Bersyukur

Dear all,

 
Ini semua hanya tentang aku, bukan tentang siapa-siapa. Yah, hanya tentangku.

 
Ini rumahku, dan aku hanya akan bercerita tentang aku dan orang-orang yang menjadi bagian dalam alur hidupku.

 
Kali ini, aku hanya ingin bersyukur. Itu saja. Tidak lebih.

 
Kejadian yang aku alami, lagi-lagi membuatku bertekuk lutut dan mengakui KuasaNya. Mengagumi cara Nya menegurku setiap kali aku mulai menjauh. Dan menyadarkanku akan keberadaan seseorang dalam hidupku. Yang memahami kesalku dan mengerti arti air mataku meski hanya seberkas.

Akupun kemudian bersujud, tertunduk, tersenyum simpul, dan mensyukuri nikmatNya.

 
Subhanallah Walhamdulillah Wa laa ilaha illallah Wallahu Akbar.

 
Aku bersyukur, karena Engkau, Allah, menyadarkanku bahwa aku masih punya tempat berkeluh kesah ketika aku pulang ke rumah.

 
Aku bersyukur, karena masih ada yang setia mendengar cerita hari-hariku. Yang terus menekan tombol dial di layar handphone nya dan membuat ponselku berdering sepanjang hari, ketika aku hanya mengirim pesan singkat, “I feel not good enough😭”

 

 

Aku bersyukur, karena ada seseorang di sisiku yang selalu berusaha menundukkan kekerasan hatiku, juga meredakan letupan-letupan emosiku. Dan membuatku merasa lebih “berharga”.

Aku bersyukur, dan aku sangat bersyukur karena aku selalu bisa menumpahkan semua isi hatiku, mengungkapkan semua mauku, dan menyatakan apa yang berkeliaran dengan liar di pikiranku.

Aku bersyukur. Engkau, Allah, menyadarkanku, bahwa aku tidak sendiri ketika harus mencerna perkara yang kadang kala datang menerpa. Pelik ataupun sepele sama-sama menggoreskan luka.

 
Aku bersyukur lagi karena aku didengar. Lelaki teduh yang tak punya nada tinggi dalam kamus intonasinya itu selalu mau mendengarku. Mendengar egoku, mendengar marahku, mendengar semua pengakuanku. Aku bersyukur karena itu.

 
Aku bersyukur karena ada yang tak pernah lupa mengingatkanku bagaimana aku harus bersikap. Bagaimana aku harus berteman, dan bagaimana aku harus memperlakukan orang-orang yang aku sebut “teman”.

 
Aku bersyukur karena yang berada di sisiku tak pernah berusaha membatasiku, tapi ia juga selalu memaksaku mendengarnya, ketika melihat dan menganggapku  “out of line“.

 
Aku bersyukur dan aku sangat bersyukur karena Engkau, Allah, tidak menulikan telingaku atau mengeraskan hatiku, sehingga aku masih mampu mendengar nasehat-nasehat, mendengar apa yang tidak aku tau, dan mendengar apa yang seharusnya “baik” dan tidak untukku, kemudian menata hatiku.

 
Dan setidaknya, dengan sering mendengarnya, lelaki sederhana itu selalu berusaha membuatku jauh dari sifat-sifat tercela yang seringkali merajai hati manusia, merajai hatiku. Sombong, egois, arogan, dan apapun itu namanya. Naudzubillah.

 
Dan aku lebih bersyukur karena dengan begitu aku juga akan terbiasa mendengar. Mendengar apa yang baik. Mendengar bagaimana seharusnya.

 
Aku bersyukur untuk itu.

 
Karena aku yakin, ada banyak manusia di luar sana, yang tak punya tempat bercerita, tak punya tempat berkeluh kesah, dan tak punya tempat meluapkan amarah. Sehingga ia juga tak pernah mendengar dan mungkin juga tak mau mendengar apa yang seharusnya ia dengar untuk kebaikan dirinya. Lalu, belajar menundukkan hatinya. Semoga aku dan seluruh keluargaku selalu terhindar dari hal yang demikian. Amin.

 
Subhanallah Walhamdulillah Wa laa ilaha illallah Wallahu Akbar.

 

Semoga bermanfaat.

 

 
With love,

Tita

 
Untuk #1minggu1cerita

Iklan

2 pemikiran pada “Bersyukur

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s