Parenting: Ketika Anak Belajar Memilih

Dear All,

Ini adalah cerita Aisyah tentang lomba kelereng 17an. Ketika beberapa waktu lalu ada seleksi di kelas untuk memilih siswa yang akan mewakili kelas dalam lomba kelereng, Aisyah mengaku bahagia ketika kelerengnya jatuh, ia berada di urutan terakhir, dan tidak mewakili kelasnya dalam lomba kelereng.

Akupun bertanya, “Kenapa bahagia? Apa ngga pengen ikut lomba? Trus menang gitu?
Dia pun kemudian berceloteh, “Mbambak sedih kalo lomba kelereng, Bun. Alhamdulillah kelerengku jatuh, hi hi hi, trus ngga jadi menang deh.”

Bagiku, aku, anak yang terbiasa dipacu (oleh orang tuaku) untuk selalu bisa, bisa, dan bisa sejak kecil, apa yang dilakukan Aisyah ini bukan hal yang normal. Tetapi, kalimat dia berikutnya justru membuat aku mengerti, mengapa kita tidak perlu terlalu “memaksakan” diri ketika apa yang kita lakukan memang di luar kemampuan.

Kok alhamdulillah?” tanyaku lagi.
Iya, alhamdulillah, karena mbambak emang ngga bisa gigit sendoknya di gigi. Gigi nya kan gerak-gerak hi hi hi. Tapi, nanti pas lomba mewarnai, mbambak mau gambar sebagus-bagusnya, Bun. Mbambak suka mewarnai soalnya.”

Its okey. The important point. Like or dislike. Anak punya hak memilih, absolutely 100%. Yang terkadang atau malah sering kita abaikan 😖 Usia Aisyah 7,5 tahun. Di usia itu, anak mulai tahu apa yang mereka mampu dan tidak mampu. Sebagai orang tua, kita juga harus belajar menghargai. Bukannya anak tidak mau berusaha lebih. Ketika sudah berusaha, tetapi masih tidak berhasil, arahkan anak untuk mengambil kesempatan lain yang disukai dan masih terbuka lebar.

Yang terpenting, ketika anak mengalami kegagalan, anak tidak terlalu memendam kekecewaan, sedih berlarut-larut, dan tidak mau berusaha lagi. Bantu anak mengelola perasaan atas kegagalan yang dialaminya. Termasuk cara menangani suara-suara sumbang dari lingkungan eksternal yang dapat menurunkan semangat. Juga mengelola “euphoria” keberhasilan ketika anak berhasil melakukan sesuatu.

Tugas kita sebagai orang tua adalah memompa semangat anak untuk melakukan apa yang ia sukai. Apa yang ingin mereka tekuni dan apa yang tidak. Beri anak wawasan tentang berbagai hal baru. Dari buku, internet, atau televisi. Ketika anak sudah menentukan pilihan, buatlah kesepakatan yang memotivasi anak untuk terus berani mencoba hal-hal baru. Kemudian, tanamkan kepercayaan pada anak, agar mereka mau berusaha yang terbaik atas pilihan-pilihan yang mereka buat.

Jadilah orang tua yang selalu positif, sehingga energi yang kita keluarkan untuk anak juga positif. Ayo belajar sama-sama 😄 Menerima anak kita apa adanya, dengan segala keberhasilan dan ketidakberhasilan. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Anak hanya manusia biasa, sama seperti kita.

Semoga bermanfaat.

With love,
Tita

Iklan

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s