Dukung “Friendly Gadget” untuk Anak

Dear All,

Sebenarnya aku sudah pernah menyatakan pendapatku tentang anak kaitannya dengan teknologi, di sini. Tetapi, kemudian ada yang bertanya lagi kepadaku. Akupun sekali lagi perlu menjelaskannya kembali.

 

Baca juga: Anak dan Perkembangan Teknologi

What do you mean, support friendly gadget for children?

Jawabku:

Aku mendukung penggunaan gadget yang bersahabat untuk anak. Gadget yang ramah untuk anak.

Kamu setuju, anak menggunakan gadget?

Jawabku:

Ya, tentu saja setuju.

Why?

Jawabku:

Pertama,

Mari kita sepakati, apa yang aku maksud dengan gadget. Gadget berasal dari Bahasa Inggris. Bahasa Indonesianya adalah Gawai. Tetapi, di Indonesia, penggunaan kata gadget jauh lebih populer dari gawai.

Gawai (bahasa Inggris: gadget) adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya.

Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruan dan berukuran lebih kecil. Sebagai contoh:

Komputer merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan, bentuk gawainya yaitu laptop/notebook/netbook.Telepon rumah merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan bentuk gawainya telepon seluler. (Wikipedia)

Jadi, sepakat, gadget yang aku maksud di sini adalah perangkat elektronik kecil, easy going, yang selalu mengusung kecanggihan dan pembaruan. Dimana salah satu fitur kecanggihan yang dimiliki adalah internet.

Kedua,

Mari kita pahami, bahwa gadget adalah bagian dari kemajuan teknologi yang tidak bisa kita pungkiri. Semakin ke depan, kehidupan kita atau anak kita akan semakin mengalami ketergantungan pada benda canggih ini.

Mengutip pepatah tentang buku yang menyatakan “buku adalah jendela dunia”. Saat ini, tidak lah salah apabila muncul juga pernyataan bahwa “gadget adalah jendela dunia”.

Zaman nenek kita dulu sekolah, masih menulis dengan sabak. Ada yang tahu, sabak? Kotak seperti papan tulis kecil, ditulis dengan kapur. Sekarang, saat ini, kita menulis di atas note atau tablet dengan stilus pen atau jari kita langsung. Sabak dulu juga seukuran tablet 7 atau 10″. Lihatlah transformasinya. Dan bayangkan kemajuan teknologi apa yang akan terjadi, tidak usah jauh-jauh, sepuluh tahun ke depan saja.

Ketiga,

Aku setuju, anak, atau tepatnya anakku, menggunakan gadget dengan syarat dan ketentuan yang berlaku tentunya. Tentang kapan waktu yang diperbolehkan, konten yang boleh didownload, dan aku sesuaikan dengan kebutuhan anak. Tidak semata-mata memperbolehkan anak ber-gadget sesuka hati. Tetapi, ada beberapa “rules” yang aku sepakati bersama dengan Aisyah, anakku. Karena aku sadar betul, gadget memiliki dampak negatif yang tidak sedikit.

Apa Aisyah punya gadget sendiri? Iya, Aisyah punya sebuah tablet. Tidak khusus aku belikan. Tapi hanya tablet bekas, yang dulu pernah aku gunakan. Meski begitu, Aisyah tidak bisa sepenuhnya menggunakan tablet tersebut. Kontrol tetap ada di tanganku atau Abi.

Keempat,

Anak, apalagi seumur Aisyah, sekarang sudah menuju tahun yang ke-6, adalah anak yang sedang besar rasa ingin tahunya. Rata-rata anak seumur Aisyah atau bahkan lebih kecil lagi, saat ini, di negara ini, sudah mengenal atau setidaknya tahu tentang gadget, terutama smartphone. Setuju? Bahkan tidak sedikit juga anak-anak yang justru menjadi terkenal karena di-mediasosial-kan. Di mana media sosial bisa diakses? Gadget bukan?

Jadi, akan lebih baik kalau kita memperkenalkan gadget dengan cara yang benar. Apa itu gadget? Apa fungsinya? Bagaimana cara penggunaannya? Dan sejauh mana batasannya?

Apabila kita hanya melarang anak menggunakan gadget tanpa memberi tahu apa alasannya, anak justru akan makin penasaran. Dan parahnya, bila nantinya anak tidak paham tentang gadget, kemudian mulai mencari tahu dan menggunakan dengan cara mereka sendiri, muncul kekhawatiran anak akan cenderung menggunakan gadget untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Ini yang berbahaya.

Kelima,

Coba kita resapi, kita, orang dewasa, bebas memanfaatkan gadget sesuka hati. Bahkan di hadapan anak, atau malah cenderung mengabaikan anak ketika sedang ber-gadget. Kira-kira bagaimana perasaan anak?

