Jangan Hitung, Bun!

Dear All,

Aisyah sedang hobi sekali menggunting kertas hingga berserakan dimana-mana. Aku pun mencari cara agar Aisyah mau merapikan mainannya setelah selesai. Tetapi, bukan hal mudah berbicara dengan putriku ini, karena Aisyah begitu pintar, termasuk pintar “ngeles”.

Ayo, bersihkan kertasnya, Beb!” pintaku.
Bentar tah, Bun.” katanya.
Ayo, Bunda hitung, yaa. 1…” aku mulai menghitung seperti biasanya.
Jangan dihitung, Bun!” pinta Aisyah.
Ya, ayo kapan dirapikan nya? Dari tadi belum mulai-mulai. Lama sekali,” keluhku mulai tidak sabar.
Sebentar lagi, ini dulu,” kilahnya.
Ayoo, atau Bunda aja yang beresin, tapiiiii,…
Tapiii,, dimasukkan tempat sampah. Nggak mau!” sergahnya.
Ya, udah ayo diberesin, Bunda hitung sampai 5, 1..2..” aku mulai memaksa.
Jangan hitung, bantuin a kalo gt, tapi jangan masukin tempat sampah, lho Bun,” pintanya.
Ya udah, ayo Bunda bantuin biar cepet!

Akhirnya, selesailah acara masak-memasak dengan kertas, sekaligus tawar-menawar siang itu. Aisyah pun bergegas tidur siang. Sepertinya ia sangat lelah. Baru sebentar merebahkan tubuh, Aisyah langsung tertidur. Aisyah kalau sudah mainan, suka lupa istirahat.

image

Sekitar dua jam tidur, Aisyah pun bangun. Seketika itu juga dia meminta untuk dibuatkan susu. Aku yang tadinya ikut tertidur, memang masih agak malas untuk bangun.

“Bun, mimik susu,” pintanya masih agak malas.
Heemm, susu Beb? Bentar, ya,” jawabku sambil mencoba membuka mata.
Bun, dhek Icha mau susu, haus,” pinta Aisyah lagi masih sambil tiduran.
Heemm, iya,” jawabku lagi, tapi badan rasanya masih menempel di tempat tidur.

Aku masih belum juga beranjak untuk membuatkan Aisyah susu. Hingga beberapa saat kemudian,
Bun, mana susunya, dhek Icha hitung sampai 5 yaa, 1….2….” celetuk Aisyah masih sambil tiduran membelakangiku.
Astaghfirullah, Beb, kok Bunda dihitung?” seketika itu aku pun terperanjat mendengar Aisyah menghitung.

Akupun mendekatinya dan mencoba melihat wajahnya. Aisyah pun tersenyum melihatku.
Bunda dihitungin?” tanyaku.
Lho, Dhek Icha kayak Bunda, kok,” jawabnya polos.
Astaghfirullah, ya udah, Bunda berhenti hitung, deh!” kataku.
Jangan hitung, ya Bun?” tambahnya sambil tersenyum.
Okey, sayangku!” akupun segera  menciuminya. Gemes sekali.
Susunya, Bun?” tambahnya.
He he, iya, iya Bunda bikinin sekarang.”
Akupun bergegas membuatkan susu yang diminta Aisyah. Aisyah pun senang sekali.

Hari ini, lagi-lagi aku belajar dari putriku Aisyah. Itulah Aisyah. Banyak hal menakjubkan datang darinya. Hal-hal kecil yang harus benar-benar aku syukuri.

You are my little angel, Bebi. I love U ♡♡♡

Semoga bermanfaat.

With love,
Bunda Aisykha

Thank You for coming. May Allah always giving you and your family all the best 🙂

Iklan

6 pemikiran pada “Jangan Hitung, Bun!

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s