Mengajar

Dear All,

Aku seorang Sarjana Pendidikan. Cita-citaku adalah menjadi guru sekolah. Berdiri di depan kelas dan berceloteh panjang lebar tentang pelajaran sekolah menjadi harapanku. Mengajar adalah jiwaku,
hidupku, sekaligus pekerjaan impianku. Sayangnya, pena takdir tidak tergores semulus keinginanku.

Aku tidak berkesempatan menjadi guru di sekolah. Aku bukan guru sekolah. Aku juga tidak mengajar di sebuah sekolah. Sebuah kenyataan pahit, memang. Tapi aku tak patah arang.

Sampai sebuah tawaran menjadi pengajar di sebuah lembaga pendidikan nonformal datang padaku. Betapa senangnya aku kala itu. Meskipun tidak menjadi guru formal, tetapi mendapat kesempatan untuk tetap bisa mengajar adalah salah satu anugerah bagiku. Anugerah yang harus terus aku syukuri.

Menikmati pekerjaan formalku sebagai karyawan swasta di pagi hari, kemudian menjalani “hobi” mengajarku di sore hari menjadi ritme hidupku kurang lebih tujuh tahun ini. Terkadang lelah, dan pernah juga ingin mengakhiri saja kontrak mengajarku. Tetapi, mengajar sudah terlanjur menjadi bagian dari hidupku.

Bagiku, mengajar itu seperti menjalani hobi yang disukai. Berinteraksi dengan anak-anak dari berbagai latar belakang. Menghadapi mereka dengan situasi yang santai dan tidak kaku seperti di sekolah formal. Mengajar anak-anak di lembaga nonformal ini memang tidak cukup berbagi ilmu saja, tetapi sekaligus menuntut aku menjadi “smartfren” yang juga harus bisa memberi motivasi atau bahkan solusi untuk mereka.

Suasana belajar mengajar yang lebih mengikuti apa maunya anak membuatku mengajar tanpa beban. Sepanjang jam belajar, aku akui, tak banyak anak yang belajar dengan serius. Ada yang benar-benar belajar, kritis sekali, bertanya dan bertanya. Tak jarang aku sampai harus memperbarui lagi ilmuku dari buku-buku usang yang mejeng di rak kamar tidurku, dari internet, atau dari teman-temanku yang lebih beruntung bisa menjadi guru formal di sekolah.

image

Seringkali aku juga memperhatikan dari belakang saat mereka sedang serius mencatat apa yang aku ajarkan. Itu membuatku merasa lebih berguna. Lebih merasa menjadi pengajar sebenarnya ketimbang hanya sebagai “smartfren” yang menjadi teman curhat sekaligus mesin pembuat PR bagi remaja-remaja tanggung yang aku ajar.

Memang, kebanyakan anak-anak datang hanya untuk minta dikerjakan PR nya. Sedangkan, mereka sendiri malah asyik mengutak-atik akun sosial media, curhat ini dan itu, bahkan mengantuk dan malas ketika diminta membaca. Yaa, memang begitulah rata-rata kebiasaan anak-anak yang aku ajar di lembaga bimbingan belajar. Aku tidak bisa berharap lebih, tapi aku suka πŸ˜€

Aku bukan guru formal di sekolah. Aku hanya pengajar di lembaga bimbingan belajar. Tapi aku begitu mencintai dunia mengajar. Mengajar membuat pikiranku menjadi lebih terbuka. Mengajar juga membuat ilmuku terus berkembang. Masih mendapat kesempatan mengajar meskipun hanya beberapa jam dan tidak setiap hari, adalah hal yang harus terus aku syukuri. Mengajar di sela-sela kesibukan pekerjaan kantorku menjadi lebih menyenangkan ketika aku menikmatinya sebagai bagian anugerah dari Allah SWT.

Seiring berjalannya waktu, aku pun menyadari, ternyata mengajar itu tidak sekadar mentransfer ilmu. Mengajar berarti berbagi. Berbagi ilmu, cerita, pengalaman, motivasi, dan solusi. Mengajar juga berarti mendengar dan memahami. Mendengar untuk bisa menyampaikan dengan lebih baik. Dan memahami untuk memastikan apa yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.

Selamat mengajar. Semoga bermanfaat.
wpid-banner_3.jpg

With Love,
Bunda Aisykha

Thank You for reading. May Allah always giving you and your family all the best πŸ™‚

Iklan

8 pemikiran pada “Mengajar

  1. Bener ya mbak. mengajar bukan sekedar membagi ilmu doang. ada aja makna lain didalamnya :)) itu yang bikin aku suka sama pengajar, meskipun aku belum jadi pengajar sih ._.

    ihiiiy selfienya di kelas :p

  2. Kesempatan mengajar memang kesempatan yang menarik ya Mbak…
    Saya pribadi kerap memberikan pelatihan kpd rekan-rekan di pabrik sesuai bidang keahlian saya. Biasanya saya mengajar tentang pemahaman sistem mutu. Walau saat ini saya belum mempunyai kesempatan mengajar diluar pabrik, sementara cukuplah dengan kesempatan yg ada untuk mengajar di pabrik.

    Selamat mengajar Mbak. Sukses selalu.

    Salam,

  3. Semangat selalu, bunda… Nikmati saja proses mengajar di lembaga nonformal yang dijalani saat ini. Bisa jadi, mengajar tanpa ‘target’ diknas justru lebih tenang dan menyenangkan. Anak-anak bimbingan pun biasanya ‘lebih cinta’ pada guru-guru bimbelnya dibanding guru di sekolah reguler. Ahaha… πŸ˜‰ Silakan mampir juga di halaman rumah saya, seorang guru SD biasa πŸ˜‰ http://batikmania.blogspot.com/2015/04/selfie-di-depan-rumah-dan-taman-impian.html

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s