The Power of Sandal Jepit

Dear All,,

Lama sekali tidak menulis membuat jari-jemari ini kaku. Kepala pun rasanya kosong tanpa ide, mlompong.
Sampai akhirnya mulai refresh kembali dengan ide-ide kecil, tapi cukup sulit juga merangkainya karena sekian lama berhibernasi.

Kali ini aku kembali membawa cerita tentang sandal. Yah, sandal yang bisa dibilang segala zaman dan segala medan. Apalagi kalau bukan sandal japit karet. Sandal yang paling mudah ditemukan. Sandal rakyat.

The Power of Sandal Jepit.
image

Sebenarnya sudah sejak lama aku memakai sandal jepit ketika di kantor, di kamar mandi, atau saat akan ke mushola. Kebanyakan orang juga begitu. Aku mulai menemukan berbagai kenyamanan dan kemudahan ketika memakai sandal jepit ini.

Sandal jepit memang sandal yang biasa, simpel. Saking simpelnya, bahkan beberapa orang memandang sandal ini sebelah mata. Karena pasaran, modelnya biasa saja, dan harganya sangat-sangat murah. Tetapi, di balik semua kelemahannya, sandal ini punya banyak kelebihan.

Satu per satu akan aku ceritakan beberapa pengalaman tentang sandal jepit ini. Jadi, untuk yang sering bertanya padaku, berhentilah bertanya kenapa aku lebih senang bersandal jepit kemana-mana. Sekarang aku jawab yaaa guuyyss πŸ˜€ (pakai nada salah satu acara di stasiun tv swasta)

Beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di bangku SMA, aku mengikuti kegiatan hiking yang diadakan oleh OSIS untuk salah satu ekstrakurikuler. Karena aku ikut ektrakulikuler itu, jadi aku harus ikut. Waktu itu, aku berpakaian lengkap dan bersepatu. Semua persiapan seperti akan naik gunung, karena memang hiking akan menyusuri rute di lereng gunung. Ternyata setelah sampai, medannya basah selepas hujan dan harus menyusuri sungai pula.

Alhasil, sepatuku penuh lumpur dan basah kuyup ketika harus menyusuri sungai. Jari-jemari kakiku hampir mati rasa. Sampai seorang teman yang sedari tadi mengikuti dan mengawasiku dari belakang tanpa menyapaku samasekali, tiba-tiba menawarkan sandal jepit yang dipakainya padaku. Ia lebih memilih bertelanjang kaki saja karena tidak tega melihat kondisi kakiku yang “medhok” setelah terendam dalam sepatu yang basah. Padahal sebenarnya dia tidak ikut ektrakurikuler yang aku ikuti dan harusnya juga tidak ikut acara hiking hari itu. Huuuuuuuuu…soo sweeeeeeeetttt….*3 cupid bernyanyi lagu cinta sambil berputar-putar di atas kepala*

Yaaah..karena kisah sandal jepit dari ‘my guardian angel‘ itulah aku sempat fanatik pada sandal jepit πŸ˜€ Alasan yang pribadi sekali, yaah?? πŸ˜€ Hingga sekarang ‘my guardian angel’ itu menjadi suamiku, aku masih penggemar setia sandal jepit πŸ˜€

Cerita lainnya datang dari Ibu Mertuaku. Ketika pulang dari ibadah Umrah beberapa waktu lalu, ibu mertuaku berkisah tentang pengalamannya ketika berada di tanah suci. Salah satunya adalah tentang sandal jepit.

Ketika itu, Ibu (panggilanku untuk ibu mertuaku) membawa sepatu flat berbahan karet dari rumah untuk beraktivitas di sana. Ketika sampai di sana, ternyata sebagian besar teman rombongan Ibu hanya memakai kaos kaki tebal dan bersandal jepit karet saja untuk pergi kemana-kemana. Sederhana, simpel, dan nyaman.

