Bunda Aisykha: Tentang “Soekarno”

Dear All,

Pada postingan sebelumnya, aku telah menceritakan pertemuan secara tidak sengajaku dengan bioskop baru di kotaku. Ada 2 film yang dapat kami pilih, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Soekarno. Tetapi aku sedang bersama suami dan Aisyah. Aku juga tahu pasti seberapa besar rasa nasionalisme yang menggenang di dada suamiku. Ditambah lagi, waktu untuk menonton 99 Cahaya telah lewat ketika kami sampai di situ. Akhirnya, kamipun memutuskan untuk menonton film Soekarno.

Setelah membeli tiket, kami bertiga, aku, suami, dan Aisyah pun masuk ke Studio 2. Pada tiket tertulis Studio 3, tetapi kami diminta masuk ke Studio 2. Mungkin karena memang baru mulai soft opening, jadi belum sesuai. Tak apalah.

Setelah menanti beberapa menit dengan ditemani beberapa iklan, film pun dimulai. Sebuah prolog yang menyentuh sisi nasionalisme penonton mengawali pemutaran film ini. Bendera merah putih memenuhi seluruh layar dan sesaat kemudian berkumandanglah lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

image
Dari film Soekarno

Seharusnya, bila sesuai dengan prolognya, kami harus berdiri. Demikian pula suamiku, yang memang terbiasa berdiri saat Indonesia Raya dikumandangkan. Tadinya, ia memang akan berdiri, tetapi karena tak ada satupun yang berdiri, diurungkanlah niatnya untuk berdiri. Kalau jadi berdiri, pastilah fokus penonton yang lain beralih ke suamiku πŸ˜‰

Film Soekarno ini mengisahkan tentang kehidupan Sang Proklamator. Mulai dari kecil, saat masih bernama Kusno yang sakit-sakitan, kemudian diruwat, diganti namanya menjadi Soekarno. Beranjak ke Soekarno muda, hingga menjadi proklamator bersama Bung Hatta. Terlepas dari segala kontroversi yang mengiringi pembuatan film ini, juga terlepas dari benar tidaknya runtutan sejarah dan peran pelaku-pelaku sejarahnya, film ini dapat aku katakan film nasionalis-romantis (istilah sendiri).

Film garapan sutradara kenamaan Hanung Bramantyo ini mampu menyajikan sifat-sifat nasionalis Soekarno yang kontras dengan kehidupan pribadinya yang digambarkan dengan sentuhan romantisme yang apik. Seperti ketika Soekarno muda yang jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan Mien, gadis Belanda teman sekolahnya. Akan tetapi, ketika Soekarno hendak melamar Mien, ia malah diusir karena kaum pribumi dianggap tidak sederajat dengan Belanda. Sejak saat itulah, ia mulai belajar pidato membela orang pribumi. Makin bertambah kuat lagi ketika ia mengikuti pamannya yang berorasi di hadapan simpatisan Sarekat Islam. Soekarno muda makin bersemangat membela kaumnya yang tertindas, kaum pribumi.

Aku memang tak terlalu mengenal sosok Soekarno. Aku hanya pernah mendapat pengetahuan tentang Soekarno dari pelajaran di sekolah. Itupun hanya sekelumit dan terbatas pada Soekarno-Hatta Sang Proklamator. Selain itu, aku juga pernah membaca sedikit cerita hidup dan kalimat-kalimat orasinya yang terkenal, yang aku dapatkan pula beberapa di film ini.

Kehidupan pribadi Soekarno justru baru aku temukan di film ini. Sekali lagi, terlepas dari benar tidaknya kaitan dengan para pelaku sejarahnya. Tapi, aku yakin, sutradara besar seperti Hanung Bramantyo, tidak akan gegabah dalam pembuatan film tentang seorang tokoh besar, seperti Soekarno ini.

Sosok Soekarno yang dapat aku petik dari film adalah seorang nasionalis, pejuang, pemikir, pembaca, guru, teladan, yang disegani dan dihormati pada masanya karena pemikiran-pemikirannya. Karena usaha-usahanya untuk mewujudkan Nusantara yang dicetuskan oleh Patih Gajahmada dalam Sumpah Palapanya. Selain itu, Soekarno juga dianggap penghianat oleh kaum muda pada masanya karena memilih bekerja sama dengan Jepang. Padahal, ia melakukannya untuk meraih kemerdekaan yang damai tanpa pertumpahan darah.

Soekarno dapat mengambil hati siapa saja dengan kerja nyata tanpa mementingkan kepentingan dirinya maupun kemelut rumah tangganya. Soekarno mampu merangkul kaum muda, ulama, bahkan dengan penjajah kala itu. Pancasila yang ia cetuskan dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 menjadi simbol bahwa Soekarno ingin merangkul semua pihak, berbagai kepentingan yang semuanya untuk rakyat, agar bersatu untuk mewujudkan negara yang merdeka. Bukankah begitu seharusnya seorang pemimpin?

