Cerita Anak Lelakiku

Aku pernah bilang
Anak lelaki dalam perutku ini tak sekuat Mbaknya dulu waktu masih dalam perutku juga.

Dulu..Aisyah dalam perut begitu tangguh..
Sekali masuk rumah sakit karena hyperemesis,
Dua minggu disergap  konstipasi berat
Tapi,,Aisyah tumbuh di perutku dengan baik
Panas, hujan, menembus kemacetan parah, dan kesibukanku yang begitu banyak
Aisyah tetap nyaman bobok di perut gendutku
Mungkin juga karena Aisyah menerima penguat kandungan selama trimester pertamanya kala itu
Aisyah lahir tanpa satupun kesulitan yang berarti selama kehamilan
Alhamdulillah

image

Tapi ternyata, aku salah!
Anak lelaki dalam perutku ini..tumbuh dengan penuh perjuangan

Sejak awal kehamilan langsung menolak penguat kandungan
Penguat kandungan memicu hyperemesis berat padaku
Menolak wewangian dalam bentuk apapun, parfum, sabun, bahkan shampo
Menolak Bundanya memegang gadget segala rupa hingga masuk trimester ketiga dan sekaligus menjauhkanku sepenuhnya dari gegap gempita kemajuan dunia maya
2x masuk rumah sakit karena hyperemesis parah dan alergi pada beberapa jenis obat dan vitamin dari awal hingga trimester kedua
Anak lelakiku terus bertahan

Ketika harus menunggu Mbak Aisyah yang masuk rumah sakit karena typhus, anak lelakiku juga menurut dan baik-baik saja
Hingga masuk trimester ketiganya, anak lelakiku mulai terusik
Kesibukanku yang memicu stres dan kelelahan mulai mengganggu kenyamanannya

Fakta bahwa letak plasentanya berada di rahim bagian bawah atau sering disebut plasenta letak rendah pun memicu munculnya flek sewaktu-waktu
Ketika aku stres, lelah, atau terlalu banyak aktivitas
Rasa sakit bukan main di perut bagian bawah terkadang membuatku sulit untuk berjalan
Bahkan bujukan dokter untuk totally bedrest terpaksa harus beberapa kali aku tolak karena tuntutan pekerjaan di kantorku

Bahkan di satu waktu kemudian seorang teman memberitahuku bahwa muncul peringatan kecil dari salah seorang di kantor karena selama hamil aku sering izin sakit dan akan mengurangi penilaian prestasi kerjaku
Tak apa..jika kondisiku memang sudah tak bisa dimaklumi lagi
Aku juga tak pernah mengumbar kondisiku kehamilanku pada banyak orang
Aku anggap itu sebagai konsekuensi yang memang harus aku terima atas pilihanku sebagai Ibu Bekerja
Semoga pengalaman di kehamilan keduaku ini tidak dialami oleh siapapun juga

Aku terima saja dan aku katakan pada anak lelakiku,,
Demi kamu, Bunda rela dan terima apa saja.
Tapi anak lelakiku masih kuat..
Alhamdulillah masih bergerak dan terus bergerak dengan aktif menyapaku
Seolah ingin mengatakan, “Bunda, aku baik-baik saja, aku tendang perut Bunda, ya?
Kita harus kuat
Aku mengelusnya lebih lama dan terus meminta maaf atas keegoisanku sembari memohon pada Sang Kuasa untuk melindungi dan menjaganya

Bahkan, saat Abi harus bedrest 10 hari di rumah sakit karena gangguan lambung,
Anak lelakiku masih tangguh,,padahal sebulan lagi waktu baginya untuk menyapa dunia akan tiba
Anak lelakiku tahu betul Bundanya makin banyak pekerjaan ketika Abi diharuskan bedrest total
Pekerjaan kantor yang makin dikejar target di penghujung tahun, mengurus Mbak Aisyah yang makin aktif dan manja, menunggui Abi di rumah sakit bermalam-malam, belum lagi mencukupi sendiri nutrisi untukku dan anak lelakiku
Anak lelakiku sangat tangguh..menurut saja kemanapun dan apapun yang aku kerjakan
Meski aku harus menerima konsekuensi flek dan nyeri perut bagian bawah yang juga terus-menerus menyertaiku

