5 Cara Mudah Membiasakan Anak Sholat Sejak Dini

Dear All,

Sholat adalah rukun Islam kedua setelah Syahadat. Tetapi, menjadi amal yang pertama kali akan dihisab nanti di hari kiamat sekaligus menjadi penentu diterima atau tidaknya amal-amal lainnya.

Selain itu, dalam salah satu hadist juga disebutkan bahwa Sholat adalah tiang agama. Orang-orang yang menjaga sholat berarti ikut menegakkan agama. Dan ketika mereka meninggalkan sholat, berarti mereka merubuhkan agama itu sendiri. Bagiku sendiri, sholat adalah cara mudah ku untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, merasakan ke-Esa-anNya, dan memohon ridho Nya.

Sedemikian pentingnya sholat, sehingga menjadi perlu bagiku untuk membiasakan Aisyah, putriku, untuk mengerjakan sholat sejak dini. Mengingat, ke depan, dunia akan berputar semakin keras.

Zaman akan melesat dan melaju dengan kencangnya bersama makin majunya peradaban. Budaya akan saling berbaur tanpa ada lagi sekat satu sama lain. Dan di saat yang demikian, manusia hanya akan sanggup berdiri kokoh apabila memiliki pondasi yang kuat.

Memang, secara syarat wajibnya sholat, saat ini Aisyah belum memenuhi. Aisyah masih 6 tahun, tetapi, tidak ada salahnya juga aku mulai mengenalkan Aisyah dengan sholat agar ia terbiasa menjalankan kewajiban sholat, jika sudah baligh nanti. Sebagai bekalnya menghadapi perputaran zaman. Sebagai suatu kewajiban yang datang dari sebuah kesadaran. Bukannya menjadi beban, atau malah paksaan.

Bukanlah suatu hal yang mudah untuk membiasakan Aisyah mengerjakan sholat. Aisyah adalah tipe anak “moody”. Kalau sedang ingin ya rajin. Tetapi, ketika sedang badmood, ya jangan ditanya lagi. Sudah pasti 100% menolak dengan berbagai alasan. Akan tetapi, aku punya beberapa cara mudah untuk membiasakan Aisyah mengerjakan sholat sejak dini. Inilah 5 cara mudah membiasakan anak sholat sejak dini.

1. Memberi contoh

Anak adalah sang peniru ulung. Biasakan untuk memberi contoh yang baik pada anak. Begitu juga dengan sholat. Kalau ingin anak memiliki kesadaran sholat, orang tua ya harus sholat. Begitulah kira-kira teorinya.

Ketika aku sholat, sedikit banyak Aisyah pasti akan memperhatikan. Kemudian ia pun akan mulai meniru gerakan-gerakan dasarnya. Meminta untuk ikut wudhu, kemudian pakai mukena, dan sebagainya.

Awalnya, aku memang sengaja sholat berdekatan dengan tempat Aisyah biasa bermain. Berharap ia penasaran dan menanyakan tentang apa yang aku lakukan, kemudian aku bisa menjelaskan padanya. Bukan karena aku ingin memaksanya untuk sholat. Tetapi, karena Aisyah bertanya, kemudian aku mulai memberinya pengertian, tentu dengan bahasa yang mudah untuk dipahami Aisyah. Kemudian mulai mengajaknya sholat.

2. Mengajak sholat

Biasanya, Aisyah sangat “moody”. Kalau diajak sholat, belum tentu juga ia bersemangat dan mau untuk sholat. Capek, ngantuk, dingin, bermacam alasannya. Maklumlah, ia memang masih kecil. Tetapi, aku tetap mengajaknya untuk sholat ketika waktu sholat tiba.

Ketika akan sholat maghrib berjamaah dengan Abi, aku berusaha menawarkan pada Aisyah untuk ikut sholat bersama. Karena waktu sholat maghrib pendek, dan seisi rumah seringnya sholat pada waktu yang bersamaan, Aisyah pun langsung mau diajak untuk sholat maghrib. Sholat maghrib adalah sholat yang paling sering dikerjakan Aisyah saat ini. Selain sholat dhuhur, yang dikerjakan bersama teman-teman di sekolah. Alhamdulillah.

Di sekolah formalnya, Aisyah juga sudah mulai dikenalkan pada sholat. Adab berwudhu dan gerakan-gerakan sholat, Aisyah sudah lumayan tahu, meskipun belum paham benar. Aisyah juga mulai hafal niat-niat dan bacaan sholat. Aku hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah diajarkan di sekolah, sehingga nantinya Aisyah memiliki kesadaran untuk menjalankan sholat tanpa perlu diperintah atau dipaksa.

