Menuju Indonesia Sehat, Pintar, Sejahtera, dan Mandiri

Dear All,

Melihat berita pagi ini di sebuah stasiun televisi swasta nasional, membuatku tertarik. Topik yang dibahas adalah tentang penerbitan berbagai macam kartu dari pemerintahan baru. Kalau tidak salah, ada Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Aku pun kemudian menyambungkannya dengan berita yang aku lihat kemarin, dimana salah seorang Menko juga membagikan kartu nelayan untuk nelayan pesisir di Cilacap.

“Banyak sangat macam kartunya?” pikirku.

“Apa tidak bisa diintegrasikan menjadi 1 kartu saja yang dapat digunakan untuk berbagai fasilitas?”

Kalau melihat beberapa fasilitas yang ditawarkan, seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, sangat dimungkinkan, 1 keluarga yang dikategorikan miskin, tentu akan membutuhkan fasilitas berobat gratis, sekolah gratis untuk anak-anaknya, sekaligus bantuan kesejahteraan. Bukankah akan lebih efisien dan mudah terpantau, kalau diintegrasikan menjadi 1 kartu saja? Selain itu, rata-rata penduduk di negeri ini yang “asli miskin” (maaf), tingkat pendidikannya juga tidak terlalu tinggi, jadi mungkin akan kesulitan memahami prosedur penggunaan kartu yang sekian banyak.

Aku pribadi, sangat mengapresiasi program pemerintah yang mencanangkan program wajib belajar 12 tahun. Menurutku, ini kemajuan, ini semangat perubahan. Ini berarti pemerintahan Kabinet Kerja, semangat ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negeri ini. Siapapun, anak usia sekolah, di manapun berada, wajib bersekolah tanpa terkecuali, karena ini juga menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan Kartu Indonesia Pintar. Namun, lagi-lagi dompet rakyat di negeri ini mungkin akan penuh dengan kartu. Dan menurutku, 1 kartu saja sebenarnya bisa mengakomodir keseluruhan program yang telah disusun.

Lepas dari banyaknya kartu yang akan dibagikan, dan apresiasiku terhadap kartu pintar dan program wajib belajar 12 tahun, aku sangat menyayangkan munculnya kembali  wacana BLT atau BLSM sebagai solusi pengurangan dampak kenaikan BBM pada rakyat miskin. Meskipun ditransformasikan dalam bentuk yang lain yaitu Kartu Keluarga Sejahtera dengan kelebihannya yang menggunakan e-money atau uang elektronik, untuk mendukung gerakan nasional nontunai. Namun, permasalahan lama yang akan kembali muncul adalah ketergantungan masyarakat terhadap pemberian pemerintah. Beberapa pengamat yang aku perhatikan, menyatakan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap pemberian pemerintah ini justru akan mengurangi kreativitas dan etos kerja masyarakat. Belum lagi keakuratan data para penerimanya, antara masyarakat yang “asli miskin” yang memang layak, dengan masyarakat yang “mengaku miskin” yang sebenarnya kurang layak menerima bantuan ini.

Sependapat dengan hal tersebut, menurut pendapat seorang ibu dengan pemikiran yang dangkal seperti aku, mungkin akan berbeda halnya, bila pemerintah membuka lapangan-lapangan kerja baru, menambah volume pemberian ketrampilan dan pelatihan kerja seperti yang sudah berjalan, mengembangkan potensi industri rumah tangga dan UMKM, pengembangan potensi pertanian dalam bentuk ketersediaan pupuk dan teknologi pertanian, juga  pengembangan dan pelatihan teknologi perikanan untuk nelayan-nelayan pesisir.

image

Produktivitas masyarakat bisa lebih meningkat dan perjalanan menuju ke tingkat sejahtera pun sudah terbuka. Pemerintah tinggal memfasilitasi dalam bentuk sponsorship, modal kerja, dana pengembangan, pendampingan, juga membuka jaringan pemasaran, lokal maupun internasional. Tinggal bagaimana merumumuskannya dalam bentuk program-progam yang terpadu.

Mungkin pemerintah juga perlu memperhatikan tentang perumahan rakyat. Rumah murah bersubsidi, atau rumah susun sederhana yang mampu menampung para tunawisma. Agar tidak ada lagi gubuk-gubuk di pinggir rel kereta atau bantaran-bantaran sungai. Yang menimbulkan jurang kesenjangan sosial yang begitu dalam. Dan juga sudah mulai mewarnai hingga ke kota-kota kecil di pelosok negeri ini.

Kalau kesehatan, pendidikan, dan perumahan sudah dijamin pemerintah, masyarakat tinggal mengembangkan potensi diri, agar lebih produktif, lebih berdaya guna, sehingga tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri sekaligus sejahtera. Tentu tetap dengan kawalan dari pemerintah dan program-progamnya yang mendukung kemandirian dan produktivitas masyarakat.

Semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Thank You for coming. May Allah always giving you and your family all the best 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “Menuju Indonesia Sehat, Pintar, Sejahtera, dan Mandiri

  1. iya… satu kartu untuk semua sepertinya lebih praktis…. kebanyakan kartu nyimpannya bingung…

    eh tapi satu kartu kalau ilang, semua fasilitas hilang 😀

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s