Khawatirku pun memuncak ketika flek tebal terus menyerangku berhari-hari
Aku berusaha untuk tetap tenang
Sendiri, akupun mengunjungi dokterku kembali untuk memastikan apa yang terjadi pada anak lelakiku
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa plasentanya sedikit terlepas dari rahim karena kelalahan dan over aktivitas
Tak pelak, saran totally bedrest pun meluncur kembali dari dokterku
Dan lagi-lagi terpaksa harus aku tolak karena berbagai alasan termasuk profesionalitas dan loyalitas
Dokter pun hanya geleng-geleng kepala dan kemudian membekaliku micronised progesteron untuk menguatkan plasentanya kembali

Rasa tak nyaman pun pasti melanda anak lelakiku juga
Protes-protes kecil dengan tendangan dan gerakan tangannya pun makin sering aku rasakan
Tapi aku yakin anak lelakiku ini masih kuat, tendangannya masih kuat, detak jantungnya masih kuat
Dan aku bersyukur karena dengan itu aku juga tahu bahwa anak lelakiku ini masih selalu bersamaku
Dua minggu sekali aku putuskan harus melihat kondisi anak lelakiku dari layar USG untuk memastikan ia tetap baik-baik saja

Hingga masuk usia 35 minggu, lagi-lagi aku harus tumbang karena flek tebal dan kram perut bagian bawah yang menyulitkanku ketika berjalan
Bersama Abi, aku segera menemui kembali dokterku,, kali ini saran totally bedrest tak dapat aku tolak karena pada usia 35 minggu, anak lelakiku belum 100% siap untuk lahir ke dunia, terutama paru-parunya
Jadi, dokter menyarankan untuk memberiku micronised progesteron lagi agar anak lelakiku bisa dipertahankan sampai minimal usia 37 minggu

Aku juga tak berhenti meyakinkan anak lelaki dalam rahimku ini bahwa kita masih akan baik-baik saja sampai waktunya nanti ia benar-benar siap menyapa dunia
Dengan selamat, sehat, dan tak kurang suatu apapun
Menyapaku..Abi..dan Mbak Aisyah yang begitu menyayanginya
Kita masih kuat, dan kita harus kuat, ya Nak!

Sampai pada hari yang aku tunggu-tunggu untuk menyapamu, mendengar tangismu, membelai tubuhmu
Meletakkanmu di dada Bunda dan merasakan hangatmu juga detak jantungmu
Anak lelakiku, menangislah sekuatmu, pecahkan keheningan malam 17 Januari 2016 dengan hadirmu

image

Anak lelakiku,,
Perjuanganmu bersama Bunda selama 37 Minggu ini adalah anugerah terindah dari Allah
Kelahiranmu secara normal menjadi kado ulang tahun pernikahan terindah dari Allah untuk Bunda dan Abi
Sekaligus kado ulang tahun terbaik untuk Mbak Aisyah
Subhanallah wal hamdulillah

image

image

Selamat datang ke dunia anakku,,
Bunda, Abi, dan Mbak Aisyah menyambutmu dengan segenap cinta yang selalu kami punya untukmu
Selamat menjadi bagian dari kami, anak lelakiku
Semoga Allah selalu meridhoimu, melimpahimu dengan segala keberkahan dan kemudahan dalam hidupmu
Amin

With love,
Bunda

Thank You for reading. May Allah always giving you and your family all the best 🙂

Iklan

9 pemikiran pada “Cerita Anak Lelakiku

  1. trie

    wah mulai ngeblog lagi nih.selamat ya mbak atas kelahiran putranya.smoga menjadi anak yang sholeh.
    oya mbak info ato seputaran kota kudus yang baru dong.makin kangen ma kudus nih,kota masa kecil nih.

  2. trie

    wah,selamat mbak atas kelahiran putranya semoga jadi anak sholeh.
    iya mbak,info info seputaran kudus dong mbak apa yang baru di kudus sekarang dengan 10 taun kemarin.soalnya ini kota ,kota kenangan waktu kecil.jadi kangen kudus nih.

  3. Ping-balik: DPT Panas vs DPT Tidak Panas, Pilih Mana? | Bunda Aisykha_Rasyid

  4. Ping-balik: Persamaan dan Perbedaan Bebiluck Kaleng Hijau dengan Nayz Bebiluck | Tita Kurniawan

  5. Ping-balik: Tips Agar Kakak Tidak Cemburu pada Adik | Tita Kurniawan

  6. Ping-balik: 17.01 Lifes Begin – Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s