Belajar Menulis

Dear All,

Aisyah suka sekali bermain dengan pulpen dan buku. Setelah sebelumnya, hobi menggunting dan menyobek, kini Aisyah punya kebiasaan baru. Menulis.

Aku tak pernah mengharuskan Aisyah untuk belajar menulis. Tetapi, Aisyah memang suka “pura-pura” menulis. Menulis apa saja, padahal aslinya belum bisa.

image

Aisyah biasanya membuat garis, menggambar “bebek”, atau menulis rumput πŸ˜€ Dalam banyak kesempatan bermain, Aisyah susah terlepas dari pulpen dan buku-bukunya.

Sampai akhirnya, aku melihat kesungguhannya menulis ketika belajar di Sekolah Arab. Aisyah mulai belajar menebali huruf hijaiyah. Selain itu, di sekolah formalnya, Aisyah juga mulai dikenalkan dengan huruf dari nama panggilan masing-masing kemudian mulai ditulis.

Aku hanya mencoba memfasilitasi keinginannya untuk belajar menulis. Aku membelikannya buku belajar menebali bentuk, huruf, dan angka, juga membelikannya pulpen-pulpen lucu. Aku tak pernah meminta Aisyah untuk mengerjakan buku yang aku belikan, tetapi Aisyah lah yang selalu bersemangat untuk mengisinya. Dan aku sangat bersyukur.

Aisyah belum genap 4 tahun. Aku sadar betul, Aisyah memang belum waktunya belajar menulis dengan serius. Tetapi, aku sangat mengapresiasi keinginan kuat Aisyah untuk belajar menulis. Tidak ada target apa-apa untuk Aisyah. Aku biarkan saja semuanya mengalir seperti biasa. Aku bebaskan Aisyah menulis apa saja. Tetapi, justru dengan cara itu, aku mendapat banyak kejutan dari putriku.

image

Satu pagi, Aisyah menunjukkan padaku tulisan di bukunya. Aisyah menulis angka, sudah berjajar sampai angka 5. Yang kata Aisyah, “Pak Gendut pakai topi, Bun!“.

Malamnya, Aisyah memintaku untuk mendengarkan cerita, “Anak Bebek” dari buku tulisnya yang penuh dengan anak bebek hasil gambarannya sendiri. Layaknya membacakan dongeng atau story telling. Anak bebek digambar banyak sekali, berjejal di dalam kandang. Lengkap juga dengan angka yang sudah ditulis hingga 6. “Kandangnya ada 6, Bun,” jelas Aisyah.

Pagi berikutnya, Aisyah menunjukkan padaku hasil tulisan nama panggilannya “ICHA”. Kata pertama yang berhasil ditulis Aisyah. Meskipun masih ada huruf yang terbalik, tetapi setelah aku betulkan, Aisyah pun dapat menulis dengan benar. Akupun kemudian menghadiahinya segelas susu hangat untuk kata pertamanya itu. Aku bersyukur.

image

Sore harinya lagi, Aisyah menggambar pola baju dan bertanya, kata “baju” hurufnya apa saja. Akupun kemudian menunjukkan contoh huruf yang ditempel di tembok dan Aisyah menirunya. Jadilah, tulisan kata “baju”. Lengkap dengan kata pertama yang berhasil ditulis Aisyah. Apalagi, kalau bukan nama panggilannya. Alhamdulillah. Aku senang dengan pencapaian-pencapaian Aisyah.

Itulah pengalamanku bersama putriku yang sedang mencoba belajar menulis. Untuk bunda-bunda yang kebetulan mempunyai buah hati seusia Aisyah dan sedang belajar menulis, beberapa saranku yang mungkin dapat diterapkan juga, antara lain:

1. Biarkanlah anak berkreasi. Bebaskan anak untuk menulis sesuai kemampuannya. Tak perlu menargetkan apa-apa. Biarkan anak-anak yang membuat target mereka sendiri dan memberi kita kejutan dengan pencapaian-pencapaian mereka.

2. Jangan sekalipun membandingkan anak kita dengan anak lain yang sudah lihai menulis padahal usianya sama, karena tentu tidak mau kan, suatu hari nanti kita dibandingkan dengan ibu lainnya πŸ˜€

3. Berilah perhatian yang cukup pada anak di sela-sela kesibukan kita. Sempatkan waktu untuk melihat hasil tulisan anak, dan menemani anak ketika sedang belajar menulis.

4. Betulkan kesalahan ketika anak menulis, dengan sabar dan masuk akal. Maksudnya masuk akal adalah sesuai kemampuan anak. Kalau hari ini belum bisa, tak perlulah dipaksa harus bisa bahkan sampai emosi. Kalau memang tidak bisa, lebih baik berhenti, dan dicoba lagi esok hari.

5. Apresiasi apapun yang telah berhasil ditulis oleh anak, karena apresiasi dari kita adalah bentuk semangat bagi anak untuk terus berkreasi dan memberi kita kejutan, lagi, lagi, dan lagi.

Semoga bermanfaat.

With Love,
Bunda Aisykha

Thank You for reading. May Allah always giving you and your family all the best πŸ™‚

Iklan

9 pemikiran pada “Belajar Menulis

  1. kalau dilihat dari bentuknya dan hasilnya, anak adalah type pembelajar cepat. Hasil coretannnya sudah terbaca dan berbentuk. Memang tidak ada benar salah dalam hal ini, yang ada adalah kecepatan menyerap sesuatu

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s