan leluhur, seperti sambatan ini.

Hidup bermasyarakat memiliki tata cara dan aturan tak tersurat, tetapi harus dipahami dan dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai anggota masyarakat. Rasa kebersamaan, persaudaraan, kepedulian, serta perasaan senasib sepenanggungan, tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Hubungan timbal balik lah yang seolah menjadi hukum tak tertulis, namun berlaku dalam bermasyarakat. Jika hari ini kita menolong, esok ketika kita membutuhkan, kita juga akan ditolong, begitu pula sebaliknya.

Aku sangat bersyukur, sambatan masih terjaga di kampungku. Seperti yang aku lihat sendiri kemarin sore. Meskipun, ada juga beberapa tetangga yang masih tutup mata, tutup telinga dengan kejadian tersebut. Tetapi, tak apalah. Masih banyak yang mau membantu dengan sukarela, meskipun gerimis dan udara dingin mendera.

Sambatan adalah tradisi luhur yang harus terus kita pelihara. Generasi boleh berganti. Globalisasi dan modernisasi boleh menyusupi. Akan tetapi, tradisi tak boleh dibiarkan terkikis dan kemudian mati. Terlebih, tradisi positif seperti sambatan ini.

Pada akhirnya, biarlah pepatah Jawa ini terus menjadi semangat untuk melanggengkan kerukunan dalam hidup bermasyarakat.
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, kanthi mujudake masyarakat kang sayuk rukun, saiyeg saeka praya.”
Mengerjakan pekerjaan bersama-sama tanpa pamrih untuk mewujudkan masyarakat yang rukun dan bersatu.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

10 pemikiran pada “Bunda Aisykha: Sambatan

  1. lrbersih

    Iya, kerasa banget waktu rumahku kebanjiran, semua tetangga begitu peduli membantu. Subhanallah… memang salah satu kebahagiaan adalah tetangga yang baik.

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s