Cerita Lalu dari Kampung Halamanku

Dear U,

Bingung!

Itulah yang aku rasakan pertama kali, ketika tema yang keluar dari #1minggu1cerita untuk Minggu pertama ini adalah kampung halaman yang seru.

Otakku kemudian melanglang buana mencoba menemukan apa yang seru dari sudut-sudut kampung halamanku. Apa yang spesial atau apa yang menarik dari kampung halamanku ini?

Satu kali, yang ada hanya deadlock!

Nothing!

Aku pun berjalan menuju tanah lapang di ujung kampung halamanku. Aku menerawang. Jauh diantara pepohonan dan belukar liar yang memenuhi kekosongan di sekitar “Timbangan” pabrik. Sejurus kemudian ada yang sayup-sayup berbisik tentang masa dulu di kampung halaman. Di balik kesunyian senja sore itu, ingatanku pun kembali ke masa di mana ada banyak keseruan yang menyelip bersama kenangan.

Kampung halamanku berada disalah satu sudut kota Kudus, kota kecil di sisi utara Pulau Jawa. Kampung halamanku bisa dibilang menyatu dengan sebuah pabrik besar peninggalan Belanda yang memproduksi gula. Hanya ada satu pabrik gula di kotaku, Pabrik Gula Rendeng, namanya. Ketika masa giling tebu tiba, pabrik beroperasi 24 jam. Ada banyak pekerja, semua mesin hidup, dan truk-truk pembawa tebu mulai berjajar memenuhi antrian. Tapi, ketika sedang tidak berada pada musim giling tebu, pabrik ini hanya beroperasi secara administrasi dan pergudangan saja. Tidak banyak kegiatan, tidak ada hiruk-pikuk. Sepi, sunyi, seperti mati suri.

Sunyi, sepi saat tidak sedang musim giling tebu

 

Suasana saat musim giling tebu tiba

Ketika aku masih seumuran SD 😊 Puluhan tahun lalu lah kira-kira 😁 Masa giling tebu adalah masa yang menyenangkan. Sebelum mengawali masa giling, pabrik gula menyelenggarakan beberapa acara semacam selamatan agar masa giling berjalan dengan lancar. Mulai dari kirab manten tebu, wayang kulit, sampai acara “Nggantingi”.

Acara “Nggantingi” ini maksudnya adalah sebagai penanda bahwa musim giling tebu sudah tiba. “Nggantingi” ini semacam pasar malam, yang digelar kurang lebih seminggu lamanya, di sekitar pabrik gula dan otomatis di sekitar kampungku. Ramai sekali, ada komidi putar dan kawan-kawannya, banyak pedagang mainan, pedagang martabak, dan yang khas adalah penjual bengkoang. Entah bagaimana awalnya, tetapi penjual bengkoang tidak pernah absen dari “Nggantingi” kala itu.

Anak-anak seumuranku senang sekali ketika “Nggantingi” dimulai. Ramai, bisa seru-seruan naik komidi putar, masuk rumah hantu, kapal terbang, dan lain-lain. Teriakanku dan teman-temanku kala itu masi jelas terngiang ketika menaiki wahana yang bernama “Ombak Banyu”. Kami digoyang-goyang ke sana kemari seperti terkena ombak. Yang tidak tahan, dijamin akan muntah 😁

Ada juga raungan “tong stand” atau lebih akrab di telinga sebagai “tong setan”. Ketika pengendara motor berputar-putar dalam bangunan kayu berbentuk tong besar. Kami berteriak sesaat, kemudian bersorak, lalu tertawa terbahak-bahak. Bahagianya kami di masa itu. Kami biasanya jalan kaki, karena memang masih di sekitar kampung saja. Bahkan tak jarang juga ditutup dengan pemutaran layar tancap. Filmnya Tutur Tinular atau film Bang Haji Roma Irama 😁 Ketahuan yaa, aku generasi tahun kapan πŸ˜‚

Setelah acara “Nggantingi” selesai, barulah giling tebu dimulai. Pabrik yang sepi mulai dipenuhi pekerja. Mesin-mesin besar mulai dihidupkan. Crane untuk menarik tebu mulai bekerja. Lokomotif dan lori nya mulai lalu-lalang di jalurnya masing-masing. Cerobong asap mulai mengepulkan asap coklat dan putih. Suara bising dan semerbak “langes” (hasil pembakaran dari cerobong asap) pun mulai merajai kampung halamanku dan sekitarnya.