Sholat berjamaah di kelas Aisyah. Foto dari Wali Kelas Aisyah.

3. Perlengkapan sholat anak

Perlengkapan sholat Aisyah adalah mukena dan sajadah. Agar Aisyah semangat untuk sholat, aku pun membelikan perlengkapan sholat yang bermotif untuk Aisyah. Aku membelikan satu set mukena bermotif bunga dan sajadah sekaligus tas bertuliskan nama Aisyah. Tujuannya agar Aisyah lebih bersemangat sholat, karena mukenanya lucu, sama dengan milik teman-temannya.

Saat ini, dipasaran memang banyak dijual mukena-mukena lucu. Tak mau kalah dengan mukena, sarung dan peci atau kopiah juga beragam sekarang. Dari mulai polos sampai bermotif tokoh kartun yang sedang naik daun sekarang ini. Memang, muncul pro kontra untuk mukena, sarung, atau peci anak bermotif tokoh-tokoh kartun dengan berbagai warna atau sering disebut mukena, sarung, atau peci karakter.

Selain yang bermotif, Aisyah juga punya satu mukena karakter yang dipakai di sekolah. Tetapi, sejauh tujuannya untuk memotivasi anak agar lebih bersemangat sholat, bagiku, maraknya perlengkapan sholat anak karakter bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan.

4. Membawakan mukena saat bepergian

Ngoyo!”

Tidak!”

Ketika akan bepergian, jauh ataupun dekat, yang sekiranya akan memotong waktu sholat, aku selalu membawa mukena. Selain memudahkan ketika sholat, membawa mukena sendiri akan lebih menyingkat waktu, daripada harus mengantre mukena. Biasanya mukenanya yang disediakan juga tidak terlalu terawat dengan baik.

Pengalamanku sebelumnya, ketika bepergian dengan Aisyah dan harus sholat maghrib di mushola sebuah supermarket, Aisyah tiba-tiba meminta untuk ikut sholat. Sedangkan, aku tidak membawakannya mukena. Aisyah pun tetap mau ikut sholat meskipun tanpa mukena. Sejak itu, setiap akan bepergian, aku selalu menawarkannya untuk membawa mukenanya sendiri.

Ternyata, ketika sholat bersama dengan banyak orang, justru menjadi semangat tersendiri untuk Aisyah. Selain itu, membiasakan Aisyah untuk mengerjakan sholat meskipun sedang tidak di rumah, nantinya dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri, bahwa saat sedang bepergian, sholat wajib juga harus tetap dikerjakan.

5. Cerita tentang keutamaan sholat

Agar Aisyah mulai belajar untuk mengenal apa itu sholat, dan kenapa umat muslim wajib mengerjakan sholat, cara termudahku adalah dengan membacakannya cerita-cerita tentang sholat. Biasanya, Aisyah memang meminta untuk dibacakan cerita, sebelum tidur atau saat ia sedang ingin membuka buku-buku ceritanya.

Saat-saat seperti itulah, aku bisa memasukkan penjelasan-penjelasanku tentang sholat dan lainnya tanpa membebaninya. Dengan bahasa yang dapat diterima dan dengan penjelasan yang sederhana. Yang penting Aisyah kenal dan mengerti, apa itu sholat. Dan jangan lupa selalu tutup dengan doa dari Q.S Ibrahim : 40, berikut ini.

Nah, itu semua adalah cara mudah yang aku lakukan untuk membiasakan Aisyah mengerjakan sholat sejak dini. Semuanya ada 5 cara mudah membiasakan anak sholat sejak dini. Agar kewajiban sholat tumbuh menjadi kesadaran, tanpa perlu merasa terpaksa atau terbebani. Semoga Allah SWT selalu meridhoi. Amin.

Semoga bermanfaat.

With love,

Tita

untuk #1minggu1cerita

Iklan

11 pemikiran pada “5 Cara Mudah Membiasakan Anak Sholat Sejak Dini

  1. Anak ck jg msh harus pembiasaan shalat. PR nya di aku sih… Kurang mengajak berjamaah… *habisnya kalau diajak, persiapannya s.d 30 menit… Y_Y

  2. Anak saya laki-laki umur 5 tahun. Sama, moody juga. Kadang pakai iming2, sholat dulu baru boleh main. Habis maem ngaji ya….
    Sabar yang ekstra ya Bunda Tita 🙂

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s