Bunda Aisykha: Mencoba Memahami Masa Sulit Anak

Dear All,

Lama sekali tidak singgah di dumay dan berkunjung ke rumah teman-teman maya.  Sampai hari ini, dimana hatiku begitu kuat menggerakkan jari-jemariku untuk menari di atas ColorNote, diantara antrian pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerjaku.

Beberapa hari ini, kegalauan menyelimutiku. Hati yang gundah gulana, resah tiada terkira menatap putri kecil kesayanganku menjalani hari-harinya. Putri kecilku yang makin aktif, makin cerdas, dan makin banyak maunya.

image

Hingga di satu hari, akupun tersentak, karena aku mendadak berhadapan dengan gadis kecil yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Putri kecilku yang baik, manis, dan penurut, berubah dalam semalam, menjadi putri kecil yang pemarah, pemberontak, dengan segala macam tuntutan.

image

Putriku, Aisyah, 3 tahun 4 bulan. Aku seperti berhadapan dengan makhluk kecil lain yang bahkan tidak pernah aku kenal. Menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Membuatku dan Abi selalu merasa serba salah ketika harus mengambil tindakan. Aisyah, Kenapa? Please, bicara, ini Bunda!

Aisyah seperti orang lain bagiku. Dengan segala cara yang bisa aku lakukan, aku mencoba mengembalikan putri kecilku, tetapi keadaan belum juga membaik dalam beberapa hari. Aisyah lebih senang menuangkan isi hatinya pada Bunda Kelasnya. Dan mengharuskan aku untuk segera mencari solusi agar tidak makin memburuk.

Kupacu sepedaku bersama Aisyah yang aku bonceng di belakang. Aku mengantar Aisyah sampai depan kelasnya. Aku pun segera bergegas menemui kepala sekolah Aisyah yang juga seorang psikolog, Bunda Lilis, namanya. Aku ceritakan semua yang mengaduk-aduk hatiku pada Bunda Lilis. Kutarik nafasku dalam-dalam, aku bersiap menerima jawaban tentang semua gundah gulanaku.

“Bunda, anak usia 3 tahun lebih, memang sedang masanya demikian, akan muncul letupan-letupan kecil  atau mungkin ledakan yang akan sangat mengejutkan. Anak sedang mengalami masa sulit yang bahkan tidak diinginkannya. Anak sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Apa yang dialami Aisyah saat ini masih wajar, atau malah ini baru pemanasan, tapi bunda tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita menghadapinya.”

Alhamdulillah, angin segar lereng pegunungan seperti sedang menerpaku saat ini. Tapi, panas terik pun beradu menyusup diantaranya. Karena, PR terbesarku dan Abi adalah belajar bagaimana cara menghadapinya. Dan, itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Ada beberapa cara yang disarankan Bunda Lilis padaku dalam obrolan panjang pagi itu di ruang kepala sekolah.

Pertama, mencoba mengerti dan memahami bahwa anak sedang dalam masa perkembangan yang cukup sulit, yang bahkan juga di luar kontrolnya sendiri. Beri perhatian yang cukup agar anak tidak merasa terabaikan.

Kedua, Ingat, Tanpa Kekerasan Fisik. Kekerasan fisik bukanlah cara tepat dan jelas tidak akan mengatasi masalah. Tetapi, justru akan membuat anak merasa tertantang untuk melakukannya lagi dan lagi.

Ketiga, Ajak anak bicara, dari hati ke hati. Kalau kita bicara dengan hati, insyaAllah anak juga akan memahaminya dengan hati. Cobalah untuk tidak melakukan kekerasan verbal, seperti mengancam yang berlebihan, karena anak akan lebih tertekan secara psikologis. Bicaralah dari hati ke hati.

Keempat, Ulang-ulang kata-kata positif. Mensugesti anak dengan kata-kata positif berulang-ulang akan lebih mudah direkam dalam memori sang anak. Terutama saat anak akan terlelap di malam hari. Bicaralah terus dan terus, ulang, ulang, dan ulang lagi, anak akan merekam dalam memorinya sendiri.

Kelima, Terapkan reward and punishment. Beri pujian ketika anak melakukan hal-hal baik dan beri hukuman yang selayaknya. Ketika anak melakukan kesalahan, mulailah dengan mengingatkan, kemudian lanjutkan dengan membuat kesepakatan. Ingatlah untuk berusaha menepati janji atau memegang komitmen kita, agar tidak ada celah bagi anak untuk memanfaatkan ‘ketidakkomitmenan’ kita.

Keenam, anak  adalah cerminan dari kita. Introspeksi diri kita masing-masing terutama cara kita mengelola emosi atau ketika sedang menghadapi masalah. Karena anak, adalah Sang Peniru Ulung.

Ketujuh, sabar. Istighfar. Semarah apapun kita pada anak, berusahalah untuk terus mengucapkan kalimat-kalimat positif, doa-doa untuk kebaikan dan kesuksesan anak kita. Ridha Orang Tua pada anak, berarti Ridha Allah.

Nah, siapa yang kebetulan mengalami permasalahan yang sama denganku. Mencoba memahami masa sulit anak. Ayo, sama-sama belajar menjadi orang tua, karena tidak ada universitas parenting di dunia. Karena kita akan terus belajar menjadi orang tua sepanjang hayat kita.

Demikian, semoga bermanfaat.

Aisyah, honey bebi, I will always loving U, Whatever U Did. And I will pray, all the best for U. Mmuuaach.

With Love,
Bunda Aisykha

Iklan

12 pemikiran pada “Bunda Aisykha: Mencoba Memahami Masa Sulit Anak

  1. Hoo ada tahapan yang seperti itu ya mba, terima kasih ya sharingnya ^^. Semoga Aisykha melewati fase ini dengan baik dan bikin aisykha tambah soleh dan pintar yah, aamiin

  2. Ping-balik: Belajar Mendidik Anak ala Game Edukatif di Android | Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s