Belajar Mendidik Anak ala Game Edukatif di Android

​Dear all,

Apa kabar hari ini?

Kali ini sih, ceritanya aku iseng mau menulis parenting, belajar mendidik anak ala game edukatif di Android πŸ˜€ Ya, bisa dibilang gitu, lah πŸ˜€ Sudah lama juga ngga nulis tentang parenting, tentang anak-anak. Terakhir bicara parenting waktu anakku baru satu, sekarang sudah dua πŸ˜€ Lama juga, yak πŸ˜‰

Parenting kan memang tidak ada sekolahnya. Tapi, mau tidak mau kita harus paham hal ihwal pengasuhan anak atau parenting ini. Subyek sekaligus sumber belajarnya sebenarnya mudah dan dekat sekali dengan kita, yaitu anak kita sendiriπŸ˜€ Tinggal kita yang menemukan sendiri “seni” dalam mengasuh anak-anak kita.

Sejatinya, ilmu-ilmu parenting yang ada, termasuk tulisan-tulisan parentingku sendiri juga belum tentu sesuai ketika diterapkan untuk anak-anak lain. Tidak bisa dipaksakan harus bisa! Dan tidak pula bicara tentang salah atau benar! Karena anak adalah individu yang unik, spesial, berbeda satu sama lain πŸ˜€  Hanya saja, pengetahuan tentang parenting bisa dijadikan acuan atau masukan untuk kita. Selanjutnya, mengasuh anak tetaplah “seni” dari kita masing-masing.

Seperti yang akan aku tulis ini. Aku terinspirasi dari sulungku Aisyah ketika sedang bermain game edukatif di tabletnya. O ya, Aisyah memang aku perbolehkan bermain game edukatif, ya πŸ˜€ Tidak ada yang salah dengan game edukatif.  Yang penting kita harus memberi “rule” yang jelas agar anak paham kapan boleh memainkannya dan game edukatif yang bagaimana yang boleh didownload anak di gadget nya.

Nah, di game edukatif yang dimainkan Aisyah, kebetulan aku punyanya gadget berbasis Android, makanya tulisanku ini jadi punya judul, parenting belajar mendidik anak ala game edukatif di Android 😊 Aku tertarik pada dua hal. Yang sebenarnya akan sangat bermanfaat apabila bisa terus diterapkan dalam keseharian kita πŸ˜€

  • Pertama,

Pernah lihat game edukatif di Android, kan ya? Atau setidaknya saat kita akan memberi lampu hijau pada anak untuk memainkannya kita tentu sudah memeriksanya terlebih dahulu, bukan? Iyah, anggap saja semua sudah tau πŸ˜€ *ujungnya maksa* 😁

Di game edukatif tersebut, ketika anak menjawab dengan benar, pasti akan ada suara muncul seperti “bagus”, “kamu benar”, “pintar”, “wonderful”, “smart”, “good job”, “horrey”. Nah, kata-kata semacam itu adalah pujian atau penghargaan kepada anak ketika anak menjawab dengan benar. Setelah mendapat kata-kata tersebut anak pasti makin semangat melanjutkan permainan, bukan?

Apalagi kalau ditambah gambar visual seperti kembang api bertebaran atau balon warna-warni bermunculan, anak pasti akan makin semangat. Kalau Aisyah, dia pasti akan berteriak “horeee” atau “yes” dengan wajah yang berseri-seri πŸ˜€

Bagaimana kalo dalam kehidupan sehari-hari kita juga mengikuti cara game edukatif tersebut dalam memberikan penghargaan pada anak? Jadi, ketika anak melakukan satu hal yang baik, yang benar, yang positif, kita berikan penghargaan.

Ini tuh seperti reward lah. Ingat kan, reward and punishment untuk anak? Aku pernah tulis di sini πŸ˜€ Kata-kata seperti “pintar”, “bagus”, “great”, atau “good job” kita ungkapkan pada anak ketika mereka melakukan hal baik. Tak usah pelit, lah. Cuma kata aja, kok. Sesering mungkin pun tak masalah πŸ˜€

Asal, kita mengungkapkan dengan segenap hati. Dengan  tersenyum sambil menatap matanya, memegang pipi atau pundaknya. Kita beri penghargaan sekaligus kita sentuh hatinya. Anak pasti akan termotivasi untuk melakukan hal baik dan benar lagi dikemudian hari. Karena anak tahu, ketika ia melakukan hal baik, ia akan dapat perhatian dari Bundanya, akan dapat kehangatan dari Bundanya.

Jangan sampai, yaπŸ˜€ kita memberi penghargaan pada anak, bilang “bagus”, “pintar”, dan lainnya tapi sekilas saja. Sambil kita pegang gadget, melihat sekilas, manggut-manggut, bilang “pintar”, tapi langsung liat gadget lagi atau sambil menyentuh layar gadget 😁 Ha ha jangan, ya Bun! Don’t try that at home πŸ˜€ Anak-anak itu peka. Mereka bisa tau kapan kita sungguh-sungguh dan kapan kita mengabaikannya.

  • Kedua,

Ketika bermain game edukatif dan anak melakukan kesalahan, game nya pasti akan bilang “kamu salah” atau “wrong answer”. Lalu, apa selanjutnya? Game nya akan bilang lagi, “silakan coba lagi” atau “please try again”. Apa yang bisa kita terapkan dari sini?

Ketika anak melakukan kesalahan, kita harus mengatakan kesalahannya. Atau ketika anak melakukan sesuatu kemudian gagal, kita harus beritahu, iya ini gagal. Tapi, kemudian kita ikuti dengan memberikan motivasi agar anak mau melakukan hal yang benar atau mau berusaha lagi ketika sebelumnya pernah gagal.

Agar apa? Agar anak tahu kesalahannya dan belajar dari situ untuk selanjutnya bisa melakukan hal yang lebih baik. Ketika anak gagal, ia jadi tahu, iya bisa gagal, gagal itu ada, agar anak juga siap menerima kegagalan. Karena anak yang tidak pernah merasakan kegagalan, tidak pernah diberitahu tentang kegagalan, dikemudian hari anak tidak terbiasa dan akan sulit mengelola “perasaan” apabila ia mengalami kegagalan.

Jadi, sekali dua kali, biarlah anak merasakan kegagalan atau menikmati kesalahannya sendiri. Tapi, selanjutnya kita motivasi, “its okey, lets try again”, “lets do better”, “ayo coba lagi”, “ayo jadi lebih baik”, “ayo lakukan yang benar”. Motivasi terus agar anak tetap percaya diri. Agar anak merasa tidak sendiri. Ada kita, orang tua, yang siap menerima bagaimanapun hasil dari mereka. Dan siap bekerja keras untuk memotivasi agar menjadi lebih baik 😊

“Tarik nafas dulu” Menggebu-gebu, ya? πŸ˜€ Untuk anak, semangat kita memang harus menggebu-gebu. Agar anak juga ikut semangat, ya kan? πŸ˜€ Cuma dua hal, tapi panjang banget, ya Bun? πŸ˜€ He he iya, lumayan, ya? 😊 “lap kringat pake daster ” πŸ˜€

Tak apalah, semoga dibaca sampai habis, ceritaku tentang parenting, belajar mendidik anak ala game edukatif di Android ini πŸ˜€ Tulisan ini juga sekaligus jadi “reminder” bagiku agar aku bisa terus istiqamah pada kedua buah hatikuπŸ˜€

Semoga bermanfaat.

With love,

Tita

Iklan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s