Mau [Lagi], Bun! Dan [Lagi]

Dear All,

Pernahkah mengalami, anak mau sesuatu dan terus-terusan mau itu?

Aisyah, putri kecilku, he he kalau Aisyah tau aku menyebutnya kecil, pasti dia akan protes.
Dhek Icha udah besar, Bun, ngga kecil lagi!” (Sambil berdiri menunjukkan tubuhnya yang sudah bertambah tinggi)

πŸ˜‰ Begitulah putriku, Aisyah. Aisyah sekarang ini sedang gemar sekali “ngemil” keju. Dulu, Aisyah pernah sangat tidak bersahabat dengan keju. Aisyah memang sempat alergi terhadap beberapa jenis makanan tertentu. Tetapi, aku tetap berusaha mengenalkannya kembali sedikit demi sedikit. Seiring bertambah usianya, keju sekarang justru jadi cemilan kesukaan Aisyah.

Aisyah bisa memakan keju begitu saja, seperti jajanan lainnya. Atau minta diparutkan di atas roti tawarnya bersama coklat butir. Aisyah selalu minta diparut sampai menumpuk seperti gunung. Setelah itu dijambal kejunya sampai rata, baru rotinya dimakan. πŸ˜‰

image

Aisyah kalau sudah suka sesuatu memang agak susah dikendalikan. Seperti ketika suka pada keju ini. Pagi, sarapan roti dengan keju. Siang, keju dicemil begitu saja. Sore, juga begitu. Meskipun tidak mempengaruhi hasratnya untuk makan nasi, tetapi sesuatu yang berlebihan pastinya tidak baik, bukan?

Harus ada cara, agar Aisyah tetap makan makanan kesukaannya, tetapi tidak terus-terusan. Dan tentu, tanpa diprotes. Karena, kalau dilarang begitu saja, Aisyah akan protes dan bertanya “Lho, kenapa, Bun?” Kenapa ini? Kenapa itu? Panjaaaang πŸ˜‰

Aisyah ataupun anak seusia Aisyah lainnya, kalau sudah suka, pasti maunya minta lagi, dan lagi. Kalau tidak dituruti, pasti ada saja cara untuk membuat orang tuanya bertekuk lutut. Hal semacam ini tentu tidak bisa dibiarkan, bukan?

Jadi, harus dicoba untuk dikendalikan. Yah, mengendalikan keinginan anak yang berlebihan, memang bukanlah hal mudah, tetapi tetap harus dicoba agar anak tau batasan. Untuk Aisyah, biasanya aku pakai dua cara.

Cara pertama, mengalihkan perhatian.

Jadi, aku tidak melarang begitu saja, ketika Aisyah minta keju. Tetapi, begitu Aisyah sudah mulai berlebihan makannya, akupun mulai mengalihkannya. Bisa dengan menawarkannya makan buah, minum air putih, atau mengajaknya bermain agar lupa pada keinginannya “ngemil” keju. Tentu dengan kemasan kalimat yang lebih menarik agar Aisyah tertarik.

Misalnya,
Kayaknya apel yang di kulkas enak dech, mau dikupasin ngga? Dingin, lho,,,”
Minum air putih siang-siang gini, segernyaaa, adhek mau?

Cara yang kedua, adalah make a deal.

Make a deal atau membuat kesepakatan. Membuat kesepakatan dengan Aisyah memang lebih susah daripada sekedar mengalihkan perhatiannya.  Aisyah bisa saja mencari celah untuk melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Tetapi, terkadang aku juga menggunakan cara ini agar Aisyah lebih disiplin. Kuncinya adalah kita harus konsisten.

Misalnya,
Kalau pagi ini Aisyah mau kejunya segunung, berarti Aisyah baru boleh makan keju lagi, besok pagi waktu sarapan. Bunda buatkan lagi gunung kejunya. Gimana? Mau kan?
Bunda hitung sampai 3, kalau lama jawabnya, berarti gunung kejunya yang ini batal, lho?” (sambil kedip-kedip)

Biasanya Aisyah masih akan mengeluarkan jurus “ngeles”nya.
Kalau dhek Icha ngga mau gunung keju sekarang, makan kejunya kapan?
Atau
Kalau gitu makan kejunya siang aja ah, pas bunda kerja!
Nah loh, malah parah, kan?

Aku jawab saja,
Yang bisa bikin gunung keju cuma bunda, lho? Hayoo, atau batal aja gunung kejunya pagi ini?” (sambil pegang kejunya)

Aisyah pasti akan langsung setuju, karena jelas dia tidak mau kehilangan gunung kejunya. Sambil aku membuat gunung keju, akupun mengulang-ulang kesepakatan yang telah dibuat agar Aisyah lebih memahaminya. Setelah itu, aku rapikan semua kejunya, aku simpan baik-baik agar Aisyah tidak tergoda dan lebih mudah menjalankan kesepakatan.

Terkadang, kasihan juga mengambil kenyamanan atau kesukaan anak sebagai syarat. Tetapi, rasa kasihan kita yang tanpa batasan juga dapat berdampak negatif terhadap anak. Batasan itu perlu, agar lebih seimbang. Yang paling penting adalah kreativitas kita mencari cara yang tepat untuk memberi batasan pada anak.

Demikian, semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Thank You for coming. May Allah always giving you and your family all the best πŸ™‚

Iklan

16 pemikiran pada “Mau [Lagi], Bun! Dan [Lagi]

  1. iya mak, saya pusing kalo udah minta permen lagi n lagi, menyesal dikenalkan pada permen n setiap di ajak ke minimarket/supermarket n dia liat itu permen hrs dikasi dan hars dihabisan sekejab, gawaaat banget hiks

  2. Ping-balik: 5 Sebab Anak Susah Gemuk – Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s