Di sisi lain, aku melihat ada peran wanita-wanita kuat yang mengiringi Soekarno. Wanita-wanita yang tabah dan setia mendampingi perjuangan Soekarno. Bu Inggit yang anggun dan cantik juga Bu Fatmawati yang cerdas dan enerjik. Yang mana karena alasan itulah Soekarno mulai tertarik pada Fatmawati muda ketika hidup dalam pembuangannya di Bengkulu. Fatmawati muda, gadis yang sebaya dengan putri Bu Inggit. Baik Bu Inggit, maupun Bu Fatmawati, keduanya adalah sosok kuat yang mencintai dan mendukung perjuangan Soekarno, tanpa banyak bertanya dan tanpa banyak mengeluh.

Terlepas dari itu semua, Soekarno memang memiliki daya tarik yang luar biasa, terutama bagi kaum hawa. Kecerdasan yang dimiliki Soekarno lah yang justru membuat Beliau “mempesona” bagi kaum hawa, di samping tampilan fisik yang memang cukup sempurna. Dalam film ini, kehidupan pribadi Soekarno digambarkan silih berganti dengan perjuangannya.

Dialog-dialog kuat dan tegas khas nasionalis berpadu dengan dialog lembut nan romantis. Sehingga memunculkan ritme yang menarik, perpaduan antara nasionalis didukung dengan tampilan-tampilan romantis yang sesekali menyentuh hati. Seperti ketika, Soekarno memutuskan bercerai dengan Bu Inggit. Dialog antara Soekarno dan Bu Inggit untuk terakhir kalinya sebelum Bu Inggit keluar dari rumah di Pegangsaan Timur, sanggup membuat aku meneteskan air mata.

Sebagai seorang penikmat awam, aku mengagumi peran-peran dalam film ini. Ario Bayu yang terlihat begitu gagah berperan sebagai Soekarno, Maudy Koesnaedi yang begitu anggun memerankan Bu Inggit, Tika Bravani yang bermain apik sebagai Bu Fatmawati, Lukman Sardi yang terlihat dewasa sebagai Bung Hatta, Tanta Ginting pemeran Syahrir yang total perwainan wataknya, serta Agus Kuntjoro yang berperan sebagai Gatot. Meskipun demikian, aku merasa film ini juga memiliki kekurangan.

Bagi orang yang tahu sejarah atau mengerti pelaku-pelaku sejarah di sekitar Soekarno pada masa itu, mungkin akan dapat memahami cerita ini secara keseluruhan. Sebab, film ini dibuat berdasarkan sejarah, kisah nyata, bukan cerita rekaan. Akan tetapi, bagiku yang tak terlalu mengerti sejarah, merasa sedikit kesulitan untuk mengenali siapa-siapa tokoh di dalamnya. Yang bisa aku ingat paling-paling Syahrir dan Laksamana Maeda. Gatot juga sering berperan, tetapi aku tidak paham Gatot siapa itu. Gatot Subroto, kah, atau bukan?

Aku akan lebih mudah menikmati film ini apabila disertakan juga teks tertulis nama-nama tokoh yang berkaitan dengan Soekarno dalam film. Terutama untuk tokoh Indonesianya. Misalnya, ketika sedang menyusun teks proklamasi. Ada 3 tokoh dalam ruangan, Soekarno, Bung Hatta, dan satu lagi tokoh yang aku tidak tahu siapa, karena aku memang tak begitu hafal sejarah. Aku hanya ingat, yang mengetik teks proklamasi adalah Sayuti Melik. Selain itu, aku tak hafal. Seperti halnya dengan runtutan peristiwa dan tempat kejadian. Aku sudah bisa paham, karena memang ada teks tertulis yang menunjukkan tanggal dan tempat kejadiannya.

Selain itu, setting tempat yang sepertinya banyak diambil di daerah Ambarawa dengan lokomotif dan loji-loji tuanya, memang mampu menambah kesan tempo dulunya film ini. Hanya saja, menurut penglihatanku, ada latar tempat yang menggunakan lokasi yang sama dengan film “Ainun & Habibi”. Bagi penikmat yang pernah menonton film “Ainun & Habibi” sebelumnya, pasti akan dengan mudah mengenali sudut tersebut.

Sekali lagi, terlepas dari semua kontroversi dan kekurangan yang ada, film ini adalah film yang kuat. Spirit kebangsaan, kekuatan cinta, pesan moral tentang perjuangan meraih sesuatu, tentang persatuan, tentang menjadi pemimpin, tentang kehidupan, bertebaran dalam film ini, dari awal hingga akhir.

Bagi yang sudah menonton film ini mungkin akan merasakan hal yang sama denganku. Menonton film ini dapat membuat kita merasakan sesuatu yang mungkin selama ini pernah hilang dari dalam diri kita. Semangat nasionalisme.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

23 pemikiran pada “Bunda Aisykha: Tentang “Soekarno”

  1. Ping-balik: Bunda Aisykha: Akhirnya Ada Juga | Bunda Aisykha

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s