Surat untuk Bunda

Dear all,

Sejenak aku terhenyak, ketika sulungku datang menghampiriku dan menyerahkan sebuah surat yang ia tulis sendiri. Sulungku sudah besar sekarang, sudah mau masuk SD, sudah bisa membaca dan menulis. Sekarang akan lanjut menghafal ayat-ayat pendek, memahami huruf pegon, dan mulai menghafal juga kosakata dalam bahasa Inggris.

Sulungku ini memang cerdas. Ia anak yang manis. Tapi, dari segi kekuatan mental dan keberanian, aku masih perlu terus membimbingnya. Bukannya tidak berani di muka umum, bukan! Sulungku berani tampil. Sulungku berani berekspresi. Hanya saja, sulungku mudah menangis, bahkan untuk urusan sepele, kertas mainannya terinjak oleh bungsuku, sulungku yang cantik ini akan menangis. Aku bilang, sulungku ini melankolis.

Seperti petang itu, ketika aku sedang sangat-sangat lelah, sulungku tiba-tiba saja sesenggrukan dan menangis. Karena apa? Sepele! Kertasnya yang berwarna orange tidak bisa ia temukan. Kertas memang bagian penting dalam keseharian sulungku. Dengan kertas-kertas itu, sulungku berekspresi. Menulis, menggambar, ataupun menggunting.

Entah kenapa, petang itu aku seperti hilang ingatan. Ketika kertas yang ia cari tak bisa ditemukan dan kemudian sulungku sesenggrukan. Hal itu malah memicu emosiku, dan sontak aku berteriak, “Berhenti menangis! Bunda bosan mendengar kamu sedikit-sedikit menangis.”

Aku khilaf. Aku tau aku salah. Suamiku seketika itu menegurku. Iya, memang aku salah. Aku pun kemudian diam dan meninggalkan sulungku. Tangis sulungku makin pecah, ia juga memanggilku, tapi aku bergeming. Sambil lalu aku melihatnya bergegas meraih kertas-kertas mainannya yang berserakan. Selepas itu aku pun menyendiri, meredam emosi yang masih merajai nurani.

Tak selang berapa lama, sulungku menghampiriku. Aku terhenyak. “Maapin mbambak, Bun, mbambak tau mbambak salah”, seraya menyodorkan lipatan kertas yang ia buat khusus untukku. Aku masih terdiam. Lipatan kertas bertuliskan tangan, “Surat untuk Bunda.” Tulisan tangannya.

Jantungku seperti berhenti berdegup. Dadaku terasa penuh. Pelan-pelan aku membukanya. Ada tiga kertas buatannya. Kertas pertama berukuran besar dan berisikan tulisan tangan dan gambar hasil karyanya. Sedangkan dua kertas lainnya berukuran lebih kecil dan merupakan hasil karya guntingan sulungku yang membentuk hati. Aku trenyuh. Aku luluh.

Selembar surat tulisan tangan sulungku dan dua lembar guntingan berbentuk hati dan orang, yang juga buatan sulungku.

Kubaca tulisan tangannya. Mataku berkaca-kaca. Hatiku perih. Sulungku menuliskan permintaan maafnya dalam “Surat untuk Bunda.” Kupeluklah ia dengan segera. Kuciumi pipinya, dahinya, kepalanya. Aku bahagia. Aku bersyukur.

Sulungku mengungkapkan isi hati melalui tulisannya. Tulisan-tulisan kecilnya. Tulisan-tulisan tulusnya. Sama seperti yang sering aku lakukan, ketika bicara tidak tepat saatnya. Sulungku tahu betul bagaimana cara menyalurkan isi hati terpendamnya, ketika perkataan sudah tidak lagi didengar. Menulis!

Sulungku bukan anak yang pendiam. Sulungku kritis, berani bicara, dan menyatakan pendapatnya. Tetapi, kini aku juga sadar. Sulungku punya cara lain untuk mengungkapkan isi hatinya, ketika perkataannya tak lagi ada artinya. Aku bangga padanya. Aku bersyukur. Sulungku punya cara lain mengekspresikan pikiran dan isi hatinya. Dan ia tahu benar, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.

Teruslah begitu, Nak. Tulislah “Surat untuk Bunda” sebanyak yang kau mau. Biar bunda selalu tau isi hatimu. Biar bunda makin paham apa maumu. Biar bunda makin banyak belajar darimu. Ketika kita sedang tak satu arah. Ketika bunda sedang tak ingin mendengarmu. Menulislah dari hatimu. Menulislah dengan tulus. Tulislah apa yang ingin kau ungkapkan dari hatimu.

Ketika mulut kelu dan terkatup sekalipun. Hati tetap bernyali menggerakkan jemari untuk terus berekspresi. Kelak, biarkan dunia juga tahu, apa yang ada di hati kecilmu, melalui tulisan-tulisan tulusmu. Terus menulislah anakku sayang!

Semoga bermanfaat.

With love,

Bunda
untuk #1minggu1cerita

Iklan

2 pemikiran pada “Surat untuk Bunda

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s