Dengan berkaus kaki dan bersandal jepit yang anti selip itu, mereka terlihat lebih leluasa dalam berbagai aktivitas. Ibu pun agak menyesal kenapa ketika di rumah ribut-ribut mencari sepatu flat untuk dibawa ke tanah suci. Padahal kebanyakan jamaah di sana terlihat sangat nyaman hanya dengan berkaus kaki dan bersandal jepit saja. πŸ˜‰

Pengalaman lainnya berasal dari pengamatanku pada beberapa nasabah di tempatku bekerja yang seringnya membawa uang dalam jumlah besar tetapi penampilan luarnya hanya bersandal jepit saja. Seringnya mereka begitu, membuat aku penasaran. Ternyata berpenampilan biasa saja, salah satunya hanya dengan bersandal jepit, membuat mereka lebih nyaman dan aman ketika membawa uang dalam jumlah besar tanpa dicurigai. Yang penting isi dompetnya, begitulah yang selalu mereka katakan. πŸ˜€

Berikutnya, pengalamanku sendiri ketika pergi ke gunung bersama keluarga beberapa waktu lalu. Aku tetap memilih untuk memakai sandal jepit saja. Abi dan Ayu, adikku, memakai sandal gunung mereka. Aisyah digendong, jadi tidak penting sandalnya apa πŸ™‚

Jalan yang kami lalui berlumpur karena hujan semalam. Setelah berjalan cukup lama, masing-masing sandal mulai menunjukkan kelemahannya. Dan, ternyata sandal jepit lah yang paling minim masalah. Di akhir perjalanan, Abi dan Ayu harus bersusah payah membersihkan sandal mereka yang terkena lumpur. Sedangkan, sandal jepit cukup diguyur air lalu digosok-gosokkan ke bidang yang agak kasar, langsung kinclong. Yuhuuuuu πŸ˜€
image

Sandal jepit yang harganya murah atau sering disebut orang sebagai sandal kampung, sandal kamar mandi, sandal udik, sandal murahan, dan sebagainya, juga bisa bernilai ekonomis tinggi di tangan orang-orang yang kreatif seperti salah satu temanku.

Sandal jepit disulapnya menjadi sandal-sandal karakter lucu dengan menambahkan kain-kain flanel. Sandal jepit dipilih sebagai bahan dasar karena harga yang murah dan ketahanan yang kuat. Sandal jepit pun naik kelas dan bernilai ekonomis tinggi.
image

Begitulah, kenapa aku lebih senang memakai sandal jepit kemana-mana. Selain kondangan ke gedung yaaa πŸ˜€ Menghargai diri sendiri juga perlu. Tetapi, untuk banyak kesempatan lain yang tidak formal, sandal jepit adalah pilihan utamaku. Seperti ke pasar, mengantar jemput Aisyah ke sekolah, pergi makan di luar, dan beberapa kesempatan lainnya. Di dalam mobil juga ada sepasang sandal jepit untuk cadangan ketika sandal atau sepatu yang aku pakai ke satu acara, heelsnya lepas atau lemnya terkelupas atau ketika harus berhenti di satu tempat selama dalam perjalanan πŸ˜€
image

Eittss,,tapi sandal jepitku bukan sembarang sandal jepit bulukan dan dekil. Sandal jepitku selalu bersih agar lebih enak dipandang orang. Tidak kalah bersih dengan sandal atau sepatu yang lebih bermerk πŸ˜€

Sandal jepit memang lebih cocok untuk banyak medan. Berlumpur, berarir, maupun berbatu. Cuaca panas maupun hujan hingga banjir menggenang. Sandal jepit masih aman. Sandal jepit juga lebih mudah dibersihkan. Harganya sangat murah, jadi tak terlalu menyesal ketika nantinya rusak atau hilang πŸ˜€

Dari sandal jepit pula aku belajar sesuatu. Sama seperti yang sering Abi katakan padaku.
“Lebih baik terlihat sederhana dan biasa saja, tetapi kita kuat dan bisa diandalkan, daripada terlihat kuat dan punya segala hal, tetapi sebenarnya kosong dan rapuh di dalam.”

Banyak cerita penuh makna di balik sederhananya sandal jepit. Yang sederhana belum berarti tak berharga. Yang biasa saja juga belum tentu tak berguna.

The Power of Sandal Jepit.
Pakai yuuk.. πŸ˜€

With love,
Bunda Aisykha

Thank You for reading. May Allah always giving you and your family all the best πŸ™‚

Iklan

20 pemikiran pada “The Power of Sandal Jepit

  1. hahahaa.. lucu,, sendal jepit berbuah suamik.. πŸ˜€
    aku udah lama banget gak make sendal jepit, ribet sama kaos kakinya, jd enakan pake sepatu sekalian ke mana2.

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s