Sekolah Arab

Dear All,

Sekolah Arab, begitulah suamiku biasa menyebutnya karena anak-anak belajar huruf Arab atau huruf Hijaiyah di sekolah ini. Istilah orang-orang di kampungku lain lagi, sekolah sore atau sekolah “ngaji”. Aslinya, sebutan untuk sekolah ini adalah RTQ atau Roudloh Tarbiyyatil Qur’an. Kurang lebih dapat diterjemahkan sebagai TPQ atau Taman Pendidikan Al Qur’an.

Sekolahnya setiap sore, mulai pukul 16.00-17.00, karena itu sering disebut sekolah sore. Masuk setiap hari, dan libur di hari Jumat. Pelajarannya adalah mengaji, dengan panduan buku Jilid, dari Pemula sampai Tajwid. Sepengetahuanku, ada 6 kelas di sekolah ini, dibedakan berdasarkan tingkatan Jilid yang dipelajari. Peserta didiknya rata-rata berusia 3-12 tahun.

Bagiku, justru di sekolah inilah sekolah yang sebenarnya. Di mana anak berbaur apa adanya, dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, rata-rata menengah ke bawah, dengan perilaku yang benar-benar terbentuk alami oleh lingkungan.

image

Awalnya Aisyah mungkin bingung dengan situasi di sekolah baru ini. Aisyah yang terbiasa dengan keteraturan dan kenyamanan di sekolah formalnya, kemudian berhadapan dengan situasi yang ramai, gaduh, riuh, bebas membeli makanan atau minuman yang berjajar di pintu masuk, dan suasana tidak terlalu nyaman lainnya. Belum lagi ketika Aisyah harus memahami bahasa Jawa Ngoko yang digunakan oleh sebagian besar temannya ketika berinteraksi.

Sejak kecil, Aisyah memang aku biasakan berbahasa Indonesia, agar lebih mudah menyerap berbagai pengetahuan baru. Hal itu memang membuat Aisyah tak terlalu bisa memahami bahasa Jawa. Akupun sudah memberi tahu Ustadzahnya tentang hal itu. Mungkin karena itu juga, Aisyah lebih senang duduk tenang di bangkunya sambil memperhatikan teman-teman kelasnya, dan sesekali berinteraksi dengan Ustadzahnya yang ramah.

Aku sudah memikirkan berbagai konsekuensi yang akan muncul dari keputusanku memasukkan Aisyah di sekolah ini. Hingga pada akhirnya, berhadapan dengan dua pertanyaan besar, akankah Aisyah bertahan dengan dirinya, dengan caranya? Atau larut mengikuti cara bergaul teman-teman barunya?

Pertanyaan-pertanyaan ini pun muncul sebagai jawabannya.

Apakah sekolah ini baik untuk Aisyah?

Ya, dan Tidak

Mengapa?

Ya, karena ilmu agamanya yang akan berguna untuk Aisyah di masa mendatang. Selain itu, bersama banyak teman, Aisyah bisa lebih semangat belajar mengaji, daripada Aisyah harus belajar mengaji dengan cara privat di rumah.

Di sekolah ini, Aisyah juga bisa berbaur dengan anak-anak biasa, berbeda dengan teman-teman di sekolah formalnya yang rata-rata kelas menengah ke atas. Aisyah bisa belajar kesederhanaan di sekolah ini. Aisyah juga akan belajar untuk berteman dengan siapa saja, tanpa membandingkan status sosial, sejauh perilakunya baik.

Tidak, karena lingkungan sekolah ini memang bukan yang terbaik untuk Aisyah.

Berarti ada sekolah lain yang lebih baik?

Ada, banyak, tetapi jauh, di luar kampung ini. Waktu sore harinya akan habis untuk perjalanan saja. Sedangkan Aisyah, juga membutuhkan waktu untuk istirahat. Selain itu, Aisyah harus belajar bersosialisasi, di luar sekolah formalnya di pagi hari. Ini lingkungannya, tetangganya, dunia kecilnya, kampung halamannya, Aisyah juga harus belajar untuk mengenalnya.

Sejak Aisyah mulai mengenal dunia, aku memang agak mengisolasinya dari pergaulan anak-anak di kampung ini yang memang tidak terlalu bagus. Aisyah masuk Play Grup di usia 2 tahun juga karena itu salah satu alasannya. Teman Aisyah di kampung ini tidaklah banyak. Aku sengaja memberinya batasan.

Sekarang, di saat Aisyah sudah mulai bisa memahami mana yang boleh atau mana yang tidak, aku mulai mengenalkannya dengan lingkungannya, salah satunya melalui sekolah Arab ini. Meskipun masih tetap dalam pengawasanku, setidaknya Aisyah mulai membiasakan diri berbaur dengan teman-temannya, dengan lingkungannya, tempatnya tinggalnya.

image
Aisyah dan beberapa teman barunya

Bagaimana kalau Aisyah berubah, liar, perkataannya jelek, dan lain sebagainya?

Karena itulah aku selalu berusaha meluangkan waktu untuk duduk manis di luar ruang kelas selama Aisyah mengikuti pelajaran. Urusan di dalam kelas, sepenuhnya aku percaya pada pengajarnya, yang tentu memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih dari aku. Tugasku hanyalah memastikan Aisyah tetap bergaul sewajarnya, berbaur dengan teman-temannya dari berbagai latar belakang keluarga. Sesekali memberitahu Aisyah, mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang boleh dan mana yang tidak, agar Aisyah mengerti. Itu saja.

Bagaimana pola mengajar di sekolah sore ini?

😀 Sejujurnya, sekolah ini memang sangat bertolak belakang dengan sekolah Aisyah di pagi hari. Di sini, anak dibiarkan saja, melakukan yang mereka suka, tanpa larangan yang berarti, dan tanpa aturan yang ketat atau mengikat. Pengajarnya lebih fokus pada pelajaran mengaji. Setor bacaan, menulis beberapa huruf hijaiyah, dan pengetahuan tentang Islam lainnya.

image
Aisyah dan suasana di Sekolah Arabnya

Tetapi, sesekali memang, pengajar memberi peringatan pada anak-anak yang terlalu bandel. Pengajar di sekolah ini memang wajib punya cadangan sabar yang berlimpah, karena anak-anak sering semaunya sendiri, panjat sana panjat sini, keluar kelas, berlarian kesana-kemari. Sehingga beberapa kali, pengajarnya harus mengalah, memanggil, dan kemudian membawa mereka kembali ke dalam kelas untuk mengaji. Menurutku, begitu sudah bagus.

Akupun menjadi begitu maklum. Sekolah ini bukan sekolah formal seperti PAUD atau playgrup, yang fokus pada perkembangan anak. Ini hanya sekolah sore, sekolah mengaji. Setiap hari, hanya 1 jam waktu belajarnya. Sekolah mengaji yang setiap bulannya hanya membayar uang syahriyah 10.000 rupiah. Jumlah yang teramat sangat murah untuk ilmu agama yang bisa didapat anakku, Aisyah.

Jadi, sangatlah berlebihan jika kemudian aku menuntut terlalu banyak dari sekolah ini. Tentang pola pendidikan, cara mengajar, atau kompetensi pengajarnya. Yang penting Aisyah mendapat tambahan ilmu agama, di samping dari sekolah formalnya. Aisyah juga lebih semangat belajar mengaji karena banyak teman. Sekaligus, Aisyah bisa belajar bersosialisasi dengan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya melalui sekolah Arab ini. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Iklan

3 pemikiran pada “Sekolah Arab

  1. Ping-balik: Ketika Beda Selera | Bunda Aisykha

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s