Menjadi Orang Tua di Tengah Pandemi Covid-19

Dear all,

Saya menulis dengan kondisi kita yang berbeda. Pandemi covid-19 atau virus corona telah membalik kehidupan kita 180 derajat. Semua berubah, semua terdampak. Termasuk anak-anak dan cara belajarnya.

Sebulan lewat sudah. Dan saya mulai bosan dengan masih seringnya perdebatan tentang tugas anak.

Saya ibu rumah tangga yang juga karyawan swasta. Anak saya 2, dua-duanya sekolah. Kelas 3 sekolah dasar dan PAUD. Saya tidak duduk manis di rumah setiap hari. Sore hari saya baru sampai rumah.Tidak ada wfh dan tidak ada kerja shift untuk kantor saya. Suami juga bekerja, dengan model wfh per 2 hari, itupun kalau tidak ada panggilan untuk rapat dadakan. Anak saya di rumah dengan Embah nya yang tidak terlalu canggih memegang ponsel.

Karena pandemi, anak-anak harus “belajar” di rumah. Ingat “belajar” di rumah. Bukan “LIBUR”!

Saya hanya mau mengajak kita kembali sebentar, mengingat ketika seharusnya anak sekolah, belajar di kelas. Anak-anak masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 14.10 (sekolah anak saya). Anak akan belajar sesuai jadwal, satu hari bisa 3-5 mata pelajaran. Ini sistem pendidikan yang berjalan di negara kita. Ingat kembali, bahwa anak akan belajar, mengerjakan soal, praktek, menghafal dan sebagainya, sebanyak itu selama kurang lebih 7 jam. Setiap hari dengan libur 1-2 hari dalam seminggu.

Kenapa kita tidak mengeluh lalu protes anak belajar sekeras itu?
Kenapa sekarang setelah ada pandemi, kemudian anak “belajar” di rumah, kita ikut merasakan, kita mengeluh bahkan ada yang sampai menyalahkan guru? Kenapa baru sekarang kita stres ?

Sadarilah, bahwa apa yang kita lihat dan rasakan tentang tugas dan sebagainya adalah bagian dari sistem pendidikan yang berjalan di negara ini. Ya memang seperti ini yang anak-anak hadapi di sekolah selama 7 jam di kelas setiap hari, bertahun-tahun. Tapi kita tidak protes!

Apakah saya mengeluh? Iya
Apakah saya stres? Iya
Tapi apakah saya marah-marah? Tidak
Apakah saya protes pada guru? Tidak

Saya memilih menjadi orang tua yang berusaha mendukung anak agar anak tidak mengeluh, tidak stres. Saya memilih menjadi orang tua yang mengajak anak untuk menerima kondisi ini dan yakin bahwa kita bisa segera keluar dari pandemi ini. Saya memilih menjadi orang tua yang mengajarkan anak tetap semangat, pantang menyerah, dan tidak mudah mengeluh.

Untuk guru yang memberi tugas pada anak. Terimakasih masih mau memberi tugas pada anak-anak dan memastikan pendidikan tetap berjalan. Memang, tugasnya banyak, saya sampai kuwalahan. Tapi lagi-lagi ketika saya ingin marah, saya ingin protes, saya berfikir, ya memang seperti ini yang harus di dapat ketika di kelas. Ya memang ini yang harus dikerjakan anak ketika belajar di kelas. Atau malah lebih banyak lagi ketika belajar di kelas. Tapi anak tidak menyerah. Setiap pagi anak tetap berangkat sekolah. Kalau anak lelah lalu malas ke sekolah, justru kita yang teriak-teriak ke anak agar tetap berangkat. Betul tidak?

Ingat, anak-anak tidak sedang “LIBUR”, anak-anak tetap sekolah tapi di rumah. Apa yang belum tuntas di sekolah, tentu harus dilanjutkan di rumah karena sistem pendidikan ini masih harus berjalan. Pelajaran yang seharusnya selesai dalam 7 jam setiap harinya, dipindah di rumah, katakanlah jam efektifnya jam 7 pagi sampai jam 9 malam di rumah. Ada 14 jam, 2x lipatnya. Tapi ketika ada guru memberi dead line 24 jam sampai 3 hari untuk menyelesaikan tugas, kenapa kita masih marah?

🤦‍♀️Tepok jidat saya.

Halloo?

Sistem pendidikan di Indonesia dari dulu ya memang seperti ini, tugas, tugas, dan tugas. Nilai, nilai, dan nilai. Guru dan anak-anak kita adalah bagian dari sistem pendidikan yang demikian. Yang harus tetap dijalankan dengan segala konsekuensinya. Suka tidak suka. Guru mau tidak kasih tugas, tapi tetap diminta laporan pertanggungjawaban. Tetap diminta nilai, nilai, dan nilai. Masa mau dikasi nilai fiktif? Berdoalah agar nanti Mas Mentri akan segera memperbaiki sistem pendidikan di negara ini menjadi lebih baik. Saya tunggu ya Mas Mentri 😉

Bagaimana anak saya?
Apakah anak saya stres? Iya
Apakah anak saya mengeluh? Iya
Apakah anak saya pernah mogok mengerjakan tugas? Pernah
Apakah anak saya bosan? Iya jelas!

Yakinlah, bagi siapa saja ini TIDAK MUDAH! Pandemi ini meminta kita untuk menjadi orang tua seutuhnya, yang mendidik anak sendiri, mengarahkan anak sendiri, terlepas dari bantuan para guru. Naluri ke-orang tua-an kita dituntut untuk muncul saat ini.

Karena itu saya berusaha untuk tidak membiarkan anak-anak berlarut-larut meratapi keadaan. Biar orang tua yang stres tentang pekerjaan, urusan dapur, ekonomi keluarga yang sangat amat terdampak. Tapi jangan ajak anak-anak. Anak-anak harus tetap positif. Anak-anak harus tetap semangat. Jangan beri anak sugesti negatif tentang pandemi dan segala protokol yang diberlakukan untuk mengatasinya. Percayalah, apa yang menjadi kebijakan dari pihak terkait adalah untuk kebaikan kita semua.

Tetap beri anak semangat. Tetap ajari anak bermental kuat. Jangan beri anak sugesti negatif. Jadilah orang tua yang positif untuk anak-anak meskipun kita babak belur karena pandemi ini. Semoga pandemi ini segera berlalu dan semua kembali seperti sedia kala. Aamiin.

With love,
Tita

Silakan tinggalkan jejak di rumah Tita

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s