Senyummu, Membebaskanku

Dear All,

Mama.

Bercerita tentang mama berarti aku harus menyiapkan hati. Menguatkan hati untuk sanggup bertutur panjang lebar tentang mama. Membuka kembali lembaran-lembaran memori tentang aku dan mama. Menemukan kejadian-kejadian yang menggambarkan bahwa hati mama itu seluas samudera.

Bukan hal yang sulit. Memang. Karena dibanyak kejadian, hati mama bahkan lebih luas dari samudera. Tapi, merangkainya kemudian menuliskannya kembali dalam jalinan-jalinan kata lah yang membuatku harus merenung lama. Tak jarang juga, jemariku terpaku, dan hanya air mataku yang mengalir begitu derasnya.

image
Me, mama, n Aisyah

Mama.

Aku temukan banyak hal ketika mengingat seberapa luas hatimu. Dan seringnya, aku lah yang membuat wajahmu lesu, senyummu memudar, dan hanya air matamu yang berkata murung. Aku tak pernah sadar itu, hingga aku harus memilih menuliskan salah satunya kali ini.

Waktu itu, aku masih duduk di bangku kuliah. Di satu sore, mama harus berangkat arisan ke Polsek yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Karena waktu itu, papa memang ditugaskan di sana.

Papa masih standbye di kantornya dan tidak bisa menjemput mama di rumah. Mama harus berangkat sendiri ke sana. Tapi, mama tidak berani menaiki sepeda motor sendiri. Apalagi harus melewati jalur Pantura yang terkenal ramai dan penuh dengan kendaraan-kendaraan besar.

Aku sedang tidur di kamar, sore itu. Mama masuk ke kamarku pelan-pelan dan coba membangunkanku. Aku sangat terkejut dan membuatku agak emosi pada mama karena mengganggu tidurku.

Wajah mama ku berubah. Mama yang tadinya ingin memintaku mengantarnya, hanya pamit saja padaku. Dan bilang mama mau naik angkot saja. Aku pun agak emosi karena mama membangunkanku hanya untuk pamit. Melihatku seperti itu, mama pun meminta maaf sudah membangunkanku. Mama keluar dari kamarku dan menutup pintu kamarku kembali.

Aku melihat wajah mama ku yang sangat murung. Tak ada senyum tergores sedikitpun. Mama hanya menunduk.

Setelah mama keluar dari kamarku, aku melihat dari jendela kamar, mama berjalan kaki menuju jalan depan untuk naik angkot. Hatiku mulai terasa aneh. Aku yang tadinya dipenuhi emosi, kini justru diliputi perasaan menyesal. Bahkan sangat menyesal.

Mama cuma ingin aku mengantarnya. Tapi mama membatalkan niatnya karena aku malah marah-marah pada mama yang telah mengganggu tidurku. Aku sangat menyesal.

Seketika itu juga, aku mencari handphone ku. Aku telepon mama ku. Sekali, tidak diangkat. Dua kali, sama, tidak diangkat. Aku pun gundah gulana. Aku takut mama marah.

Kemudian, aku menelepon mama untuk ketiga kalinya, dan diangkat. Ternyata mama tidak marah. Mama sudah di dalam angkot dan tidak mendengar teleponku.

Aku pun meminta mama untuk menungguku di pemberhentian angkot pertama, sebelum berganti dengan angkot kedua yang menuju Polsek. Mama setuju, dan mama juga memintaku untuk membawakan helm, karena mama tidak bawa. Aku pun segera berganti pakaian. Lalu kupacu sepeda motorku mengejar mama.

Sesampainya di sana, mama sudah menungguku. Tak ada raut wajah marah atau kecewa dari mama ketika melihatku. Dengan tersenyum, mama meminta helm yang aku bawa. Mama tak bicara apa-apa, selain memintaku agak lebih cepat memacu sepeda motorku agar tidak terlambat terlalu lama.

Mama.

Entah mama masih mengingat kejadian ini atau tidak. Aku memilih menulis cerita ini karena aku ingat betul, waktu itu, aku bahkan tak sempat mengucap maaf pada mama. Tapi, senyum tulus mama lah yang telah memaafkanku.

Tahukah mama, senyum mama waktu itu sangat berarti untukku. Senyum mama itu berarti maaf atas kebodohanku sore itu. Senyum mama lah yang membebaskan aku dari perasaan menyesal yang melilitku sepanjang jalan. Dan senyum itu membuktikan padaku, pada dunia, betapa luas hati mama. Tak cukup samudera, Ma. Hati mama bahkan lebih luas dari jagat raya.

I Love U, Mama.

Semoga bermanfaat.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.

image

With Love,
Bunda Aisykha

Thank You for coming. May Allah always giving you and your family all the best πŸ™‚

Iklan

23 pemikiran pada “Senyummu, Membebaskanku

  1. Sebenarnya mama bermaksud baik, sayangnya kitanya yang kurang tanggap.
    Bahkan dikala jauh, perbuatan-perbuatan kita seperti itu akan menimbulkan penyesalan kenapa dulu saya seperti itu

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s