Menakar Arah Politik Generasi Milenial

Dear all,

Hai, apa kabar?
Sudah bulan April sekarang ๐Ÿ˜

Pesta demokrasi 5 tahunan akan segera digelar di Indonesia. Tahapan demi tahapan sudah mulai berjalan. Gegap gempitanya pun mulai dapat dirasakan dengan menghangatnya suhu politik di tanah air. Para calon presiden dan wakil presiden, juga calon legislatif mulai bergerak menebarkan visi misi ke seluruh penjuru negeri.

Menariknya, gelaran pesta demokrasi saat ini justru lebih terasa gregetnya melalui sosial media. Saling serang dan saling mengungguli di sosial media menjadi satu hal yang sudah biasa. Demi satu tujuan, yaitu merebut hati dan suara “generasi milenial”. Generasi milenial adalah calon pemilih potensial dengan persentase hampir 40% dari keseluruhan jumlah pemilih.

Lantas, siapakah yang disebut generasi milenial?

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Karakteristik Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Kaum Millennial terlahir dimana dunia modern dan teknologi canggih diperkenalkan publik (Sumber : Wikipedia)

Generasi milenial ini rata-rata memilih profesi yang tidak jauh-jauh dengan dunia digital. Misalnya menjadi pengusaha online shop, wiraswasta, selebgram, youtuber, dokter, blogger, influencer, buzzer, freelancer, karyawan swasta, hingga berebut kursi ASN di kantor-kantor pemerintah. Meskipun tidak populer, tetapi formasi CPNS nyatanya tetap menjadi magnet tersendiri bagi sebagian generasi milenial.

Ketika ditanya tentang pandangan dan arah politik dalam lingkup pemilu presiden, salah satu generasi milenial yang berprofesi sebagai karyawan swasta menyatakan lebih memposisikan diri sebagai pemilih independen yang tidak condong pada partai tertentu atau lebih dikenal dengan pemilih nonpartai. Kredibilitas dan kualitas calon presiden dan wakilnya adalah penentu utama dalam menjatuhkan pilihan. Menurutnya, partai politik hanyalah mesin pendorong, menjadi bahan pertimbangan, tetapi bukan sebagai faktor utama untuk menjatuhkan pilihan. Faktor utama yang paling menentukan adalah para calon itu sendiri. Visi misi, rekam jejak, serta bagaimana cara para calon mempresentasikan dirinya juga menjadi pertimbangan penting.

Profesinya sebagai karyawan swasta dapat dikatakan memiliki posisi yang cukup “bebas” dari tekanan politik. Profesi yang juga mengharuskannya bersentuhan langsung dengan media sosial, membentuk karakternya sebagai calon pemilih yang kritis. Sosial media adalah sumber rujukan utama untuk menetapkan pilihan, terutama memilih calon presiden dan wakilnya. Ia termasuk calon pemilih yang cukup peka terhadap apapun yang menjadi viral dan trending topik di sosial media. Meskipun demikian, ia ingin tetap menjadi generasi cerdas yang tidak menerima begitu saja isu-isu politik yang terus “digoreng” serta sebaran-sebaran hoax di sosial media.

Generasi milenial lain, yang kebetulan tidak terlalu akrab dengan media sosial, mengandalkan televisi sebagai sumber informasinya. Ia tak terlalu terpengaruh dengan perang konten atau kiriman-kiriman di grup chat media sosial. Pada dasarnya, ia juga tidak terlalu memusingkan segala hal yang berkecamuk seiring makin memanasnya suhu politik dari hari ke hari. Baginya, faktor individu para calon dan latar belakangnya tetaplah menjadi pertimbangan utama, di samping visi misi yang diusung oleh masing-masing calon.

Dalam perjalanan proses demokrasi, mereka, para generasi milenial nonpartai memilih untuk tetap independen, tidak condong atau militan pada salah satu calon. Tidak terburu-buru menentukan pilihan, karena bagi mereka, memutuskan memilih adalah keputusan di balik bilik suara. Meskipun sudah memiliki arah menjatuhkan pilihan, tetapi netralitasnya masih tetap dikedepankan.

Memang, tidak mudah menakar arah politik generasi milenial nonpartai semacam ini. Bagi mereka, menjalankan pekerjaan sehari-hari dengan baik, lebih penting daripada membenamkan diri mengikuti arus politik yang nantinya belum tentu memberi “pengaruh” besar terhadap kehidupannya. Meskipun demikian, mereka tetap mengikuti perkembangan politik, kejadian-kejadian penting yang terjadi, serta isu-isu hangat, kemudian menjadikannya bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan nantinya.

Namun, tidak seluruh generasi milenial adalah pemilih nonpartai. Cukup banyak juga generasi milenial yang sudah jelas arah politiknya. Mereka memilih untuk terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang menjadi pendukung militan calon presiden dan wakil presiden. Atau hanya sekedar menjadi simpatisan loyal dari partai politik yang satu visi misi dengan mereka. Memanfaatkan kedekatan dengan media sosial, mereka pun membangun jaringan untuk menaikkan elektabilitas partai dan calon yang mereka dukung. Juga untuk mencuri hati dan merebut suara generasi milenial nonpartai yang belum menentukan pilihan.

Nah, semakin dekat dengan tanggal 17 April. Sudahkah kalian menentukan pilihan? ๐Ÿ˜‰ Jangan golput, ya ๐Ÿ˜˜

Semoga bermanfaat ๐Ÿ™

With love,
Tita

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s