Hal tersebut lantas tidak serta-merta mendukung anak ber-gadget, ya. Tidak! Tapi, kemudian aku ingat, Aisyah pernah protes seperti ini padaku. “Bunda boleh pakai hape, kenapa Mbak ngga boleh?

Akupun kemudian berusaha menemukan jawabannya. Ini bukan tentang kalah atau mengalah pada anak. Tetapi, mencoba bersikap lebih adil pada anak. Kalau kita tidak setuju anak kecanduan gadget, jangan kecanduan gadget di hadapan anak. Bisa? Bukankah anak itu cermin diri kita?

Kalau merasa tidak bisa, bersikap adillah pada anak. Beri anak sedikit ruang untuk menikmati kemajuan teknologi juga. Dengan segala syarat dan ketentuan berlaku yang kita sepakati dengan anak.

Keenam,

Bukan gadget yang bersalah, ketika segala macam carut marut dampak negatif ber-gadget terjadi di negara ini. Tetapi, lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak. Kurangnya pemahaman yang diberikan orang tua pada anak tentang positif dan negatif gadget dengan segala kontennya.

Gadget sudah begitu itu adanya. Kemajuan teknologi dengan segala plus minusnya. Dan anak, dengan segala rasa ingin tahunya. Tugas kita, orang tua, yang sebaiknya bisa menjadi panel kontrol sejauh mana kebebasan ber-gadget kita berikan untuk anak. Beri anak pemahaman agar tahu apa saja batasan-batasan sekaligus konsekuensinya. Memberikan gadget begitu saja pada anak tanpa menjelaskan positif dan negatifnya, sama juga bohong.

Ketujuh,

Banyak hal negatif yang disebabkan oleh gadget. Kecanduan nge-game, gegap gempita sosial media, konten-konten 17+ yang bisa didownload dengan bebas, dan sederet dampak negatif lainnya. Tapi, dampak positifnya juga tidak sedikit. Gadget dengan segala kontennya dapat membantu kita menjawab banyak hal. Menemukan hal baru atau hal yang terjadi jauh sebelum kita lahir juga bisa.

Aisyah jadi tahu apa itu kanguru. Kata Aisyah, “Kanguru itu ternyata punya saku buat tempat anaknya. Jalannya lompat-lompat, lucu, ya Bun.” Kira-kira berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk memberi tahu apa itu kanguru dan melihat cara kanguru berjalan dengan lompat-lompat, kalau tidak ada kemajuan teknologi yang bernama gadget.

Ada banyak hal baik yang masih bisa kita dapat dari gadget. Beri anak ruang untuk menikmati kemajuan teknologi yang disediakan zaman pada mereka. Kenalkan hal-hal baiknya pada anak. Biasakan mereka untuk tahu hal-hal positif yang bisa kita temukan dengan gadget. Semacam menanamkan sugesti yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan. Sugesti positif, hasil outputnya juga InsyaAllah positif.

Nah, sekarang, pertanyaanku, Masihkah ingin melarang anak mengenal gadget begitu saja?

Bersahabatlah dengan gadget. Buatlah gadget menjadi benda canggih yang lebih ramah anak. Lebih bersahabat dan bermanfaat untuk anak. Tunjukkan hal-hal positif dari gadget dan jangan lupa beritahu sisi negatifnya juga. Kenalkan, beri anak penjelasan, tanamkan sugesti positif. Kemudian buatlah kesepakatan dan ketentuan yang bersahabat antara kita dan anak.

Itu adalah hal paling masuk akal bagiku, ketimbang melarang begitu saja tanpa penjelasan apapun pada anak. Sedangkan, kita, bahagia ber-gadget suka-suka di hadapan mereka.
Bicaralah dengan bahasa yang  mudah dipahami oleh anak. Then, makes gadget more friendly for children. And I support friendly gadget for children.

Semoga bermanfaat.

With love,

Tita

Iklan

13 pemikiran pada “Dukung “Friendly Gadget” untuk Anak

  1. Betul mbak, gadget tidak boleh sepenuhnya dilarang, apalagi kalau anakny udab ngerti, semakin dilarang semakin penasaran. Mungkin sebaiknya penggunaan gadget memang tetap dibolehkan tapi diawasi, dibimbing dan diberi batasan waktu ya mbak?

  2. hari ini, anak juga tidak mungkin dipisah dari gadget (teknologi), melarang tidak mungkin. Lebih baik menyiasatinya, mencari yang untuknya. Saya sepakat dengan tulisan mbak 🙂

  3. Ping-balik: 5 Tips Agar Anak Lebih Nyaman Ketika Harus Masuk Rumah Sakit – Tita Kurniawan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s