Truk-truk tebu berjajar di sepanjang jalan milik pabrik. Mengantri untuk menyetor tebu. Kalau sedang penuh, antriannya bisa berhari-hari. Ketika antrian penuh itulah, aku dan teman-teman bermain-main di sekitar truk antrian tebu. Pas supirnya sedang tidak di truk, aku dan teman-teman mulai beraksi 😁 Kita tariklah satu atau dua batang tebu dari truk, lalu dibawa pulang πŸ˜€ Kita harus sembunyi-sembunyi agar tak terlihat. Bahkan harus berlarian karena takut ketahuan 😁 Seru sekali.

Sampai di rumah, tebu kita kupas, kita kerat-kerat kecil lalu dimakan ramai-ramai. Manis dan segar. Semanis kenanganku di masa itu bersama teman-teman kecilku di kampung halaman 😊

Masa pun berganti. Sekarang aku sudah bukan anak kecil lagi. Pabrik gula masih beroperasi, tapi sudah tidak seperti dulu. “Nggantingi” sudah tidak ada lagi. Ditiadakan karena sering menjadi ajang perkelahian antarkampung. Antrian truk tebu tidak sepanjang dulu. Tidak ada lagi anak-anak yang seru-seruan mengambil tebu dari atas truk. Anak-anak zaman sekarang sudah dilarang makan tebu oleh orang tuanya, takut batuk. Padahal dulu, aku dan teman-teman hampir setiap hari menikmati tebu yang kami ambil sepulang sekolah dan tidak batuk. Time flies so fast.

Kini, keseruan-keseruan masa kecilku lenyap bersama angin perkembangan zaman. Kampungku masih di situ, pabrik gula juga masih setia berdampingan. Tapi, tak seperti dulu. Pabrik gula dan kampung halamanku sudah lekat jadi satu. Pabrik gula peninggalan Belanda itu sekarang lebih akrab dengan anak-anak muda sebagai spot pengambilan foto yang menarik. Tempat bercengkrama yang jauh dari keramaian. Dan tempatku menemukan kembali kenangan lama yang tertelan waktu.

Menjadi salah satu spot foto menarik untuk anak-anak muda. Diambil dari IG @karuniafp

Keseruanku di kampung halaman waktu itu, kini hanya tinggal dalam ingatan. Akan bangkit dan terngiang kembali ketika sengaja diingat mendalam. Tertawa simpul dan menarik nafas dalam. Kenangan itu pun pasti akan datang. Menunggu untuk diceritakan. Seperti sekarang.


Apapun itu, aku lahir, besar, dan tinggal di sini, di kampung halamanku. Dan aku tak sedikitpun beranjak meninggalkan. Biar saja kenangan itu timbul-tenggelam bersama perkembangan zaman. Tapi aku, masih tetap di kampung halaman.

I wanna grow old with you, kampung halaman 😳

With love,

Tita

Iklan

11 pemikiran pada “Cerita Lalu dari Kampung Halamanku

  1. trie

    Kayaknya saya tau kampung itu dimana,karena saya juga tumbuh besar di kampung tersebut.takdir yang harus membawa saya merantau jauh dari kampung halaman.dan satu lagi mbak tita,kayaknya kita dari satu generasi (ha..ha..ngaku ngaku).terima kasih tuk sharingnya,karena dengan membaca tulisan mbak tita mengingatkan saya akan kampung halaman.duh,jadi kangen euy.

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s