Bunda Aisykha: Piala Bukan Tujuan Utama

Dear All,

Di sela-sela keribetanku beberapa waktu lalu, aku iseng-iseng mendaftarkan putriku Aisyah untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh toko perlengkapan bayi terkenal di kotaku bekerja sama dengan sebuah produk susu. Sebenarnya ada 3 buah lomba, tetapi yang bisa diikuti putriku yang berusia 3 tahun hanya 2 lomba saja, yaitu lomba menyusun ring donat dan lomba foto genik.

Setelah berdiskusi dengan Abi, aku hanya mendaftarkan Aisyah untuk satu kategori lomba saja, yaitu menyusun ring donat untuk usia 2-4 tahun. Aku pikir Aisyah dapat lebih mengasah kemampuan otaknya dengan mengikuti lomba tersebut. Selain itu, aku juga lumayan trauma dengan lomba foto genik karena penilaiannya sangat subyektif, tergantung selera juri. Jadi, lebih baik tidak usah lah πŸ˜‰

Ini bukan kali pertamanya Aisyah mengikuti lomba. Aisyah sudah beberapa kali mengikuti lomba sejak masuk play grup. Jadi, Aisyah sudah lumayan terbiasa dengan situasi dan euphoria lomba balita.

Aisyah dapat nomor urut 21 dari jumlah peserta sekitar 60 an balita. Aisyah dengan sabar menunggu giliran. Karena setiap kali lomba hanya 3 peserta dan juaranya ditentukan berdasarkan urutan waktu tercepat. Aku melihat Aisyah sangat tenang atau malah sedikit ngantuk karena lomba dimulai pukul 11.30 πŸ™‚

Aku juga melihat anak-anak lain yang mengikuti lomba dengan berbagai keunikannya. Ada yang diam saja, ada yang menangis, ada yang ngambek karena di lepas orang tuanya, ada juga yang orang tuanya heboh sendiri, dan ada juga yang sampai orang tuanya gemes dan ring donatnya disusun sendiri karena anaknya belum paham yang harus dilakukan πŸ™‚ Namanya saja orang tua. Tetapi, panitia lomba sangat fair, segala bentuk bantuan orang tua tidak dapat ditolelir.

Saat akan tiba giliran putriku, aku pun memberinya sedikit pengertian. Aku yakin Aisyah sudah sangat paham apa yang harus dilakukan karena ring donut bukanlah permainan baru baginya.

Akhirnya, tibalah giliran putriku. Ia masih sangat tenang, atau sebenarnya tegang, ya? Justru aku lah yang sangat bersemangat. Mencoba memberi semangat pada putriku. Dan akhirnya, dari 3 peserta, putrikulah yang paling cepat.

image
Suasana saat lomba

Saat itulah aku baru melihat semangat kemenangan di wajah putriku. Dia pun melompat-lompat kegirangan dan melakukan toss denganku. Akupun memeluknya πŸ™‚

Sungguh, kegembiraan putriku ini baru sekali ini aku melihatnya. Aisyah pun menyadari betul kemenangannya, ia pun berteriak-teriak,
“Yeay, yeay, dhek Icha menang, dhek Icha menang, dhek Icha menang kan, Bun?”
Aku pun hanya mengangguk, karena aku belum tahu pasti apakah Aisyah menang atau tidak nantinya. Aisyah yang tercepat di grupnya, tetapi belum tentu juga jadi juara, karena pemenangnya berdasarkan urutan waktu tercepat dari seluruh peserta. Tapi, menang atau tidak nantinya, usaha putriku akan tetap aku apresiasi.

Pukul 14.00 pemenang pun diumumkan, dari juara 1-3 nama Aisyah tidak disebut. Itu bukan masalah bagiku, karena dapat piala atau tidak, usaha putriku akan tetap aku apresiasi sendiri agar Aisyah tetap semangat. Tetapi, saat juara harapan 1 diumumkan, ternyata namaku dan Aisyah yang disebut. Alhamdulillah, berdasarkan urutan waktu keseluruhan, Aisyah masuk urutan 4 dari 60an peserta dan mendapat Juara Harapan 1. Aisyah berhak membawa pulang piala dan sebuah bingkisan dari sponsor.

image
Aisyah dan piala pertamanya

Alhamdulillah, Aisyah menang dan mendapat hadiah. Tetapi, bukan itu tujuan utamaku mengikutkan Aisyah lomba. Menang dan dapat piala adalah bonus atas usaha Aisyah.

Poin utamanya adalah pengalaman. Lebih berharga dari apapun. Pengalaman berkompetisi, ketegangan, larut dalam euphoria lomba, dan merasakan kekalahan ataupun kemenangan adalah pengalaman yang tak tergantikan.

Selanjutnya, adalah latihan mental. Keberanian dan kemandirian Aisyah. Lomba atau kompetisi mengajarkan Aisyah untuk berani dan mandiri menyelesaikan tugas yang dilombakan. Tidak malu, menangis, atau ngambek dapat dipupuk melalui lomba-lomba semacam ini.

Dan terakhir, adalah kejujuran. Sportivitas ketika mengikuti lomba adalah bagian dari kejujuran yang harus ditanamkan pada anak sejak dini. Tidak hanya sang anak, orang tua juga harus sportif ketika menemani sang anak mengikuti lomba.

Nah, itulah pengalamanku mengikutkan putri kecilku lomba. Piala bukanlah tujuan utama. Menang atau kalah, menjadi pengalaman yang tak tergantikan. Tergantung, bagaimana kita menyikapinya.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Posted from WordPress for Android
Thank you for coming. May Allah always give u n u’re family all d best. Amin.

Iklan

4 pemikiran pada “Bunda Aisykha: Piala Bukan Tujuan Utama

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s